Pagi ini terasa begitu sejuk dan menenangkan. Embun pagi menandakan bahwa turunnya air langit tadi malam yang meneteskan diantara dedaunan dengan sinar mentari yang masih malu-malu untuk memancarkan cahayanya, menambah kesan perdamaian di senin pagi ini. Namun, ketenangan, perdamaian dan kesejukan itu sirna seketika, ketika siswa-siswi mulai memasuki kelasnya masing-masing dan akan bertempur dengan angka, rumus juga kalimat.
Ujian kelulusan akan dilaksanakan hari ini, dan tentunya ada dua kubu diantara siswa dan siswi. Kubu yang sudah siap melaksanakan ujian dan kudu yang belum siap melaksanakan ujian. Renjana pastinya masuk kedalam kubu yang belum siap karena dirinya belum mengulang pelajaran hari ini di rumah.
Tepat di bangku barisan ketiga jajaran keempat, Renjana terus mengeluarkan sumpah serapahnya untuk soal-soal yang membuat otak kecilnya harus berpikir demi menuntaskan jawaban. Berbeda dengan Renjana, Melvin justru lebih terlihat santai dalam mengerjakan soal. Dan Renjana selalu merasa iri dengan itu.
"Waktunya tiga puluh menit lagi."
Kalimat itu adalah kalimat yang paling Renjana tak suka, karena kalimat itu mampu membuat jantung berdebar dan otak kecilnya yang terus bekerja keras demi jawaban dari soal-soal yang tertera dalam secarik kertas di hadapannya.
"Anying, setengah jam lagi. Gue baru beres lima soal nyet, dua puluh lima soal lagi.. Kasian otak gue."
"Dua puluh lima menit lagi."
"Ya Allah, Ren harus apa? Tolong Ren ya Allah." Gumam Renjana, the real jalur langit.
"Apa ngasal aja ya? Tapi kan ini essay, gimana ceritanya gue ngasal? Apa tulis ulang aja ya soalnya? Ck! Tau ah pusing." Monolognya bertanya lalu melirik Melvin yang terlihat seperti tidak memiliki beban sama sekali.
"Stt! Bang! Bang Melv, Bang!." Panggil Renjana berbisik, dan si pemilik nama pun menoleh padanya.
"Nomor sepuluh apa?." Tanyanya berbisik.
Mendengar pertanyaan Renjana membuat Melvin kembali membuka kertas jawabannya, lalu kembali menoleh pada Renjana yang sedang menunggu kepastian.
"A." Ucap Melvin.
"Bangsat." Umpat Renjana yang membuat Melvin tertawa pelan, lalu anak itu memberikan secarik kertas kepada Renjana dan senyum manis pun mengembangkan seketika.
"Gitu dong, makasih Bang." Bisiknya yang dianggukki Melvin.
Jika dikelas IPA 2 terlihat Renjana yang kesulitan menjawab soal dan berakhir menyalin jawaban Melvin, berbeda dengan kelas IPA 3. Dikelas itu, terlihat Jovan Leo dan Gevin yang mengerjakan soal ujiannya dengan tenang dan santai tanpa ada kata menyalin jawaban diantara ketiganya.
Kelas itu hening, tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun kecuali Bu Rumi yang terus menghitung mundur menit.
•
•
•
"Gimana ujiannya tadi, lancar?." Tanya Melvin memecahkan keheningan di meja mereka.
Saat ini, kelima anak itu tengah berada di kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Lancar, Bang." Jawab Leo yang disetujui keduanya.
"Syukurlah." Ucap Melvin tersenyum bangga.
"Gak ada yang nyontek kan?." Tanya Melvin yang justru menyalakan gas LPJ disebelahnya.
"Gak usah nyindir lo bangsat!!."
Dan tawa pun terdengar dari meja itu.
"Gue cuman nanya, Ren. Gak nyindir." Ucap Melvin tersenyum miris seraya mengusap telinga kirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Teen FictionKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
