51 || Hari Itu Kembali Datang.

285 17 0
                                        

Pagi hari tepat pukul enam, terdengar suara riuh dari ambulans yang membawa raga Melvin pulang ke kost-an dengan keadaan tak berjiwa. Semuanya terdiam dan menatap sendu tubuh tinggi yang diturunkan dari ambulans. Semua yang hadir di sana ikut merasakan kehilangan untuk yang kesekian kalinya anak anak hebat itu rasakan. Mereka benar-benar tak menyangka, jika satu persatu dari tujuh anak itu pergi dengan jarak yang terhitung dekat.

Tepat tanggal dua puluh maret dua ribu dua puluh empat, kost-an yang terkenal dengan keceriaan dan tawa itu berduka atas kepergian salah satu dari mereka. Tanggal delapan belas september masih di tahun yang sama, penghuni kost-an itu kembali berduka atas kepergian Naka yang ternyata memilih untuk menyusul partnernya, Harsa. Dan saat ini, tanggal delapan april dua ribu dua puluh lima, kost-an itu kembali menjatuhkan air matanya atas kepergian sosok pemimpin seperti Melvin.

Didalam sana, terlihat Renjana yang terduduk lemas dengan air mata yang terus menetes dengan Jovan yang menjadi penopang tubuh kecil itu. Didekat tangga, ada Leo yang bersandar dengan Gevin yang mencoba untuk menenangkan anak itu. Tak lama kemudian, pihak sekolah turut hadir dan baru saja sampai juga berkata bahwa sekolah akan diliburkan selama dua hari agar keempat anak itu tak tertinggal ujian.

Tak jauh dari sana, wanita paruh baya yang sudah melahirkan Melvin ke dunia ini tergeletak tak sadarkan diri dengan Sella dan Raya yang berusaha untuk menyadarkan Melly. Di sana terdapat Ardipto yang menatap jasad putra semata wayangnya dengan tatapan kosong, pria paruh baya itu tak pernah menyangka bahwa dirinya akan kehilangan salah satu harapan dan tujuannya untuk hidup.

Selang beberapa menit, bunyi dering ponsel pun terdengar dan keempat anak itu sangat mengenali suara dering itu berasal dari ponsel siapa. Dengan cepat Jovan merongoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dengan baterai yang sudah terisi penuh dan menggunakan casing yang sama persis dengan milik Harsa.

Jovan terdiam seraya memandangi nama siapa yang telah menghubungi nomor Abangnya itu. Ia bingung harus bagaimana, hingga pada akhirnya Jovan meminta ijin kepada Ardipto dan pria itu mengijinkannya. Tanpa menunggu nunggu lagi, Jovan mengangkat sambungan itu dan terdiam. Ia benar-benar bingung harus berbicara apa padanya.

"Hallo, Assalamu'alaikum Letnan!."

Tak ada jawaban, Jovan terus berperang dengan pikirannya sendiri. Ia bingung harus menyusun kalimat seperti apa agar wanita yang berstatus kekasih sang Abang tak terkejut ketika ia memberitahunya.

"Letnan? Hallo? Kamu di sana?."

Lagi dan lagi, Alea tak mendapatkan jawaban. Karena kesal akhirnya Renjana mendekati Jovan dan merebut ponsel itu.

Renjana mengambil nafas dalam-dalam agar dirinya bisa lebih tenang dan mudah untuk berbicara.

"Hallo, Lea? Ini gue, Renjana."

Wanita yang berada diseberang sana terdiam.

"Letnan-nya kemana ya, Ren? Kok hpnya bisa sama lo?."

"Bang Melvin lagi tidur. Kalo boleh tau, lo lagi dimana?." Tanya Renjana.

"Tidur? Letnan sakit?."

Dapat Renjana dengar, wanita itu khawatir kepada pacarnya.

"Lo dimana?." Tanya Renjana mengulangi.

"Gue udah pulang ke Jakarta. Nanti kalo Letnan udah bangun, bilang sama dia ya? Tadinya gue mau ngasih kejutan sama dia, tapi setelah dipikir lagi kayak gue datang dihari kelulusannya aja dia bakal seneng banget kayaknya. Jadi gak sabar mau ketemu Mas pacar."

Renjana kembali menangis ketika mendengar ucapan Alea.

"Mending lo kesini aja. Bang Melvin pasti kangen banget sama lo." Ucap Renjana menahan isaknya.

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang