Tepat pukul lima pagi, jenazah Naka dipulangkan ke kost-an. Suara riuh dari ambulans membuat sekitarnya keluar dari rumah dan berkumpul didepan kost-an Merjasakalevin. Sama halnya dengan pemilik dan penghuni kost-an lain.
Dengan perlahan namun pasti, tubuh tinggi itu diturunkan dari ambulans. Jovan yang waktu itu membantu menurunkan Harsa, sekarang tubuhnya benar-benar lemas bahkan Melvin menuntun Jovan di setiap langkahnya.
Di sana benar-benar lengkap, bahkan orang tua mereka pun turut hadir pagi ini kecuali orang tua Gevin. Rian memapah putranya yang sudah berkali-kali tak sadarkan diri. Gevin berlari ke lantai atas dan menangis di sana. Pandangan Leo sangat kosong pagi ini, anak itu hanya diam tak bersuara dengan pelupuk mata yang terus mengalirkan butirannya.
Raga rapuh itu dibaringkan dengan karpet pink kesayangannya yang menjadi alas untuk ia tertidur. Jika Harsa tersenyum tipis maka Naka tersenyum dengan begitu lebar, lengkungan di bibirnya begitu indah sehingga membuat siapapun yang melihatnya akan ikut tersenyum juga.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun.. Telah berpulangnya, saudara Naka Artala Devilliano Arkana, bin Dean putra Arkana..."
Tangis kembali pecah saat mendengar suara itu. Sakit rasanya jika harus kembali kehilangan, kepergian Naka hanya selisih beberapa bulan saja dengan Harsa. Kenapa? Kenapa hari itu kembali datang? Sesulit itukah untuk mereka bahagia?
Bertahun-tahun mereka bersama, namun dengan beberapa bulan mereka kehilangan dua cahayanya. Sesak di dada terasa begitu menyakitkan, pasokan udara seperti enggan untuk mendekat. Keringat dingin tercampur air mata mengalir deras dengan tubuh yang bergetar lemas, lidah yang kelu sulit untuk mengeluarkan suara. Di hadapan mereka, tubuh itu terbaring dengan mata yang tertutup rapat. Senyuman terukir apik menyisakan kenangan yang menyakitkan. Di usap lah wajah tenang itu dengan lembut, belaian rindu terus di berikan untuk yang terakhir kalinya.
Tuhan, jika ini adalah saatnya, tolong ikhlaskan lah hati mereka yang terasa berat untuk menerima. Hilangkan lah rasa sesak di dada dan izinkan mereka untuk kembali mengukir senyuman, dan terimalah dua cahaya mereka di sisimu.
Alunan ayat suci AlQuran terdengar saling bersahutan mengantarkan jiwa tenang itu kepangkuan Tuhan. Ayat demi ayat telah di bacakan, gemericik hujan mulai berlomba turun membasahi bumi. Langit pun turut bersedih untuk menerima jiwa itu ke dalam pelukannya.
"Mas, minum dulu." Ucap salah satu tetangga mereka.
"Terimakasih, Bu." Melvin menerima gelas itu dan memberikannya pada Jovan.
"Minum dulu."
"Bang, gue kangen Nana."
Melvin menaruh gelas itu dan kembali meraih tangan Jovan. "Jovan.. Dengerin gue ya? Lo kehilangan, gue juga sama karena Naka juga Adek gue. Tapi lo gak boleh kayak gini, Jovan. Lo suka bilang, kalo lo gak mau bikin Nana sedih karena lo sayang banget sama dia kan? Lakuin sekarang, buktikan. Lihat Nana.. Nyenyak banget kan? Ayo dong semangat, ikhlasin Nana ya? Jangan bikin dia terbebani, lepasin, biarin Nana menjelajah. Do'ain yang terbaik ya? Kita harus ikhlas." Tutur Melvin seraya mengusap rambut Jovan lembut.
"Melv.. Gevin mana?." Tanya Tio yang tak melihat Gevin sama sekali.
"Di kamar, Bang. Biarin dia sendiri dulu." Jawab Melvin.
"Melvin, Ren, Jovan, Leo juga Gevin. Silahkan, puas puasin dulu lihat Naka-nya. Kami akan segera memakaikannya kain." Ucap Pak RT.
Sungguh sakit sekali rasanya di kala mereka mendengar perkataan itu, "Iya, Pak." Sahutnya terdengar berat.
Setelah itu, Melvin pun menatap Satria yang berada tepat di sampingnya. "Bang, gue titip Jovan dulu ya? Jangan di lepasin, takut ngereong soalnya."
"Iya, Melv. Tenang aja." Ucap Satria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Teen FictionKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
