62 || Takdir itu Rahasia.

91 10 1
                                        

Homelist! Happy Reading...


Setelah dekapan itu terlepas, Renjana, Gevin dan Leo tersenyum tipis saat melihat Jovan yang tertidur dengan lelap.

"Kalian belum makan kan?." Tanya Renjana yang dianggukki kedua Adiknya.

"Yuk turun, kita makan dulu." Ajak Renjana dan mereka pun keluar dari kamar membiarkan Jovan tertidur dengan nyaman.

"Tadi gue masak sayur asem, tempe orek sama sop bening buat Jovan makan. Lagi males masak soalnya, gak papa kan?." Ucap Renjana seraya menyiapkan alat makan dan lauk-pauknya.

"Gak papa, Bang. Apapun yang lo masak, itu adalah makanan favorit kita." Ucap Leo.

"Masakan lo emang selalu enak, Bang." Puji Gevin setelah mencicipi sayur asem buatan Renjana.

"Makasih, ya.." Renjana tersenyum senang.

"Abang gak makan?." Tanya Leo ketika melihat Renjana yang berjalan menjauhi ruang makan.

"Sok aja, gue mau ke wc dulu." Jawab Renjana.

Leo mengangguk lalu mulai menikmati masakan Renjana yang selalu lezat baginya. Ujung matanya tak sengaja melirik Gevin yang melamun disebelahnya, lantas Leo pun menegurnya.

"Lo kenapa? Makan yang bener, jangan bengong gitu."

"Gue jadi kepikiran sama ucapan Bang Jovan. Kok bisa-bisanya dia nitipin pacarnya ke gue, padahal dia masih bisa jaga cewek itu." Cibir Gevin.

"Gue juga gak ngerti sama dia, udahlah jangan terlalu dianggap. Bang Jovan lagi overthinking mungkin, takut ceweknya direbut orang, makanya dia nitipin ceweknya ke lo." Sahut Leo.

"Kalian lagi pada ngomongin apa sih? Asik banget kayaknya." Tanya Renjana yang baru saja kembali dari toilet.

"Enggak kok, Bang." Jawab Leo mengelak.

"Gevin, gak usah terlalu dipikirin omongan si Jovan mah, emang lagi ngelantur anaknya." Ucap Renjana tiba-tiba.

Setelah selesai dengan makan petangnya, Renjana bersama kedua Adiknya berkumpul di ruang tengah dengan televisi yang menayangkan sebuah drama aksi dari negeri bambu. Tak lama kemudian, si bungsu merebut remot televisi dan menggantinya dengan film kartun kesukaannya membuat Renjana menghembuskan nafasnya kasar.

"Si paling botak kembar." Cibirnya yang sama sekali tidak dipedulikan si bungsu, Leo yang melihat itu pun lantas cekikikan.

Beberapa menit kemudian, suara adzan maghrib pun berkumandang dengan sangat merdu. Sesekali Renjana dan Gevin menyahuti setiap lantunan yang dikumandangkan. Setelah adzan selesai, Renjana dan Gevin pun langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Leo bangkit dari duduknya lalu membawa langkahnya untuk menghampiri Jovan yang ternyata masih bergelayut manja dalam mimpinya.

"Bang, bangun udah maghrib." Ucap Leo, namun tak mendapatkan respon dari Jovan.

"Aish! Bang! Bangun ih. Tadi katanya bangunin pas udah adzan, sekarang susah buat dibangunin." Gerutu Leo.

"Bang! Bang Jovan!." Lalu Leo pun mulai mengguncangkan tubuh Abangnya itu, namun sama sekali tak membuahkan hasil.

"Bang? Bang Jov kok tumben susah dibangunin? Ayo ih! Sholat dulu." Lagi dan lagi Leo tak mendapatkan respon.

"Ah! Bodo, lima menit kemudian gue balik lagi." Akhirnya Leo pun pasrah dan keluar dari kamar itu.

Saat Leo akan memasuki kamarnya, ia melihat Renjana dan Gevin yang sedang melaksanakan kewajibannya pun lantas mengurungkan diri dan bergeser pada kamar Naka dan Harsa yang ternyata tidak Renjana kunci.

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang