Suasana ramai melanda taman belakang sekolah SMA Bina Puspita. Banyak sekali siswa-siswi yang berkumpul di sana, suara tawa begitu terdengar menggema di setiap penjuru taman.
Tepat didekat pohon rindang, Merjasakalevin duduk melingkar di sana mengelilingi beberapa makanan yang mereka beli sebelumnya juga ponsel Gevin yang berada di tengah-tengah mereka.
"Cepet eh! Lama bener, ini bentar lagi gue menang nih." Celetuk Renjana yang tak sabaran.
"Santai Mas bro, ini juga mau jalan kok." Ucap Harsa dan menekan salah satu pion di game ludo yang sedang Harsa, Renjana, Leo dan Jovan mainkan.
"Si goblok, diitung ya lo?!!." Pekik Renjana ketika pion Harsa berhasil mematikan pion miliknya.
"Sembarangan! Ya gue kira punya lo aman." Ucap Harsa yang ikut kesal.
"Ih si anjir! Ulang lagi kan? Padahal bentar lagi menang itu, ah! Ngeselin lo." Gerutu Renjana.
"Ya udah sih, tinggal ulang aja." Sahut Leo.
"Gampang banget tuh mulut ngomong! Dapet enam itu susah cok!." Pekik Renjana.
"Ya sabar makanya!." Ucap Jovan.
"Gak! Gue gak bisa sabar, pokoknya gak mau tau gue kudu menang!." Kukuh Renjana yang tak bisa diganggu gugat.
"Ya Allah.. Capek sekali diriku ini berteman sama mereka." Lirih Naka yang duduk bersandar pada pohon dibelakangnya.
"Namanya juga permainan, Ren. Kalo ada yang menang pasti ada yang kalah. Jadi lo harus berusaha biar menang, tapi kalo kalah ya jangan pundung." Tutur Melvin seraya memasukkan kripik kedalam mulutnya.
"Dengerin! Lo mah emosian. Sabar, Ren, sabar." Ucap Harsa.
"Diem lo!."
"Jadi ini mau lanjut apa enggak?." Tanya Jovan yang sedang menunggu Harsa untuk memutar dadunya.
"Lanjut!." Seru Renjana yang bersamaan dengan Harsa.
"Oke, maju Sa." Ucap Jovan.
Dan Harsa pun mulai memutar dadunya dan mengatur pion miliknya. Lalu disusul oleh Leo, setelah itu Jovan dan baru lah Renjana. Namun pion milik Renjana belum bisa keluar karena ia mendapatkan lima dari titik dadu yang ia putar tadi.
"Ish! Keluar dong." Kesal Renjana.
"Sabar elah! Noh pion lo udah masuk tiga, makanya jangan maruk jadi mati kan?." Celetuk Harsa.
"Ya siapa suruh lo matiin pion gue?."
"Ya mana gue tau, pion gue jalan sendiri."
"Au ah! Susah keluar jadinya."
"Pas pembagian sabar, gue curiga lo malah ngopi deh." Gumam Harsa berceletuk.
"Maksud lo?!."
"Ya lo emosian, sumbu kok pendek." Cibir Harsa yang tiada hentinya.
"Hih! Gue telen juga lo." Gereget Renjana.
"Udah! Ini kenapa malah lanjut part dua sih? Gue ambil juga tuh HP." Ucap Gevin lelah.
"Elo sih!." Tuduh Renjana.
"Loh! Kok gue?." Tanya Harsa tak terima.
"Siapa suruh lo matiin gue? Jadi gak keluar keluar kan pion gue."
"Udah di bilang jalan sendiri, siapa suruh lo naro pion di sana?."
"Ya mana gue tau, pionnya jalan sendiri."
"Ya udah sih, gue juga sama."
"Udah stop! Diem kalian! Pusing gue dengernya." Ucap Naka menengahi.
"Gue hapus juga tuh game." Ucap Gevin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Teen FictionKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
