Prang!!.
Sebuah vas bunga hancur berkeping-keping tanpa tersisa. Di dekat pecahan itu, terdapat seorang anak kecil yang meringkuk gemetar ketakutan. Racaunya terus memanggil sosok wanita cantik yang sama sekali belum pernah ia tatap wajahnya. Matanya berair, kakinya lemas, ia bersimpuh diatas dinginnya lantai.
Terlihat sosok pria paruh baya yang berdiri dihadapannya dengan mata yang memerah menatap tajam kepada anak kecil yang sudah bersimbah darah akibat ulahnya, dada yang naik turun, tangan yang terkepal erat dan terdengar gertakan dari gigi yang saling bersahutan, menyiratkan kemarahan yang tidak terbendung lagi, dengan makian yang terus terlontar dari mulutnya.
"Sudah nilai jelek, tak tau diri, memalukan!!."
Bugh!.
Sebuah tendangan anak itu dapatkan di kakinya. Ia tak bisa apa-apa selain mengeluarkan air mata, dan hal itu membuat si pria paruh baya semakin marah padanya. Tubuhnya semakin lemas, darah terus menerus keluar dari hidungnya. Tak ada yang membela anak kecil itu, mereka benci padanya. Bahkan, beberapa pegawai di rumah itu pun tak peduli dengannya. Namun masih ada satu yang menyayanginya, Bi Karti. Asisten rumah tangga yang ditempatkan sebagai juru masak di rumah itu.
Namun apalah daya. Dirinya hanyalah pembantu di rumah itu. Bi Karti hanya bisa menangis menatap seorang anak kecil yang ia rawat sedari bayi, mendapatkan cacian, makian, hinaan, dan siksaan dari Ayahnya sendiri.
"Anak sialan seperti kamu, tidak pantas untuk hidup!." Tekannya.
"Harusnya kamu tidak lahir. Dan harusnya istri saya masih ada di rumah ini. Tapi apa? KAMU MEMBUNUHNYA!!."
"Enggak, Ayah!! Gala gak pernah bunuh Bunda, Gala bukan pembunuh."
Dengan suara yang bergetar. Anak kecil itu memberanikan diri untuk membela dirinya sendiri, karena jika bukan dirinya, maka siapa lagi yang akan membelanya? Dengan tubuh yang lemas, ia berusaha untuk bangkit dan berdiri tegak di hadapan pria itu.
"OMONG KOSONG! Buktinya istri saya meninggal setelah kelahiran kamu!! GARA-GARA KAMU, ISTRI SAYA PERGI UNTUK SELAMANYA, GALA! Itu semua karena kamu. Anak pembawa sial!." Sentaknya membuat anak itu seketika memejamkan matanya.
Plak!
Telapak tangan lebar dan kekar itu, dengan ringannya mendaratkan tamparan yang begitu keras di pipi seorang anak berusia sepuluh tahun. Tanpa belas kasihan, pria paruh baya itu menambah luka di tubuh putra kandungnya sendiri.
"Ayah, Gala ini anak Ayah. Kenapa Ayah jahat sekali sama Gala? Sakit Ayah, tubuh Gala sakit. Sudah cukup, Ayah. Jangan sakiti Gala terus, Gala gak kuat, Ayah. Gala minta maaf.. Tapi Gala gak pernah bunuh Bunda, Ayah. Kalo Gala boleh minta, Gala gak mau dilahirin kalo cuman harus diperlakukan seperti ini. Gala juga manusia, Ayah,"
"Gala bisa merasakan sakit, sama seperti Ayah. Kalo Ayah marah, Ayah benci sama Gala karena kelahiran Gala membuat Bunda pergi untuk selamanya. Terus Gala harus marah dan benci sama siapa, Ayah? Gala gak pernah ngelihat Bunda, Gala gak tau gimana rasanya punya Bunda. Bahkan sekarang Gala cuman punya Ayah, tapi kenapa Ayah gak peduli sama Gala?." Tuturnya bertanya.
Hatinya sangat sakit, dadanya terasa begitu sesak. Ia hanya ingin Ayah sayang padanya.
Bugh!
"Sampai kapanpun, SAYA TIDAK AKAN SUDI MEMILIKI ANAK SEPERTI KAMU! Ingat itu." Sentaknya setelah memukul perut anak itu.
Pria itu berjalan meninggalkan putranya yang tergeletak tak berdaya dengan lantai dingin sebagai alasnya. Perlahan, mata indah itu mulai tertutup beriringan dengan suara ringisan yang keluar dari mulut kecilnya. Ia berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya, namun ternyata kegelapan berhasil merebut kesadaran itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Teen FictionKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
