60 || Diomelin.

233 11 2
                                        

Langit senja dengan derasnya air hujan yang menyelimuti, disertai angin kencang yang mampu menggoyangkan pepohonan kesana kemari. Jalanan kota metropolitan dipenuhi kendaraan yang melaju kencang bersama air langit yang terus mengguyurnya, menciptakan deburan kecil dari genangan air yang di pijak oleh kendaraan.

Sudah hampir sepuluh menit seorang pemuda pengendara sepeda motor menepi akibat derasnya hujan yang kapan saja bisa membuatnya jatuh sakit. Pemuda April itu berteduh di sebuah halte busway guna menunggu hujan yang juga tak kunjung mereda dari semenjak ia duduk di sana hampir sepuluh menit lamanya.

Hembusan nafas dalam terdengar darinya. Berkali-kali ia menggosokkan kedua telapak tangannya guna mencari kehangatan diantara dinginnya alam sekitar. Tubuh yang menggigil dibalik hoodie hijau mint milik si pengagum hujan yang ia gunakan untuk ke kampus. Ia mengangkat kepalanya menatap air langit yang berlomba-lomba untuk turun membasahi bumi, lalu pemuda itu pun berdecak kesal dan bangkit dari duduknya.

"Lanjut aja lah, nunggu reda lama juga anjir." Putusnya, lalu duduk di motornya dan mulai perlahan menjalankan sepeda motor itu.

Suara deru motor yang khas pun terdengar dan perlahan-lahan mulai hilang dari indra pendengaran. Jovan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, di dalam ransel yang berada di punggungnya, ia mendengar ponselnya berbunyi tanda ada yang menghubunginya dan dapat ia yakini bahwa Renjana lah yang menelponnya.

Hujan semakin deras, membuat Jovan semakin menambah laju motornya. Sekitar dua puluh menit ia habiskan dijalan, akhirnya ia pun sampai di halaman kost-an. Dapat ia lihat, seorang pemuda berdiri di depan pintu dengan tangan yang bersilang dada dan tatapan yang lurus menusuk netranya. Sepertinya, pemuda itu sudah siap memarahinya.

"Assalamu'alaikum." Salamnya ketika ia menginjak lantai teras kost-an itu.

"Wa'alaikumsalam." Sahutnya dengan wajah datar.

"Ren, tadi gu—"

"Bagus! Telpon gak diangkat, chat gak dibales, hujan diterobos, pake hoodie tipis kayak gini. Mau sakit? Hah?." Potong Renjana membuat Jovan menunduk seketika.

"Sekarang, masuk! Lepas hoodie nya dan mandi."

Tanpa membantah perintah Renjana, Jovan berlari memasuki kost-an lalu melepas hoodie yang ia pakai dan menyimpannya ditempat pencucian. Setelah itu, ia pun bergegas menuju kamarnya untuk mandi. Setiap aktivitas yang Jovan lakukan, tak luput dari pandangan seorang Renjana. Leo yang duduk di sofa menatap kedua Abangnya penuh dengan kebingungan.

"Gevin mana?." Tanya Renjana tanpa mengalihkan pandangannya dari Jovan yang sudah masuk ke dalam kamar.

"Masih di kamar. Lagi main game kayaknya." Jawab Leo.

Renjana mengalihkan pandangannya dan menatap Leo yang juga menatapnya.

"Lo gak main game?."

"Males, Bang."

Renjana manggut-manggut tanda mengerti. Pemuda Maret itu mendudukkan dirinya disebelah Leo, lalu mengusap lembut rambut belakang Adiknya itu.

"Tumben males main game. Ada apa? Berantem ya?." Tanya Renjana menebak.

"Enggak, cuman kesel aja." Jawabnya.

"Ya udah kalo gitu." Putusnya lalu kembali bangkit dari duduknya.

"Kemana, Bang?." Tanya Leo.

"Ke dapur, mau makan apa?." Jawabnya lalu bertanya.

"Apa aja deh, Bang."

Renjana mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur dan mulai berkarya di sana. Tangannya yang terampil itu bergerak dengan lincah. Ia meraih pisau dengan beberapa butir perbawangan dan mulai memotongnya perkecil. Beriringan dengan itu, Renjana memasak nasi, beberapa telur dan membuat racikan bumbu untuk penyedapnya.

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang