61 || Kembali Berharap.

128 8 3
                                        

Happy Reading guys!!!

Pagi ini, mentari sudah menampakkan cahayanya. Langit biru terlihat begitu cerah, angin terhembus hangat menyapa kulit. Di dalam kamar dengan cahaya yang remang-remang, terdapat seorang pemuda yang masih terbalut selimut tebal dan mata yang tertutup. Masih di dalam kamar yang sama, terlihat pula seorang pemuda yang tengah bercermin dengan pakaian yang sudah rapi tanda siap untuk berangkat kuliah.

Setelah selesai dengan urusan cerminnya, pemuda itu berbalik badan dan mendekati teman sekamarnya yang masih terbaring diatas kasur. Sudah terhitng hampir satu minggu, pemuda itu terserang demam tinggi namun ia terus menolak untuk dibawa ke rumah sakit, jadi Dokter lah yang datang ke rumah. Tangan mungil itu terulur lalu menempelkannya di pelipis pemuda yang tengah terbaring itu. Setelahnya, pemuda bertubuh mungil itu bergegas keluar dari kamar lalu menghampiri dua pemuda yang ia sebut sebagai Adiknya. Dapat Renjana lihat, Adik-adiknya itu sedang menikmati sarapan pagi.

"Guys! Kayaknya hari ini gue absen dulu deh." Ucapnya yang berhasil merebut atensi kedua Adiknya.

"Tiba-tiba?." Tanya Leo bingung, lalu meraih segelas air disebelahnya.
"Iya, maaf ya? Tolong bilangin juga ke temen sekelas gue, soalnya gue gak mungkin ninggalin Jovan sendirian. Badannya panas banget." Jelas Renjana.

"Kalo gitu, kita juga mau absen aja Bang." Ucap Gevin yang sudah selesai dengan sarapannya.

"Heh! Enak aja, kalian berangkat sana. Jangan ikut-ikutan, masih kecil juga. Gak boleh absen." Ucap Renjana mengomeli.

"Bang, kita khawatir sama Bang Jovan. Janji besok kuliah." Ucap Leo.

"Gini aja, hari ini gue absen dan kalian berangkat. Besok kalo Jovan masih sakit, salah satu dari kalian absen buat nemenin dia. Gimana?." Ucap Renjana mengajukan penawaran.

"Oke, deal!." Ucap keduanya setuju.

"Ya udah, sana berangkat. Hati-hati."

"Oke, kalo ada apa-apa kabarin ya?." Ucap Gevin.

"Iya, pasti gue kabarin." Balas Renjana.

"Salim dulu." Ucap Leo mengulurkan tangan.

Renjana tertawa kecil lalu menerima uluran tangan itu dan Leo pun menyalami punggung tangan Abangnya. Sama halnya dengan Leo, Gevin tentu tak ingin tertinggal. Pemuda jangkung itu mencium punggung tangan Renjana, lalu tersenyum.

"Assalamu'alaikum, Abang." Salamnya, lalu menarik tangan Leo dan mulai melangkah keluar dari kost-an.

"Wa'alaikumsalam, hati-hati kalian. Gevin, jangan ngebut!." Sahut Renjana lalu tersenyum ketika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu itu.

Hembusan nafas terdengar lirih, pemuda Maret itu berjalan gontai menaiki tangga dan menghampiri pemuda April yang sedang berbaring di tempat tidur. Renjana duduk di ujung tempat tidur itu seraya mengusap rambut hitam legam milik sang Adik, dan hal itu membuat pemuda April terbangun.

"Lo gak ngampus, Ren?." Tanyanya dengan suara parau.

Renjana tersenyum lalu menjawab. "Enggak."

"Lo kuliah aja gih, gue udah gak papa kok." Titahnya.

"Enggak ah, males." Sahut Renjana, namun raut wajahnya tidak berkata demikian.

Jovan menghembuskan nafas pelan, ia menatap Renjana sejenak. "Dua bontot, mana?."

"Mereka kuliah."

Hembusan nafas lirih terdengar dari Jovan. "Maaf, Ren."

"Maaf? Emang lo bikin salah apa?." Tanya Renjana bingung.

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang