Tepat pukul delapan setelah selesai menunaikan ibadah sholat isya, semua yang ada didalam kamar Renjana dan Jovan kecuali Leo, mengaji bersama mengelilingi pemuda dengan raga tak bernyawa yang berbaring diatas tempat tidur miliknya. Lantunan setiap ayat yang dibacakan mengisi keheningan kamar itu, cahaya artala turut membantu menerangi redupnya cahaya kamar tersebut. Isak tangis terdengar pilu turut mengiringi setiap lantunan ayat alquran. Tak jauh dari sana, terdapat Leo dengan tangan yang saling menggenggam dan mata yang tertutup, turut serta dalam mendoakan kepergian seorang pemuda tampan bernama lengkap Jovan Dipta Adibrata.
"JOVAN!."
Namun mereka berhasil dikejutkan dengan suara berat yang meneriaki nama pemuda yang berbaring diatas tempat tidur itu. Dengan segera, Renjana bangkit dari duduknya dan hendak melangkah untuk menemui si pemilik suara berat itu. Namun Agam menahannya.
"Biar gue aja." Begitu ucapnya.
Renjana hanya bisa mengangguk tanpa ada keinginan untuk membantah, setelah itu Agam pun keluar dari kamar dan Renjana melanjutkan membaca alquran.
"Yang mana?." Tanyanya pada Gevin yang duduk disampingnya. Si Adik menunjukkan ayat yang tengah ia baca dan Renjana pun melanjutkannya.
Brak!
Mereka yang menunduk pun lantas mengangkat kepalanya ketika mendengar suara pintu yang dibuka secara paksa, mereka menghentikan lantunan ayat alquran yang mereka lantunkan saat itu juga. Dapat mereka lihat, seorang pria paruh baya dengan tinggi semampai dan bertubuh tegap itu berdiri mematung ditempatnya. Lalu wanita paruh baya yang tengah menangis pilu pun menghampiri putra tunggalnya yang sudah tak bernyawa itu.
"Jovan.." Lirihnya memeluk tubuh kaku sang putra.
"Nak, ini Bunda, sayang. Bangun, nak. Anak Bunda harus bangun, jangan tinggalin Bunda, sayang.." Tangis pilu sang Bunda terdengar menyesakkan dada, membuat Renjana tak kuasa menahan air matanya.
"Ren, apa yang terjadi? Kenapa anak saya bisa seperti ini? Apa yang terjadi padanya? Jovan kenapa? Ren? Jawab saya, saya butuh jawaban atas apa yang telah terjadi kepada putra saya. Jawab saya, Ren." Jendra terus mendesak Renjana untuk membuka suara, namun yang ia dapatkan hanya tatapan kosong dari pemuda dihadapannya.
"Jendra! Jangan mendesak putra saya." Tekan Rian yang juga datang ke kost-an itu.
"Ren. Jawab saya!." Jendra tak hentinya mengguncangkan lengan Renjana meminta jawaban, tanpa mempedulikan ucapan Riandra.
Tatapan kosong itu berubah menjadi cemas, kepalanya terasa begitu sakit, telinganya berdenging, nafasnya memburu. Perlahan Renjana melangkah mundur untuk menghindari Jendra, pertanyaan itu sungguh membuatnya takut. Berkali-kali pemuda itu menggelengkan kepalanya, namun Jendra terus melontarkan pertanyaan yang membuat Renjana semakin merasa tertekan, cemas dan takut.
"Om, jangan tekan Bang Ren kayak gitu. Kalo Om mau bertanya, pelan-pelan. Jangan terburu-buru kayak gini." Ucap Gevin yang menyadari bahwa kini Renjana sedang berkecamuk dengan gangguan kecemasan yang tiba-tiba menyerangnya akibat pertanyaan itu.
"Kenapa anak saya bisa seperti ini? Hah? Kamu sudah berjanji untuk menjaga Jovan, tapi apa? Anak saya sudah tidak ada." Tanya Jendra dengan kata lain pria paruh baya itu seakan menyalahkan Renjana atas kepergian putranya.
Telinga Renjana semakin berdenging, kepalanya sakit. Pemuda itu terus melangkah mundur hingga punggungnya terbentur pada dinding kamarnya. Dadanya naik turun tak beraturan, Renjana benar-benar ketakutan. Revina yang melihat putranya tersudutkan pun bergegas menghampiri dan hendak memberikan pelukan hangat untuk putranya, namun Renjana menolaknya dengan perasaan was-was.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Novela JuvenilKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
