Katanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya.
Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
Dinginnya hembusan angin di tempat itu, mampu membuat siapapun memeluk dirinya sendiri guna memberikan kehangatan diantara derasnya air hujan. Tempat tenang penuh kenangan itu kembali membawa dua yang tersisa dan menguburnya diantara empat gundukan yang beberapa hari lalu di taburi campuran bunga oleh tangan yang dikebumikan. Seikat bunga lavender, bunga lily, bunga tulip, dan setangkai bunga mawar putih masih terlihat segar di setiap gundukan yang diberikan.
Seorang pemuda malang yang baru saja diizinkan untuk pulang itu bertekuk lutut di hadapan enam gundukan tanah yang berjajar rapi dengan enam nisan yang tertulis jelas nama enam orang yang begitu berharga didalam hidupnya. Suara gemuruh petir begitu menggelegar seakan menyuarakan isi hatinya, derasnya air hujan menyamarkan setiap butiran bening yang jatuh dengan deras dari pelupuknya.
Pemuda itu menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan dan dengan sisa tenaganya ia bangkit lalu kembali menghembuskan nafasnya perlahan. Dalam hati ia mencoba untuk menyakinkan diri dan perlahan senyum tipis pun terukir diwajahnya. "Bisa. Gue pasti bisa," monolognya dengan yakin lalu mulai melangkah meninggalkan tempat itu dengan setangkai bunga mawar hitam yang ia jatuhkan tepat di samping batu nisan yang tertulis nama 'Renjana Cakra Biantara'.
-End-
Akhirnya ... Setelah sekian lama ia terjebak dalam labirin tak kasat mata, malam ini kata 'ending' berhasil ia tulis untuk mengakhiri kisah orang-orang baik yang selalu menemaninya dalam imajinasi. Gevin tersenyum, ia berhasil keluar dari zona nyamannya.
Kini, ia sadar. Skizofrenia paranoid yang dideritanya mampu membuatnya tak dapat membedakan antara kehidupan nyata dan kehidupan di bawah alam sadar, namun ia berhasil menjadikannya sebuah karya yang tidak dapat ia lupakan sepanjang hidupnya.
Our Home— adalah sebuah judul yang ia berikan untuk karyanya.
Hembusan nafas berat menyapa setiap sudut ruangan itu, Gevin menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Saat hendak memejamkan mata, suara seseorang memanggil membuatnya beranjak dari tempat duduknya.
Gevin berjalan gontai menuruni anak tangga, dapat ia lihat terdapat Tio, Agam, dan Satria di ruang tengah. Tiga pemuda itu tersenyum menatap Gevin yang datang dengan sorot mata sendu, wajahnya terlihat lelah sepertinya pemuda itu kembali terjaga; pikir mereka.
"Gevin, sekarang lo gak sendiri lagi di sini." ucap Agam, alis Gevin mengerut bingung.
Menyadari bahwa Adik kostnya kebingungan, Tio pun menunjuk seorang pemuda dengan gitar di punggungnya. Pemuda berkulit tan itu tersenyum lalu melambaikan tangan menyapa dengan penuh semangat.
"Hai, gue penghuni baru kost ini." ucapnya seraya berjalan menghampiri Gevin dan menyodorkan tangan, dengan penuh kebingungan Gevin pun menerima sodoran tangan itu singkat.
"Gue Harsa, Harsa Haikal Nugraha."
Harsa ... Gevin tertegun kala mendengar nama itu. Bagaimana tidak? Harsa adalah nama dari salah satu karakter imajinasinya. Gevin memandangi pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, persis sekali dengan Harsa-nya. Bagaimana ini menjadi mungkin? Apakah ini adalah sebuah kebetulan?
"H-Harsa?" tanya Gevin memastikan, pemuda itu mengangguk semangat.
"Iya, gue Harsa. Tapi kalo lo mau, lo bisa panggil gue Asa. Gue dari Bandung, kebetulan gue kuliah di daerah sini. Gue ngambil jurusan musik, karena gue suka musik, kalo lo? Oh iya," ucapnya tanpa jeda lalu menoleh ke arah pintu. "NA! Cepet atuh," panggilnya, lalu tak lama seorang pemuda lain muncul dengan senyum lebarnya.
"Dia Naka, sahabat gue. Dia anak kedokteran karena katanya dia pengen jadi dokter bedah, dia tuh orangnya—"
"Udah atuh ih! Nyerocos mulu dari tadi," tegur Naka.
"Iya tuh, ibaratnya kalo dia tenggalam yang selamat cuma mulutnya." celetuk seseorang yang baru saja masuk dengan koper besar bersamanya.
Pemuda bernama Harsa itu mendelik sinis, lalu kembali menatap Gevin yang hanya berdiri diam menatap mereka. "Kalo yang cebol itu anak seni, namanya Rindu—"
"Renjana, goblok!" ralat si pemilik nama seraya memukul bahu Harsa.
Gevin termenung, apakah imajinasinya menjadi nyata?
"Leo, Jovan, dan Melvin mana?" tanya Gevin tiba-tiba, tiga pemuda baru itu terkejut kala mendengar tiga nama lain yang Gevin sebutkan.
"Saha eta teh?" tanya Harsa bingung, pemuda itu menoleh pada Naka. "Lo kenal?" yang di tanya pun menggeleng pun tak tau.
Kini Harsa beralih pada Renjana. "Kayak nama tetangga lo anjir," celetuk Harsa.
"Saha?" tanya Renjana bingung.
"Eta, Leo Guntara."
"Eta mah pemain sepak bola atuh," Harsa tertawa kala mendengar jawaban Renjana.
"Iya nyah?"
"Mungkin." gumam Renjana acuh, Naka pun tergelak seketika.
Tio, Agam, dan Satria geleng-geleng kepala. Beban mereka sebagai Abang kost kini bertambah.
"Oke anak-anak, yang ini namanya Gevin—"
"Tau," sahut Harsa memotong ucapan Tio.
"Dari siapa?" tanya Satria heran.
"Ibu kost," jawab Naka.
"Siapa coba nama Ibu kost?" tanya Agam kali ini.
"Marni," balas ketiganya, tiga Abang kost itu pun tertawa.
-END-
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Finally!! Singkat aja ya? Mari kita tutup tahun ini dengan berakhirnya kisah disini, sekali lagi ika mau bilang terima kasih banyak buat kalian yang selalu menanti kelanjutan dari Our Home.. Semoga kalian suka dengan endingnya ya?? Hehe, Asa, Nana, dan Ren ada lagi tuh 🤭💕