Sudah tiga hari lamanya Naka terlelap tanpa ada niat untuk membuka matanya. Sepulang sekolah, Melvin dan yang lain langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Naka yang terbaring lemas diatas bangsal-nya dengan berbagai alat mengerikan yang terpasang ditubuhnya.
Setelah menunaikan shalat isya, Melvin dkk minus Leo sedang membaca AlQuran melanjutkan sisa surah kemarin. Tak jauh dari sana, terlihat Leo yang sedang menggenggam tangannya dengan Rosario yang menggantung disela jemarinya.
"Yubasysyiruhum robbuhum birohmatim min-hu wa ridhwaaniw wa jannaatil lahum fiihaa na'iimum muqiim." Ayat-ayat itu mengalun dengan sangat indah dari keempatnya.
Di sofa, ada Dean, Raya dan Rafael yang sedang memperhatikan Melvin dan Adik-adiknya yang tengah khusu dalam melantunkan ayat AlQuran dan doa yang sedang Leo panjatkan.
"Shodaqollahul'adzim.."
"Amen."
Mereka pun selesai dan Leo tersenyum menatap keempat sahabatnya yang lain, sehingga membuat mereka membalas menatap Leo yang kini terlihat anak itu sedang kesulitan untuk memakai kembali kalung Rosario yang sempat ia lepas untuk memudahkannya dalam berdoa.
Gevin bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk menaruh kembali AlQuran yang ia baca pada tempatnya dan segera menghampiri Leo yang masih setia di tempat ternyamannya.
"Mau dibantu?." Tanya Gevin menawari.
"Gak usah, gak papa." Leo menggeleng tanda ia menolak bantuan dari Adik bungsunya.
Namun tak dapat dipungkiri, Gevin terus memperhatikan Leo yang kembali menatap pengait kalungnya lalu memakainya dan kembali menatap kalungnya seraya berdecak kesal tanda ia benar-benar kesulitan untuk memakainya membuat Gevin terkekeh pelan. Lalu tanpa meminta persetujuan dari si pemilik, Gevin langsung merebut kalung itu dan membantu Leo untuk memakainya.
"Makasih." Cicit Leo.
"Hm."
Di sudut lain, Jovan duduk di kursi dekat bangsal seraya menatap wajah tenang Naka yang terlelap. "Na? Kok lo betah banget sih tidurnya? Gue kangen sama lo." Ucap Jovan yang sudah menggenggam tangan Naka.
"Lo lagi mimpi indah, ya? Cepet bangun, Na. Gue kangen debat sama lo." Tambah Renjana lirih.
.
Di alam bawah sadar, Naka sedang bermain dengan Harsa di taman yang sama, yang ada di mimpi Naka beberapa hari silam. Keduanya berlari dan tertawa di sana, sampai Naka melupakan orang-orang yang sedang menunggunya membuka mata.
"Asa! Jangan jauh-jauh ih, capek." Keluh Naka yang tak bisa meraih Harsa.
"Na, ayo kejar Asa!." Dan Naka pun kembali mengejar Harsa, sehingga ia bisa meraih Harsa.
Keduanya tertawa dengan begitu bahagia. Hembusan angin meniup lembut rumput yang bergoyang, dan tawa mengudara tanpa beban. Setelah mulai merasa lelah, Harsa pun menarik lengan Naka agar kawannya itu bisa duduk di kursi taman seraya menikmati tiupan angin yang sejuk.
"Asa tinggal disini?." Tanya Naka memecahkan keheningan seraya melirik kawan yang ia rindukan.
"Enggak, Asa kesini hanya untuk bertemu Nana saja." Sahut Harsa tersenyum lembut, lalu mengusap bagian belakang rambut Naka.
"Oh begitu, terus Asa dimana?. Tanya Naka kembali menatap bingung Harsa.
"Di sana, jauh di sana." Tunjuk Harsa lurus ke depan, membuat Naka mengikuti arah tunjuknya.
"Wahh boleh Nana ikut kesana?." Tanya Naka.
"Boleh! Tapi nanti, jika Tuhan mengijinkan." Ujarnya dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Teen FictionKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
