65 || Pulang.

110 8 0
                                        

Koridor kampus di penuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang, diantaranya ada Gevin dan Renjana yang akan kembali ke kost-an karena keduanya sudah habis jam pelajaran. Tidak hanya di koridor yang penuh, tapi di parkiran pun sama halnya. Renjana berdecak kesal di kala ia tak sengaja bertabrakan bahu dengan mahasiswa yang lain, melihat Renjana yang menggerutu membuat Gevin terkekeh lucu.

"Udah lah, Bang. Namanya juga tempat umum." Ucap si bungsu.

"Gue tau! Tapi masalahnya gue ke pental." Ungkapnya yang membuat Gevin tergelak seketika.

"Eh, Vin! Lo balik sendiri aja sana, gue mau pulang dulu. Udah lama gak ketemu Bunda sama Ayah." Ucap Renjana.

"Terus gue balik naik apa? Kita se-motor berdua, btw." Tanya Gevin mendelik.

"Iya juga ya.. Gini aja! Lo pake nih motor, gue naik Grab, gimana?." Tanya Renjana memberikan usulan.

"Gak mau. Males bawanya." Tolak Gevin mentah-mentah.

Renjana kembali berdecak kesal seraya memutar matanya malas, bocah di sebelahnya ini memang menyebalkan. Pikirnya. Cukup lama keduanya terdiam, akhirnya suara seorang gadis berhasil memecahkan keheningan diantara mereka.

"Gevin!." Panggilnya yang berhasil merebut perhatian kedua pemuda di sana.

"Pulang bareng yuk?." Lanjutnya mengajak.

"Bang, gue ikut sama lo." Ucap Gevin yang tidak mengindahkan ajakan Geisha.

"Eh? Vin -"

"Udah ayo." Potong Gevin lalu dengan cepat menaiki motornya dan meminta Renjana untuk segera naik, namun Abangnya itu malah terdiam seraya menatap Geisha yang kini tersenyum kecut padanya.

Gevin melirik Renjana yang kini menatapnya dan kembali memintanya untuk segera naik dengan gerakan mata. Renjana menghembuskan nafasnya gusar, ia merasa tidak tega dengan gadis cantik yang kini menundukkan pandangan seraya menilin jemarinya.

"Sha, gue duluan ya? Lo hati-hati pulangnya, maaf." Ucap Renjana memelan diakhir.

Lalu dengan segera pemuda kecil itu menaiki motor dan kendaraan itu pun melaju tanpa permisi. Renjana terus menoleh ke belakang guna memastikan gadis itu baik-baik saja, meskipun ia sangat yakin bahwasanya gadis itu terluka. Hatinya.

"Kok lo gitu sih?." Tanya Renjana kesal.

"Gue gak suka sama dia." Jawab Gevin tanpa beban.

"Dia yang lo gak suka itu, amanah dari Jovan kalo lo lupa!." Cetus Renjana.

"Gak pernah minta." Balasnya.

Hembusan nafas kasar terdengar dari Renjana, ia benar-benar tak habis pikir dengan pemuda di hadapannya itu. Renjana memilih untuk diam, karena ia tak ingin berdebat dengan Gevin.

Jalanan sore ini terlihat ramai dan selalu ramai hingga kemacetan mengambil alih jalanan lancar. Dengan berat hati Gevin menghentikan laju kendaraannya dan sedikit demi sedikit ia lajukan kembali jika mendapatkan kesempatan. Udara sore yang menyengat ini mampu membuat Renjana terus menggerutu tak jelas, dan Gevin yang hanya terdiam membiarkannya mengeluarkan kekesalan.

Beberapa menit kemudian, jalanan kembali lancar membuat Gevin segera melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Ia memilih untuk menemani Renjana bertemu dengan kedua orang tuanya sampai ia lupa bahwa nantinya Leo akan sendiri di kost-an, karena saat Gevin dan Renjana keluar dari kelas, anak itu belum juga selesai dengan tugasnya. Oleh karena itu, keduanya memilih pulang lebih dulu karena kemungkinan besar Leo akan pulang lebih larut.

"Bang! Coba kirim pesan ke Leo, bilang kalo kita mau ke rumah lo dulu." Ucap Gevin khawatir dengan Abangnya yang satu itu.

"Udah." Ucap Renjana lalu kembali mengantongi ponselnya.

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang