55 || Segalanya.

238 15 0
                                        

Selasa, 26 Juni 2025. Adalah hari dimana kelulusan kelas dua belas akan dilaksanakan.

Didalam kamar kedua, terlihat Jovan dan Renjana yang sudah siap dengan jas hitam yang menutupi kemeja putihnya. Hari ini adalah hari yang akan menentukan jalan hidup mereka, mereka akan merasakan kehidupan yang sebenarnya.

Jovan melirik Renjana yang terdiam dihadapan cermin. Wajahnya begitu sendu dan matanya mampu menyiratkan kesedihan. Jovan menghembuskan nafasnya dalam lalu menepuk pundak sempit milik Abangnya itu. Renjana tersenyum dan tatapan keduanya pun bertemu.

"Semangat." Ucap Jovan yang membuat senyum itu semakin melebar.
Hembusan nafas terdengar dari Renjana, lalu remaja itu melirik bingkai foto yang tergantung di dinding kamarnya.

"Ini beneran? Kita bakal lulus berempat?." Tanya Renjana  tanpa mengalihkan pandangannya dari bingkai tersebut.

Jovan mengangkat kepalanya guna ikut menatap bingkai yang dihiasi senyum ketujuh penghuni kost-an itu.

"Bertujuh. Kita akan tetap bertujuh, seperti yang Bang Melvin bilang." Jawab Jovan lalu tersenyum pada Renjana yang menatap dirinya.

Anak itu mengangguk tanda setuju dengan apa yang Adiknya ucapkan.

"Sebelum ke sekolah, kita mampir dulu ke toko bunga ya? Mau beli buket." Ucap Renjana yang dianggukki Jovan.

"Oke! Udah siap menatap kehidupan yang sebenarnya?." Tanya Jovan dengan semangat, membuat Renjana terkekeh lalu mengangguk semangat.

"Let's go!! Mari kita lihat dua bungsu kesayangan kita."

Renjana tertawa lalu mengikuti langkah lebar Jovan. Sesampainya dikamar terakhir, Jovan mengetuk pintu tersebut.

"Dek! Cepetan, kita udah telat nih!!." Ucap Jovan sedikit meninggikan suaranya.

"BENTAR, BANG! ADUH, GEVIN!!." Sahut Leo yang sepertinya diganggu oleh Gevin.

"Gue tunggu di meja makan!!." Ucap Renjana lalu menuruni tangga diikuti oleh Jovan.

"Ren, kira-kira kalo gue jadi tentara cocok gak?."
"Cocok." Jawab Renjana dengan yakin.

"Kalo lo?."

"Gue? Gue pengennya jadi Seniman sih. Tapi kan lo tau kalo cita-cita gue yang itu tuh gak direstui."

Ya, cita-cita Renjana memang ingin menjadi seorang Seniman, namun cita-cita itu ditentang oleh kedua orang tuanya. Mereka ingin Renjana menjadi penerus perusahaan keduanya karena ia adalah anak tunggal, jadi tak ada pilihan lain. Renjana harus bisa mengubur cita-citanya itu dalam-dalam.

"Dan gue juga gitu. Makanya gue ragu sama cita-cita gue yang pengen jadi tentara itu." Sahut Jovan.

"Jadi anak tunggal ternyata gak enak." Lanjut Jovan.

"Gak ada posisi yang enak buat seorang anak, Van. Mau lo anak tunggal, anak sulung, anak tengah bahkan anak bungsu sekalipun. Yang namanya anak, itu dibawah telunjuk orang tua." Ucap Renjana seraya menyiapkan alat makan untuk sarapan pagi ini.

"Lo bener."

Jovan dan Renjana terkejut ketika mendengar suara Gevin yang ternyata, tanpa mereka sadari sudah berada di sana.

"Selamat pagi, Abang-abang." Sapa keduanya.

"Pagi juga." Sahut keduanya.

"Makan dulu." Ucap Renjana.

"Iya, Bang."

"Bang."

"Hm? Kenapa, Gevin?." Tanya Jovan dan Renjana menatap Gevin dengan senyum teduhnya.

Gevin terdiam cukup lama, sepertinya ia sedang menimbang nimbang apa yang akan ia ucapkan.

"Gak jadi." Ucapnya tersenyum.

Tiba-tiba Renjana bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati si bungsu kost-an itu.

Grep!

Pelukan hangat Gevin dapatkan dari Renjana. Anak itu menutup matanya guna menikmati pelukan hangat yang akan selalu Gevin inginkan itu.

Seakan tahu apa yang akan Gevin ucapkan, Renjana membalas.

"Pasti. Dan itu emang harus. Semangat!."

Gevin menatap Renjana yang tersenyum padanya itu dengan sendu. Renjana memang sangat peka, dan Gevin sangat bersyukur bisa menemukannya di sana.

"Terimakasih, Abang. Jangan tinggalin gue ya? Gue sangat-sangat butuh banget sosok orang kayak lo di kehidupan gue, Bang. Gue gak bisa tanpa kalian, gue gak bisa.." Isak tangis Gevin terdengar di sana membuat Leo dan Jovan segera mendekatinya.

"Ternyata gue ngambil keputusan yang tepat." Ucap Leo tiba-tiba.

"Kita akan terus bersama. Selamanya. Semoga." Sambungnya dengan lembut.

"Semangat, Gevin!! Buat bokap lo sadar kalo lo bisa lebih dari dia." Ucap Jovan yakin.

Gevin mengangguk mantap dan senyum manis pun terukir diwajahnya.

"Terimakasih."

"Terimakasih kembali." Sahut ketiga Abangnya.

Dan mereka pun mulai menikmati sarapan spesial ala Renjana. Setelah selesai, akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah dengan pakaian rapi layaknya pergi ke kantor. Kemeja putih yang dilapisi jas hitam dengan celana panjang hitam dan sepatu kantoran, sungguh menambah ketampanan dan aura yang positif yang mereka pancarkan.

"Selamat pagi, Bu." Sapa mereka pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman rumahnya.

"Wah, tampan sekali. Mau kelulusan ya? Semoga lancar ya anak-anak ganteng. Putri saya sudah menunggu." Goda wanita paruh baya itu.

Keempat anak kost itu tertawa.

"Mau sama yang mana katanya, Bu?." Tanya Jovan menggoda.

"Aduh Mas Jovan, jangan buat putri saya berharap gitu dong. Kalo ditanya gitu mah, udah pasti putri saya pilih Mas Ren." Jawab si Ibu malu-malu.

Dan tawa pun kembali terdengar dengan tawa Leo yang mendominasi.

"Ya udah atuh, Bu. Kita berangkat dulu." Pamit Renjana.

"Hati-hati."

Dan Jovan pun langsung menancap gas mobil yang sudah ia siapkan beberapa menit lalu.

Seperti yang Renjana ucapkan, mereka mampir ke toko bunga terlebih dahulu. Terlihat Renjana yang sedang memilih bunga-bunga untuk ia jadikan buket. Seperti biasa, bunga yang ia pilih adalah lavender, tulip dan lily.

Setelah selesai, akhirnya mereka pun langsung menuju ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan bahwa mereka sudah terlambat beberapa menit.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Haii Homelist ika kembali, maaf ya karena udah ngilang cukup lama hehe, buat kalian yang masih setia sama Our Home ika ucapkan terimakasih banyak..

Btw, ATLANARA udah Ika up yaa🙌

*****

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang