54 || Harapan.

383 24 0
                                        

Sesampainya di rumah sakit, Renjana langsung mendapatkan penanganan di ruang UGD. Di luar ruangan, Jovan terduduk, tubuhnya bergetar hebat dengan Agam yang memeluknya dari samping. Tatapan kosong yang terpancar dimata Leo begitu jelas terlihat dengan Satria yang mengusap tangannya lembut guna memberikan kehangatan. Gevin menundukkan kepalanya dengan Tio yang setia menenangkan anak itu.

"Gue takut, Bang." Ucap Jovan bergetar.

"Berdoa yang terbaik." Sahut Agam.

"Jovan!." Itu adalah Rian yang baru saja datang setelah mendapatkan kabar dari Agam, ia dan istrinya langsung meluncur ke rumah sakit.

"Om."

"Dimana putra saya? Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa kayak gini? Apa yang terjadi? Jovan?." Deretan pertanyaan itu dilontarkan oleh Revina.

"Tante, maaf. Tapi Tante tenang dulu ya? Kasian Jovan, Tante." Ucap Agam.

"Renjana didalam, Tante. Kita belum tau kabar selanjutnya." Jawab Tio.

"Jovan gak tau, Tante. Tadi Ren lagi tidur terus tiba-tiba bangun dan udah kayak gitu. Maaf, Tante." Jawab Jovan.

"Bukan salah kamu, Jovan." Ucap Rian seraya menepuk pundak Jovan.

Rian menatap Leo yang terdiam dan Gevin yang menundukkan kepalanya. Sudah hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya Dokter pun keluar dari ruangan tersebut.

"Bagaimana Dok? Bagaimana keadaan putra saya?." Tanya Rian.

"Alhamdulillah, pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Putra Bapak, sempat mengalami kehilangan detak jantung. Namun semuanya sudah baik-baik saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan lagi." Ucap Dokter.

"Alhamdulillah ya Allah." Ucap Gevin lega.

"Terimakasih, Tuhan." Ucap Leo lalu menangkup wajahnya menangis.

"Alhamdulillah, terimakasih Dok." Ucap Rian.

"Baiklah, jika tak ada yang perlu ditanyakan lagi, saya permisi. Pasien sudah bisa dijenguk." Lalu Dokter pun pergi.

Rian berjalan memasuki ruangan tersebut dan yang lain pun mengikutinya dibelakang. Hening, hanya terdengar suara alat monitor saja di ruangan itu. Melihat kedatangan keluarga pasien, tiga Suster yang bertugas pun mengundurkan diri lalu keluar dari ruangan tersebut.

Terlihat Renjana yang tertidur pulas dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya, dan jangan lupakan alat bantu pernafasan bertengger diantara hidung dan bibirnya. Revina berjalan mendekati Renjana lalu mengecup pelipisnya penuh sayang.

"Cepat pulih, sayang."

"Jovan, lebih baik kamu bawa Adik-adik kamu pulang dulu. Kalian harus istirahat, Renjana biar kita yang jaga." Ucap Rian yang mendapatkan gelengan dari Jovan.

"Jovan mau disini aja, Om." Jawabnya.

"Kalian harus istirahat." Ucap Revina.

"Gak papa, Tante. Kita mau nungguin Bang Ren disini." Balas Leo.

"Baiklah, tapi kalian juga harus istirahat ya?."

"Iya Tante."







Siang ini, pihak sekolah dan beberapa siswa datang untuk membesuk Renjana di rumah sakit. Keenam anak kost-an itu, beberapa menit yang lalu pamit pulang untuk membersihkan diri. Di sana hanya ada Rian dan Revina yang berjaga.

"Kata Dokter, Ren hanya kelelahan dan perlu banyak istirahat." Ucap Revina ketika Bu Nias menanyakan keadaan putranya.

"Renjana memang sibuk akhir-akhir ini, Bu. Dia ditunjuk sebagai penata dekorasi untuk kelulusan nanti." Ucap Bu Nias.

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang