16. Pura-Pura Bahagia

3.1K 90 3
                                        

Happy Reading 🍊

Acara ulang tahun Julian masih berlanjut, meski Binar merasa sesak di dada. Para tamu menikmati jamuan dan mengobrol. Beberapa yang lain memberikan selamat pada Julian.

"Gue ke toilet dulu ya Bell, kayanya gaun gue kotor." ucap Binar sambil mengangkat gaunnya

"Mau gue temenin ga?" Bella menawarkan diri, bisa saja sekarang Binar butuh teman

"Ga usah Bell, bentar aja kok."

Binar beranjak.dari duduknya menuju ke toilet. Bella dan teman Julian lainnya saling melempar pandangan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, mereka tahu ini hal yang ga mudah untuk Binar tapi dia mencoba terlihat kuat dan baik-baik saja.

Bella yang paling merasa bersalah, Bella tidak becus menjadi sahabat Binar, dia bahkan tidak bisa mendapatkan informasi ini. Jika Bella lebih dahulu tahu pasti ia akan melarang Binar hadir ke acara ini. Namun Bella tidak mengetahui apa-apa.

Binar masih belum kembali dari toilet, perasaannya menjadi tidak tenang, Bella segera menyusul Binar, bergegas melewati tamu yang lalu lalang di depannya. Bella menyeka sudut matanya mengingat, apa yang tengah dirasakan oleh sahabatnya sekarang.

Binar menatap cermin di depannya, menatap sinis dirinya. Kenapa dirinya begitu naif, sampai hal ini terjadi padanya. Sekarang Binar mengerti inilah penyebab sikap dan perkataan Julian berubah tidak seperti biasanya akhir-akhir ini.

Binar menahan tangisnya, dia tidak ingin menjadi bintang utama hari ini dengan membuat drama tangis karena Julian akan bertunangan dengan wanita lain. Setelah membersihkan gaunnya yang kotor, namun memang tidak bisa bersih, Binar masih mematung di depan cermin.

Seseorang dengan nafas tidak teratur memasuki toilet, menatap ke arah Binar. Ternyata Bella. Dia khawatir dengan Binar, segera Bella memeluk sahabatnya.

"Maaf Bi." ucap Bella pelan

"Hei, untuk apa Bell."

"Lo pasti kaget kan dengan kejadian ini, sama gue juga. Gue ga pernah dapat kabar apa-apa dari orang di rumah soal ini. Gue yakin hanya oma, opa dan om Julian yang tahu soal ini Bi." Bella menjelaskan

"Emang ada kewajiban lo buat bahagiain gue Bell?" Binar melepas pelukan Bella "Dari awal lo udah kasih tahu kan, jangan ngejar Pak Julian, tapi gue nya ngeyel masih berharap aja Pak Julian bakalan suka sama gue."

"Bi tetap aja, gue mau yang terbaik dan kebahagiaan buat lo Bi. Gue ga serius nyuruh lo jangan ngejar om Julian, gue ikutan senang kalo lo bisa jadian sama om Julian."

Bella menatap Binar serius. Binar bahagia bisa memiliki sahabat sebaik Bella, padahal Binar bukan siapa-siapa tapi Bella selalu mempedulikan Binar.

"Makasi ya Bell udah jadi sahabat paling tulus buat gue." Binar memegang pundak Bella "Sekarang gue ga mau anggap lo sahabat gue lagi."

Bella terkejut "Bi, apa karena ini lo ga mau anggap gue sahabat lo?"

"Ya, gue ga mau lo cuma sekedar sahabat aja. Sekarang gue tahu kalau lo udah kayak saudara gue Bell." Binar tersenyum ke arah Bella sambil merapikam rambutnya

"Bi apaan sih." Bella memeluk tubuh Binar "Dari awal lo udah gue anggap saudara gue Bi."

Perasaan haru di antara dua orang sahabat itu makin terasa, Bella tidak rela siapapun menyakiti Binar termasuk omnya sendiri. Hatinya ikut bersedih karena hal ini.

Dua orang wanita memasuki toilet, sesaat setelah Binar dan Bella berpelukan. Mereka berdua keluar toilet dan bersiap untuk pulang.

Binar dengan wajah bahagianya, tetap mengucapkan selamat kepada Julian sekalian berpamitan untuk pulang. Tidak lupa Binar memberikan selamat kepada Tiffany yang berdiri di sebelah Julian.

Binar Vs Boss (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang