Happy Reading 🍊
Pagi-pagi sekali Julian sudah bangun, beberapa menit memandangi wajah damai istrinya saat tertidur. Julian cukup terganggu dengan kejadian kemaren malam tapi dia sadar bahwa dirinya harus lebih banyak mengalah dan memahami Binar, ini kali pertamanya bagi Binar dan jelas saja hal itu dia lakukan dengan alasan Binar sangat mencintai Julian.
Julian beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur. Julian berniat menyiapkan sarapan hari ini dengan menu nasi goreng. Binar sangat menyukai nasi goreng pedas manis buatan Julian, semoga saja setelah memakanya suasana hati Binar bisa membaik hari ini, pikir Julian.
Binar menggeliat masih dalam posisi di tempat tidur dibawah selimutnya yang bewarna putih, cahaya matahari masuk melalui celah gorden kamarnya, hangat matahari menyentuh kulit tangan Binar yang tidak tertutup oleh selimut. Binar masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, mengerjapkan matanya beberapa kali sampai benar-benar bisa terbuka dengan sempurna.
Bayangan tentang kejadian semalam masih saja teringat oleh Binar, dan lagi-lagi Binar merengut karena itu. Beberapa menit Binar masih mengingat-ngingat kejadian semalam, dan memikirkan apa tindakannya ini masih kekanak-kanakan, apa nanti orangtua Julian akan merasa jengkel padanya karena Binar yang tidak bisa bersikap dewasa.
Ah, nyebelin banget sih kenapa jadi kepikiran gini. Binar membatin sambil menyembunyikan kepalanya ke dalam selimut.
Binar menarik napas panjang, kemudian mencepol rambutnya asal, dan meninggalkan beberapa helai rambut di dekat telinga yang tidak terikat bersama rambutnya yang lain, masih dengan mengenakan piyama selutut bewarna cream lembut, Binar menuruni tangga dan mencari keberadaan suaminya. Seperti dugaan Binar, pasti suaminya tengah memasak, apalagi aroma perbumbuan sudah sampai ke indera penciuman Binar semenjak menuruni tangga tadi.
Namun anehnya, biasanya Binar sangat menyukai aroma ini apalagi aroma bawang putih tapi kali ini aroma ini membuat Binar terganggu dan benar-benar merasakan mual yang luar biasa. Binar segera berlari ke kamar mandi yang berada di lantai satu di dekat dapur. Julian yang tengah asyik memasak tidak menyadari kedatangan Binar dan tetap asyik mengaduk nasi goreng buatannya.
Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi Binar duduk di meja makan menunggu Julian, begitupun Julian juga sudah selesai dengan urusannya memasak, nasi goreng yang masih panas sudah dihidangkan di piring kemudian di letakkan di depan Binar oleh Julian. Dengan penuh senyuman Julian menyuruh Binar untuk menyantapnya. Namun Binar masih ragu kenapa makanan kesukaannya tiba-tiba tidak menarik lagi baginya.
Binar menatap Julian yang sangat bersemangat karena berharap istrinya akan menyukai masakannya ini, apalagi ini adalah makanan kesukaan Binar biasanya. Binar mengambil sendok dengan pelan, menyendok nasi goreng tersebut dan perlahan memasukkannya ke mulut, benar-benar di luar perkiraan Binar, saat nasi goreng baru menyentuh lidahnya dan baru hendak mengunyahnya, rasa mual yang hebat datang lagi. Binar langsung kaget dan menutup mulutnya agar makanan di mulutnya tidak tumpah ke piring berisi nasi goreng. Binar bergegas menuju kamar mandi dan memuntahkan nasi di mulutnya.
Julian segera menyusul istrinya dengan panik. Julian mengelus punggung istrinya yang sedang memuntahkan nasi goreng.
"Sayang kenapa?" ucap Julian cemas
Binar tidak menjawab dan masih saja terus muntah.
"Nasi gorengnya ga enak ya, kok kamu jadi muntah gini sih."
Setelah dirasa cukup baik Binar mencuci mulutnya dan segera keluar dari kamar mandi. Julian menatap heran ke arah Binar, namun ditengah-tengah kecemasannya, tetap saja Julian tidak bisa menyembunyikan kecurigaannya. Apa Binar hamil? pikir Julian.
"Sebenarnya tadi waktu aku turun dari tangga, aku udah ga enak sama bau bumbu nasi goreng buatan Mas, apalagi pas kecium bau bawang putih itu ga enak banget, langsung mual aku mas. Mas ga sadar kan kalo tadi aku muntah juga waktu baru turun."
Julian tidak menjawab. Julian tidak bisa menyembunyikan senyumnya mendengarkan penjelasan Binar. Julian benar-benar yakin kalau ini bukan sekedar mual biasa, pasti ada apa-apa dengan Binar, bisa saja Binar memang hamil.
"Mas kenapa sih senyum-senyum ga jelas kaya gitu?"
"Engga kok, kayanya Mas kepikiran sesuatu deh."
"Kepikiran apa Mas?" tanya Binar sambil mengelap bibirnya dengan tisu
"Nanti Mas mau suruh Bastian ke sini aja lah buat periksa kamu" Julian lalu membereskan makanan yang tidak dimakan Binar tadi dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil buah semangka segar. Kemudian memotongnya dan meletakkan di meja di depan Binar.
"Makan buah aja sayang, kayanya ini bisa meredakan mual kamu." Julian kemudian mengelus punggung tangan Binar dengan pelan.
"Mas aku masih marah soal kemaren dan aku ga mau dibujuk sekarang apalagi nasi goreng andalan kamu udah ga bikin mood aku baikan."
"Iya sayang Mas tau, sekarang fokus aja makan buahnya ga usah hiraukan Mas."
"Ya udah kalo gitu." Wajah Binar masih terlihat kesal namun tetap mengambil potongan semangka yang disiapkan Julian.
Setelah menikmati buah semangka beberapa potong, Binar akhirnya menyadari sesuatu bahwa ia sudah telat datang bulan selama beberapa minggu.
🍊🍊🍊
Binar menatap wajahnya di cermin. Pucat. Matanya berkaca-kaca, bukan karena mual semata. Ada yang berbeda. Bukan hanya karena kejadian kemarin, saat Rachel dengan anggun tapi menyebalkan muncul di acara keluarga Julian, menyapa semua orang seperti masih punya hak istimewa. Tapi... tubuhnya juga seperti sedang menyimpan rahasia.
Setelah bersih-bersih, ia membuka laci kecil di meja rias dan mengeluarkan satu benda mungil panjang.
“Ya Tuhan, semoga cuma masuk angin.”
Lima menit kemudian, Binar keluar dari kamar mandi dengan wajah bingung. Tangannya gemetar, memegang test pack dengan dua garis yang tidak bisa dibantah.
Sementara itu, Julian mengetuk pintu dengan ragu. “Sayang... kamu oke? Maaf soal kemarin. Mas ga mau salah paham sama kamu kaya gini, didiemin Mulu dari kemaren ga enak, tidur juga ga dipeluk."
Pintu dibuka pelan. Binar berdiri di ambang pintu, test pack disodorkan ke dada Julian.
“Aku hamil.”
Julian mendadak seperti nasi goreng tanpa garam: kaget, bingung, dan butuh waktu untuk mencerna.
“Hah?”
“Aku. Hamil Mas,” ulang Binar, dengan nada datar, tapi bola matanya berkaca.
Julian menatap test pack, lalu Binar, lalu test pack lagi. Dan... entah kenapa, yang pertama keluar dari mulutnya justru:
“Jadi... ?”
“ApaMas?!” seru Binar, nyaris melempar test pack ke wajah suaminya.
Julian mendekapnya cepat sebelum mood Binar berubah dari cemberut menjadi melempar peralatan dapur.
“Maaf, sayang. Mas cuma... terlalu bahagia dan takut kamu masih marah.” Dia mencium ubun-ubun Binar lembut. “Makasih ya... udah kasih Mas kesempatan jadi ayah.”
Binar menarik napas panjang. “Aku masih marah, tahu.”
“Mas tahu,” bisik Julian sambil tersenyum, “tapi kamu nggak bisa ngambek terus, nanti dedek bayi stres.”
“Dedek bayi?” Binar mendengus, “Kita aja baru tahu lima menit yang lalu.”
Julian menatap perutnya yang masih rata. “Hei, dedek bayi... kasih tahu Mama kamu jangan ngambek terus ya. Papa takut.”
Dan untuk pertama kalinya sejak acara keluarga itu, Binar tertawa kecil. Masih kesal, tapi hatinya mulai luluh. Karena kadang, nasi goreng buatan suaminya yang membuatnya mual pun bisa jadi awal dari kabar terbaik dalam hidup.
🍊🍊🍊
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Binar Vs Boss (COMPLETED)
RomantikJANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM BACA. Binar dengan gaya ala cegil, ugal-ugalan dan tanpa malu-malu ini menyukai atasan di kantor tempat ia bekerja. Misinya adalah menikah dengan Bosnya yaitu Julian. Apakah Binar bisa meluluhkan hati Julian??
