36. Kembar Tiga

1.9K 74 1
                                        

Happy Reading 🍊🍊

Suasana rumah keluarga Julian hari itu riuh rendah. Ruang tengah dipenuhi aroma ayam panggang dan suara gelak tawa. Mama Julian baru saja memanggil seluruh anggota keluarga untuk makan siang bersama-acara kumpul-kumpul yang biasa ia adakan sebulan sekali. Tapi kali ini terasa lebih istimewa. Binar bisa merasakannya sejak pagi, ada kegembiraan kecil yang menggantung di udara, seperti denting bel menjelang kejutan besar.

Julian, seperti biasa, tampak santai. Tapi di balik ekspresinya yang tenang, ia menyimpan rahasia manis yang siap meledak di tengah kebersamaan ini. Ia menggenggam tangan Binar saat mereka tiba, menatap istrinya dengan senyum kecil.

"Udah siap?" bisiknya pelan.

Binar mengangguk gugup. "Kalau Mama pingsan karena saking senangnya gimana?"

"Tenang, ada Bastian. Dia dokter, ingat?"

Di ruang makan, semua sudah berkumpul. Ada Risa-kakak Julian yang tinggal di Jakarta bersama putrinya Bella, sahabat Binar sejak SMA, dan dari luar negeri, hadir juga Jena yang baru datang dua hari lalu, membawa serta putranya Bastian-dokter obgyn muda yang tampan, namun penampilannya bukan menunjukkan seorang dokter lebih ke seorang seniman dengan rambut gondrongnya, dan jadi kebanggaan keluarga besar karena sering tampil di seminar luar negeri.

"Julian! Binar! Sini, duduk dekat Mama!" seru Mama Julian dengan semangat. Ia mengenakan kebaya hijau toska, rambut disanggul rapi, dan senyumnya mengembang seperti balon pesta.

Binar duduk sambil menyembunyikan wajah gugupnya di balik senyum tipis. Ia belum pernah mengumumkan sesuatu sebesar ini di hadapan keluarga sebanyak ini. Rasanya seperti mau ngelamar jadi presiden.

Setelah semua makanan tersaji dan doa makan selesai, Julian berdiri.

"Ma, Kak Rosa, Kak Risa... semuanya," katanya membuka, "kami ada kabar penting. Kami ingin berbagi sesuatu."

Semua kepala serempak menoleh. Bella mengangkat alis, curiga. Bastian berhenti memotong ayam dan memperhatikan.

Julian meraih tangan Binar dan membantu istrinya berdiri. Ia menatap mata Binar, memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.

"Binar..." katanya pelan, "sedang hamil."

Sejenak, ruangan hening.

Lalu...

"APA?!" seru Mama Julian sambil berdiri dari kursinya. Suaranya mengalahkan volume semua orang. Ia mendekati Binar dengan cepat, tangannya menempel di pipi menantunya, lalu beralih ke perutnya.

"Kamu... beneran? Kalian serius?" air mata mulai menggenang di matanya.

Binar mengangguk pelan. "Iya, Ma. Baru beberapa hari ini tahu."

Dan Mama Julian langsung menangis. Tapi bukan tangis sedih-ini tangis lega, bahagia, dan kemenangan.

"Ya ampun, akhirnya! Julian, anak laki-laki satu-satunya Mama, akhirnya kamu beneran ngasih Mama cucu juga!" katanya sambil memeluk Binar erat, nyaris membuat menantunya kehabisan napas. "Maaf ya, Bi, Mama heboh tapi Mama udah nunggu ini lama banget!"

Julian tertawa sambil mengelus punggung ibunya. "Gak apa-apa, Ma. Kami juga senang banget."

Risa langsung berdiri dan memeluk adiknya. "Selamat! Aduh, Julian. Akhirnya juga kamu nyusul punya anak. Udah saatnya."

"Bella bakal punya sepupu!" seru Bella sendiri sambil merangkul Binar. "Akhirnya! Kapan due date-nya?"

Sebelum Binar bisa menjawab, Mama Julian menoleh ke arah Bastian yang duduk di ujung meja dengan ekspresi kalem khasnya.

Binar Vs Boss (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang