Happy Reading 🍊🍊
Pukul 03.14 dini hari.
Suara notifikasi ponsel membelah keheningan kamar yang gelap. Julian terbangun dengan kening berkerut, mata masih berat. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, mengira mungkin itu pesan dari kantor atau seseorang yang salah kirim.
Tapi tidak.
Nama itu muncul di layar. Rachel.
Pesan hanya satu, tapi cukup untuk menghilangkan kantuknya seketika.
"Ju, Mama meninggal. Baru saja, pukul 2 lewat sedikit. Aku tahu ini bukan waktunya, dan aku juga tahu kamu bukan siapa-siapa lagi dalam hidup kami tapi aku rasa kamu pantas tahu. Dia pergi dalam tidurnya. Tanpa rasa sakit, tanpa kata-kata terakhir. Tapi dia sempat menyebut namamu malam tadi dan tersenyum."
Julian membeku.
Beberapa detik ia hanya menatap layar, menelan keras-keras gumpalan emosi yang entah muncul dari mana. Napasnya tertahan, seperti dada terlalu sempit untuk dilalui udara.
Rachel…
Dan mamanya.
Satu keluarga yang dulu begitu lekat dalam hidupnya.
Mereka yang selalu ada saat remaja, saat orang tua Julian bolak balik ke luar negeri, Julian selalu diurus seperti anak sendiri oleh mama Rachel.
Dan kini, satu bagian dari keluarganya itu telah tiada.
Dengan tangan gemetar, Julian menurunkan ponsel, menatap langit-langit kamar dalam gelap.
Di sisi lain ranjang, Binar tidur dengan damai. Nafasnya halus, tubuh kecilnya meringkuk di balik selimut hangat, dan satu tangan masih melingkar di perut yang kini menjadi pusat dunia mereka.
Tapi dunia Julian baru saja retak sedikit malam itu.
Bukan karena cinta. Bukan pula karena rindu.
Melainkan karena kenangan.
Dan kehilangan.
Pelan-pelan, Julian menutup matanya. Tapi bayangan wajah sang mendiang mama—wanita yang pernah menyuapinya bubur saat ia sakit di usia dua puluh tiga, wanita yang memanggilnya "anak sendiri" di depan Rachel—muncul begitu nyata dalam benaknya.
Duka itu tiba-tiba terasa terlalu dekat.
🍊🍊🍊
Pagi itu, langit tak terlalu cerah.
Mendung tipis menggantung di atas atap rumah, seolah menggambarkan suasana hati seseorang di dalamnya.
Julian berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja biru gelap dengan raut wajah yang lebih diam dari biasanya. Binar yang tengah duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambutnya memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan tatapan lembut.
"Ada yang Mas pikirin?" tanya Binar, pelan, sambil memutar badannya ke arah Julian.
Julian menoleh sekilas, lalu mengulas senyum kecil—sedikit dipaksakan.
"Nggak kok, cuma kepikiran kerjaan. Hari ini ada meeting di luar. Mungkin Mas pulang agak malam."
Binar mengangguk. Ia percaya. Julian memang sering rapat dengan klien—dan ia sendiri sudah mulai terbiasa.
"Tapi kamu harus tetap makan, ya. Jangan tunggu pulang kalau udah malam."
Julian menghampirinya, mengusap lembut kepala Binar, lalu mengecup keningnya dengan hangat. "Iya, Sayang. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan kecapekan."
Binar tersenyum kecil. "Aku cuma di rumah, kok. Nggak ke mana-mana."
Dan memang benar.
Sejak memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya atas saran dokter dan juga restu dari keluarga besar—terutama karena kandungannya tergolong berisiko tinggi—Binar benar-benar mencoba beradaptasi dengan peran barunya sebagai istri rumah tangga sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Binar Vs Boss (COMPLETED)
RomansaJANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM BACA. Binar dengan gaya ala cegil, ugal-ugalan dan tanpa malu-malu ini menyukai atasan di kantor tempat ia bekerja. Misinya adalah menikah dengan Bosnya yaitu Julian. Apakah Binar bisa meluluhkan hati Julian??
