Happy Reading 🍊🍊🍊
Sudah berulang kali Julian menyampaikan hal itu, tapi baru sore itu ia benar-benar tegas. Ia duduk di samping Binar di sofa ruang tengah, menggenggam jemari istrinya yang mulai membengkak karena kehamilan. Wajahnya tampak tegas namun matanya menyiratkan kecemasan yang sulit disembunyikan.
"Sayang, kamu nggak boleh kerja lagi, ya?" ucap Julian pelan, tapi kali ini tidak dalam bentuk pertanyaan. Lebih terdengar seperti permohonan yang datang dari tempat terdalam di hatinya.
Binar yang sedang menyisir rambutnya perlahan menurunkan sisirnya. Ia menatap Julian dengan kening mengernyit. "Aku cuma duduk di depan laptop, kok. Aku nggak turun lapangan. Aku juga tahu batas, Mas."
Julian menghela napas. Ia tahu betapa Binar mencintai pekerjaannya. Tapi kehamilan Binar bukan kehamilan biasa. Mereka tahu itu sejak awal.
"Bukan soal kamu di depan laptop atau turun lapangan, tapi soal tekanan yang kamu rasakan, kelelahan, dan kondisi tubuh kamu yang bahkan dokter bilang ini sangat langka dan perlu pengawasan ketat."
Seolah mengiyakan, dari balik ruang makan, terdengar langkah kaki Bastian. Ia baru datang dari rumah orang tua Julian dan sengaja mampir karena Julian memintanya menjelaskan langsung pada Binar.
"Kamu tahu aku nggak akan ikut campur kalau nggak penting," ujar Bastian seraya duduk di kursi seberang mereka. "Tapi kehamilan kamu itu tergolong kehamilan triplet monochorionic triamniotic. Bayi kamu tiga, mereka punya kantung ketuban masing-masing tapi satu plasenta. Artinya? Risiko preeklampsia, TTTS, atau bahkan keguguran itu jauh lebih tinggi dari kehamilan normal. Dan kamu kecil, tubuh kamu nggak terbiasa menanggung beban sebanyak itu."
Binar tertunduk, menahan air mata yang mulai menggantung. "Tapi aku nggak mau merasa tidak berguna," bisiknya. "Aku cuma ingin tetap berkontribusi."
Bastian tersenyum lembut. "Kamu justru sedang mengerjakan proyek terbesar kamu, Bi. Tiga nyawa sedang kamu bentuk dalam tubuhmu. Itu kontribusi yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kamu kerjakan di kantor."
Julian menarik tubuh Binar ke dalam pelukannya. "Mas tahu kamu kuat, tapi izinkan Mas melindungi kamu. Kita sudah terlalu jauh untuk mengambil risiko. Mas nggak bisa bayangin kalau sesuatu terjadi ke kamu atau anak-anak kita."
Binar terdiam. Hatinya menghangat oleh perhatian yang mengelilinginya. Meskipun ada sejumput luka karena harus melepas dunia yang ia cintai, tapi jauh lebih besar rasa syukurnya karena dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan nyawanya.
Ia mengangguk perlahan. "Oke, tapi aku tetap boleh nulis di blog pribadi, ya? Sekadar berbagi cerita tentang kehamilan ini."
Julian tertawa kecil dan mencium kening istrinya. "Selama kamu nulis sambil selonjoran dan nggak stres, aku izinkan."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian hari, Binar bisa tidur lebih tenang-bukan karena tak ada kekhawatiran, tapi karena tahu dirinya tidak harus menjalani semuanya sendiri.
Hari-hari pertama tanpa rutinitas kerja adalah hari-hari paling kikuk dalam hidup Binar.
Biasanya pukul tujuh pagi ia sudah duduk di depan laptop, menyesap kopi sambil mengecek surel dan membuat daftar tugas harian. Tapi kini, pukul tujuh pagi justru ia masih berkutat dengan selimut, memeluk guling sambil merutuki rasa mual yang datang dan pergi sesuka hati.
Julian menyebut Binar seperti kucing lucu yang malas bangun. Kadang Binar membalas dengan lemparan bantal.
Tapi seiring waktu, Binar mulai berdamai dengan pagi-pagi yang lambat. Ia belajar mengisi waktunya dengan hal-hal kecil yang dulu tidak sempat ia lakukan-memelihara tanaman hias, mencoba resep baru, menonton ulang drama Korea favoritnya sambil menebak-nebak plot seperti penonton baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Binar Vs Boss (COMPLETED)
RomantikJANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM BACA. Binar dengan gaya ala cegil, ugal-ugalan dan tanpa malu-malu ini menyukai atasan di kantor tempat ia bekerja. Misinya adalah menikah dengan Bosnya yaitu Julian. Apakah Binar bisa meluluhkan hati Julian??
