Happy Reading 🍊
Jarum jam sudah melewati angka tujuh.
Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh.
Langit di luar kaca jendela kantor mulai berubah kelam.
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, begitu pula gedung-gedung tinggi yang mulai berpindah ke mode malam. Suasana kantor kini nyaris sunyi. Hanya suara kipas pendingin ruangan dan langkah sepatu sesekali dari staf yang lembur atau sekadar merapikan meja.
Binar masih duduk di sofa lobi.
Kotak makan siang yang tadi ia bawa kini sudah kehilangan kehangatannya. Tangan Binar memeluk kotak itu erat—seolah masih ingin percaya bahwa semua ini akan berakhir manis. Bahwa Julian akan datang, menatapnya dengan heran, lalu tersenyum dan berkata, "Kenapa kamu datang diam-diam kayak gini?" dan mereka akan tertawa, menghangatkan suasana yang selama beberapa hari terakhir terasa aneh.
Ia ingin percaya itu.
Ia ingin percaya Julian hanya sibuk. Bahwa semua pikiran aneh di kepalanya adalah prasangka yang keterlaluan.
Namun semakin malam, semakin besar ruang kosong di hatinya yang tidak bisa dijelaskan.
Dan yang paling membuatnya ingin menangis adalah: ponselnya tetap diam. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon.
Julian benar-benar tidak datang.
Satu-satu karyawan keluar dari lift, berpamitan pada satpam. Beberapa sempat menoleh ke arah Binar dan memberinya senyum kecil, seolah ingin bertanya mengapa ia masih di sana. Tapi tidak satu pun dari mereka mendekat. Binar hanya membalas dengan anggukan sopan, lalu kembali memeluk kotak bekalnya.
Di sisi lain kota, Bastian memarkir mobilnya dengan buru-buru di depan rumah Julian.
Ia baru saja tiba, dikirim oleh Mama Julian yang mulai cemas karena Julian belum juga pulang, dan pesan terakhir dari putranya hanyalah kalimat pendek
"Kalau sampai jam 7 Binar belum pulang, tolong jemput dia di rumah."
Namun saat Bastian tiba, rumah sepi.
ART yang membukakan pintu tampak kebingungan.
"Loh, Mas Bastian? Ibu belum pulang."
"Belum pulang? Memangnya Binar ke mana?" wajah Bastian langsung menegang.
"Ibu bilang mau ke kantor, mau antar makan siang buat Tuan Julian tapi dari tadi siang belum pulang juga.”
Deg.
Bastian langsung paham. Dada kirinya terasa diremas.
Tanpa banyak bicara, ia langsung kembali ke mobil, tancap gas menuju kantor Julian.
🍊🍊🍊
Di kantor Julian, Bastian menemukannya.
Binar masih duduk di sofa ruang tunggu, sendirian. Kepalanya menunduk, dan tubuhnya tampak lelah—bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwa yang mengering oleh harapan yang tak juga dijawab.
"Binar?" panggil Bastian pelan.
Binar mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembap, tapi ia cepat-cepat menunduk agar tidak terlihat.
"Sudah malam…" suara Bastian lirih. "Kenapa lo nggak pulang?"
"Gue cuma… gue pikir, mungkin Mas Julian bakal datang," jawab Binar. Ia mencoba tersenyum, tapi yang keluar justru sepotong kesedihan yang dalam.
Bastian menatapnya iba.
Ia tahu betul betapa besar rasa yang Binar punya untuk Julian. Dan ia juga tahu, luka yang ditahan sendiri bisa lebih menyakitkan daripada luka yang dijelaskan.
"Lo harus pulang, Bi. Ini udah malam banget. Mama juga khawatir. Aku bawa kamu pulang ya?"
Binar tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Binar Vs Boss (COMPLETED)
RomansaJANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM BACA. Binar dengan gaya ala cegil, ugal-ugalan dan tanpa malu-malu ini menyukai atasan di kantor tempat ia bekerja. Misinya adalah menikah dengan Bosnya yaitu Julian. Apakah Binar bisa meluluhkan hati Julian??
