41. Kelahiran Triplets

2.6K 85 1
                                        

Happy Reading 🍊🍊

Subuh baru saja menyapa saat rasa nyeri pertama menghantam perut bagian bawah Binar. Awalnya ia pikir itu hanya kontraksi palsu. Tapi lima menit kemudian, rasa itu datang lagi—lebih tajam, lebih menyentak.

Binar meringis di atas ranjang, satu tangan memegang perut, satu lagi meraba sisi tempat tidur yang kosong.

"Mas... Mas Julian..." bisiknya.

Tak ada jawaban.

Dengan napas memburu, Binar mengambil ponsel. 03.19. Pagi buta. Julian belum kembali ke kamar sejak semalam bekerja di ruang kerja bawah.

Ia coba berdiri, tapi kaki lemas. Sebuah cairan hangat tiba-tiba mengalir di sela-sela kakinya.

Ketubanku…

"MAS!!"

Teriakannya memecah keheningan rumah.

Dalam hitungan detik, suara langkah kaki berhamburan. Julian muncul lebih dulu, rambut berantakan dan mata panik.

“Sayang! Ada apa?!”

“Mas... air ketubanku pecah... sakit, mas...”

Julian langsung mengangkat tubuh istrinya tanpa pikir panjang.

“MAA!! BASTIAN!! KAK!! BANGUN!! BINAR MAU LAHIRAN!!”

Dan seperti bom waktu yang meledak, rumah itu berubah jadi ladang kepanikan.

“ASTAGAAA!! Sudah pecah ketubannya?!” Mama Julian keluar dengan daster dan hair cap masih menempel di kepala.

“Mana tas rumah sakitnya?! Siapa yang udah siapin?!” Kakak Julian setengah berlari keluar kamar dengan sandal jepit tidak sepasang.

Bastian, yang baru bangun tidur, melongo sambil membawa bantal. “Apaan sih, lo semua rame banget... EH??! LAHIRAN? SEKARANG?!”

“Mama udah bilang dari bulan lalu, tasnya ditaruh dekat pintu!” jerit Mama Julian sambil ikut-ikutan panik.

“Udah di mobil! Ayo semua siap, kita ke rumah sakit sekarang!!” Julian memapah Binar sambil terus menenangkan. “Sayang, tarik napas, ya. Kamu kuat, ya, kamu hebat, kita ketemu anak-anak kita hari ini.”

Mobil melaju kencang di jalan yang masih sepi. Di kursi belakang, Binar menggenggam tangan Julian erat-erat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Aduh, Mas... sakit banget..." desisnya.

"Sabar, sayang. Kita bentar lagi sampai. Kamu tahan, ya, tahan dulu..."

Saat mereka tiba di IGD rumah sakit, tim medis langsung sigap menangani. Julian nyaris tak melepas genggaman tangan Binar sampai dokter berkata dengan tegas, “Kami harus segera bawa ibu ke ruang operasi, Pak Julian. Kembarannya sudah mulai turun. Waktunya sangat sempit.”

Julian menatap istrinya, lalu menunduk, mencium keningnya.

“Mas tunggu di luar. Anak-anak kita hebat. Aku cinta kamu.”

Binar hanya bisa mengangguk, matanya penuh air, hatinya penuh harap.

Pintu ruang operasi tertutup. Waktu berhenti di luar. Di ruang tunggu, Mama Julian tak henti komat-kamit berdoa. Kakak Julian mondar-mandir. Bastian duduk tak tenang. Dan Julian...

...Julian hanya menatap pintu itu tanpa berkedip.

Di balik pintu itu, ada dunia baru yang sebentar lagi akan terbuka. Dunia yang akan mengubah segalanya.

Di dalam ruang operasi, lampu sorot menyilaukan menimpa wajah pucat Binar. Napasnya memburu, sementara tangan dokter dan bidan sibuk mempersiapkan segala perlengkapan.

Binar Vs Boss (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang