[Transmigrasi Series]
Realyn Tamara, seorang gadis berusia 22 tahun itu tidak menyangka akan masuk kedalam novel yang terakhir dibacanya, jiwanya masuk kedalam tubuh seorang tokoh utama yang sayangnya diakhir cerita dia akan mati di tangan orang yan...
Berjalan menyusuri hutan yang lebat dan tinggi, di sinilah Realyn berada. Setelah memesan roti untuk gadis kecil bernama Rhyns, Mereka langsung pergi menuju rumah Rhyns.
Rhyns memimpin jalannya duluan, lalu diikuti oleh Realyn, dan terakhir Bia.
Di hutan ini banyak sekali ranting-ranting pohon yang menjuntai ke bawah. Jadi saat berjalan mereka bertiga harus berhati-hati saat melangkah.
Realyn jadi berpikir, apa Rhyns setiap hari harus melewati hutan ini jika ingin ke pasar? Di hutan ini pasti banyak rintangannya bukan? Entah itu bahaya dari serangan hewan buas, atau manusia seperti bandit.
Apa lagi umur Rhyns masih terbilang masih kecil, Rhyns bilang usianya 9 tahun.
Srekkk
"Awsh!" ringis Realyn saat tak sengaja sikutnya terkena sebuah ranting panjang yang cukup tajam dan membuat sikutnya terluka mengeluarkan darah.
"Astaga, Putri!?" panik Bia berlari mendekati Realyn, Bia semakin panik saat melihat Realyn terluka. Tanpa pikir panjang Bia merobek ujung bawah gaunnya dan melilitnya pada luka Realyn.
Bia mengikatnya lumayan kencang agar darah yang keluar tidak terlalu banyak.
"Kakak, apa kau tidak apa-apa?" tanya Rhyns.
Realyn menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, "Tidak papa, ini hanya luka kecil."
"Rhyns, apa rumahmu masih jauh?" tanya Realyn, jujur saja tubuhnya mulai lemas, ia merasa haus sekarang.
"Masih, Kak."
Bia menopang tubuh Realyn saat merasa tubuh nonanya itu terlihat lemas.
"Nona, apa Anda masih kuat?" bisik Bia.
Realyn menoleh lalu kemudian mengangguk. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan kembali melangkah di belakang Rhyns.
Baru saja berjalan tiga langkah, Realyn malah kehilangan keseimbangannya dan terjerembab ke tanah dengan posisi tengkurap.
"Nona!" Teriak Bia panik.
Bia mengangkat tubuh nonanya, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajar Realyn.
Bia dibuat panik saat melihat Realyn menutup matanya. "Nona, saya mohon buka mata Anda, Nona." Bia menepuk-nepuk pipi Realyn berusaha membangunkannya.
Bia benar-benar takut, bagaimana jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Realyn, Duke Shavonne pasti tidak akan memaafkannya dan akan membunuhnya detik itu juga.
Membayangkan hal itu, Bia menggeleng keras, ia menelan ludahnya susah payah. "Nona, saya mohon, sadarlah." Bia mulai terisak di tempatnya. Sementara Rhyns ia bingung harus melakukan apa.
"A-air, Aku h-haus," ucap Realyn dengan suara serak.
Bia sedikit merasa lega, setidaknya Realyn masih sadarkan diri.
Mendengar itu Rhyns bangkit dari tempatnya, "Aku akan membawakan air untuk Kakak, Kakak tunggulah di sini, aku akan segera kembali." Rhyns langsung pergi begitu saja tanpa bisa mereka cegah.
"Putri, bertahanlah. Jangan tutup mata, Anda." ucap Bia sedikit bergetar.
Realyn diam tak menjawab, ia mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha untuk sadar. Tangannya memegang lehernya, tanpa sadar sebuah cahaya keemasan muncul dari kalung pemberian Duke Shavonne saat tak sengaja menyentuh telapak tangannya.
Saat membuka matanya kembali, Realyn terkejut melihat sekelilingnya. Ruangan serba putih yang menyilaukan, Realyn tidak mengerti apa yang terjadi.
Apakah saat ini dirinya sudah mati dan akan pergi ke akhirat sekarang juga?
Mata Realyn menyipit saat melihat cahaya keemasan tiba-tiba muncul di depannya.
Karena penasaran, ia menghampiri cahaya itu. Sedikit lagi, tubuhnya akan masuk tertelan cahaya itu.
Realyn memejamkan matanya saat cahaya menyilaukan masuk ke matanya setelah ia sepenuhnya masuk ke sana.
Perlahan Realyn membuka matanya, seketika ia dibuat takjub dengan apa yang dilihatnya. Kini ia berada di tempat yang di sekelilingnya banyak pepohonan rindang dan hamparan bunga. Udara di sini sangat sejuk dan menenangkan.
Ia tak tau tempat apa ini sebenarnya. Namun, Realyn begitu menyukainya. Ia melangkah perlahan menyusuri tempat itu, ia menoleh saat mendengar suara air mengalir. Dengan cepat Realyn berjalan ke arah sumber suara.
Realyn menghentikan langkahnya saat melihat sebuah sungai mengalir di depannya. Ia mendekat ke arah sungai itu, airnya terlihat sangat jernih seperti air yang mengalir dari mata air langsung.
Realyn menumpukan lututnya di tanah, perlahan ia memasukan tangannya pada sungai itu. Sensasi dingin menusuk kulitnya.
Air sungai ini sangat jernih, tidak seperti air sungai biasanya. Kebetulan sekali, saat ini ia benar-benar merasa haus. Realyn mengambil air itu untuk ia minum dengan menggunakan kedua tangannya.
Realyn meminumnya dengan menggunakan kedua tangannya dengan sekali teguk, air itu rasanya sangat segar.
Rasa haus yang ia rasa langsung hilang, Realyn juga merasakan kalau tubuhnya menjadi lebih ringan dari sebelumnya.
Ia bangkit dari tempatnya sembari menatap lamat kolam di depannya, "Sebenarnya, tempat apa ini?" gumamnya.
"Apa gue bakal kejebak di tempat ini?" sambungnya.
"Realyn."
Ia menoleh ke belakang saat mendengar ada yang memanggil namanya. Pupil matanya melebar saat melihat seseorang di sana.
"Kakak!?"
☾︎──────°❀•°✮°•❀°──────☽︎
To Be Continued
Hay aku kembali, sebelum akhirnya kabur lagi
Tadinya aku mau double up, tapi nunggu rame dulu, nanti baru up lagi🏃🏻♀️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.