Bab 28

3K 192 73
                                        

Tandai kalau ada typo

Happy Reading

☾︎──────°❀•°✮°•❀°──────☽︎

"Tidak becus! Kenapa gadis tidak berguna itu bisa lolos!?" gertak Selir Frisca, amarahnya meluap seketika.

"Menjawab Yang Mulia, kemungkinan besar ada seseorang yang membantu Putri Ellyana dan sudah pasti bandit suruhan Anda dihabisi orang itu." Jawab prajurit itu pelan tak berani menatap ke depan.

Selir Frisca beranjak dari tempatnya, ia mendekati prajurit itu dan mencengkram lehernya. "Tapi siapa?! Katakan padaku siapa yang berani ikut campur masalahku!" Murkanya.

"Mohon ampun Yang Mulia, Hamba tidak tahu siapa orang itu karena orang itu tidak meninggalkan satu jejak apapun," ucap prajurit itu dengan napas tercekat.

Melepaskan cekikannya dan mendorong kasar prajurit itu, ia kembali duduk di tempat semula. "Sial! Siapapun dia, pasti orang itu memiliki hubungan dengan gadis tidak berguna itu!" geram Selir Frisca dengan tangan yang mengepal erat.

"Tapi Yang Mulia, bukankah selama ini hanya Putra Mahkota yang dekat dengan Putri Ellyana?"

"Itu memang benar, dan jika benar Putra Mahkota yang melakukannya, aku tidak bisa menganggap remeh dirinya."

"Kau pergilah, tetap awasi gadis itu," lanjutnya sambil mengibaskan tangannya menyuruh prajurit itu pergi dari kamarnya.

Setelah prajurit itu pergi, tangannya mengambil gelas dan mengangkat gelas itu. Matanya berkilat tajam.

Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman licik. "Mungkin kau bisa lolos kali ini, tapi tidak untuk lain kali. Entah itu kau dan ibumu, aku akan menyingkirkan kalian berdua dari sini," desisnya tajam.

°❀•°✮°•❀°

"Kau masih ingat apa kata Tabib? Kau harus istirahat total sampai benar-benar sembuh."

Mendengar itu Realyn memutar bola matanya malas. Menurutnya, Pangeran Edgar terlalu lebay.

"Aku cuma kelelahan, Kak. Bukan sekarat."

"Tetap saja. Dan kau dilarang keluar kamar sampai lukamu sembuh!" tegas Pangeran Edgar.

Realyn melirik ke arah Duke Shavonne dengan niat ingin protes. "Ayah—"

"Tidak, Lyana. Kakakmu benar. Turutilah perkataannya," potong Duke Shavonne sebelum putrinya selesai bicara.

Realyn mendengus pelan. Tatapannya beralih pada Duchess Calista yang duduk di sampingnya. Namun sang ibu hanya memberi isyarat tegas untuk menurut.

Dengan perasaan jengkel, Realyn memilih diam. Ia menatap perban di lengannya lalu menghela napas panjang, padahal ia ingin sekali tahu kondisi Rhyns dan sang ayah.

"Kami pergi dulu, sayang. Beristirahatlah" ucap Duchess Calista lembut sambil mengecup keningnya.

"Selamat malam, Ibu," Realyn membalas dengan senyum tipis sebelum ibunya keluar.

Saat semuanya sudah pergi, Realyn merebahkan dirinya sambil menatap langit-langit kamarnya. Banyak hal berputar di pikirannya. Banyak hal aneh yang terjadi padanya hari ini. Karena belum mengantuk, ia bangkit dari ranjang dan melangkah pelan ke arah jendela yang menghadap halaman kediaman.

Second Life Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang