Bab 17

6.4K 401 33
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Malam harinya, baik Hendrick maupun Realyn. Mereka telah siap dengan penampilan nya masing-masing.

Mereka bertemu di ujung tangga tempat mereka berpisah tempat tadi.

Hendrick terpana melihat penampilan Realyn yang sangat cantik. Tidak! Gadis itu benar-benar cantik dengan gaun berwarna ungu muda nya.

Gaun bermodelkan off shoulder, membuat leher jenjang gadis itu terekspos dengan jelas.

Kulit putih bak pualam itu pun sangat kontras dengan warna gaun yang di pakai gadis itu, riasan wajah yang terlihat natural tidak seperti dulu yang selalu tebal.

Membuat matanya betah menatap gadis itu lama-lama, bahkan rambut panjang yang menjuntai sepunggung gadis itu pun di tata dengan sangat rapih.

Tak jauh berbeda dari Hendrick. Realyn pun terpana melihat rupa pria itu, sangat-sangat sempurna untuk ukuran tokoh utama.

Badan tegap dan kekar yang terbalut dengan jas hitamnya, alis nya yang tebal, hidung mancungnya dan bibir yang jarang tersenyum namun sangat sexy, tatapan matanya yang tajam mampu menghipnotis siapa saja yang melihat nya dan gaya rambutnya yang rapih.

Hendrick mendekat ke arah Realyn menatap dalam mata coklat gadis itu.

"Kau cantik," puji Hendrick menampilkan senyum tipisnya.

Bisa Realyn rasakan pipinya memanas, peredaran dalam tubuhnya terasa mengalir begitu cepat dengan debaran jantung yang menggila. Realyn Berdehem kecil.

"Terima kasih Yang Mulia, Anda juga sangat tampan," ujar Realyn dengan malu-malu ia menundukkan wajahnya berusaha menutupi wajahnya yang sudah di pastikan memerah.

"Bisakah kau memanggil namaku seperti dulu?"

Realyn mendongak, "Saya harus memanggil Anda apa Yang Mulia?"

"Panggil namaku."

"Tidak sopan jika saya memanggil Anda seperti itu."

"Aku tidak menerima bantahan, dan berhenti bicara formal padaku." Tegasnya, Realyn mendengus kasar, pria ini memang suka bersikap seenaknya tak lama Realyn memilih nenuruti nya saja.

"Baiklah-"

"Liam," ucap Hendrick cepat membuat Realyn tak mengerti.

Hendrick yang memahami kebingungan gadis itu langsung menjelaskan nya.

"Panggil aku Liam."

"Itu adalah nama panggilan khusus yang kau berikan untukku bukan?" Lanjut Hendrick.

***

"YANG MULIA MAHKOTA HENDRICK WILLIAM HANZELL DAN PUTRI ELLYANA JOVANKA SHAVONNE MEMASUKI RUANGAN." Teriakan seorang kasim membuat orang-orang yang di dalam ruangan itu pun mengalihkan pandangannya menatap dia orang yang baru masuk itu.

Second Life Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang