Halooow, part baru sudah hadir hihi, semoga sukaa ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
Happy Reading
☾︎──────°❀•°✮°•❀°──────☽︎
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai kamar, membuat sang pemilik kamar menggeliat kecil dan mengerjap beberapa kali, membiasakan diri dengan cahaya yang masuk.
Realyn mengubah posisinya menjadi duduk, ia terdiam sejenak untuk beberapa menit untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka perlahan. Realyn tak menoleh karena sudah tau siapa itu.
"Selamat pagi, Nona. Apakah Anda semalam tidur dengan nyenyak?" tanya Bia lembut. Sementara Realyn hanya mendengus sebagai jawaban.
Bagaimana bisa ia tidur nyenyak setelah semua ini. Memperhatikan Bia yang sedang membuka tirai jendelanya, ia mendengus pelan saat teringat bahwa dirinya belum bisa keluar dari kamar.
"Ck! Kapan luka ini cepat sem-buh ...," ucap Realyn dengan nada pelan di akhir ucapannya terkejut saat melihat pergelangan tangannya
Tangan satunya bergerak menyentuh pergelangan tangan yang semalam masih diperban dan kini perban itu sudah terlepas dengan sendirinya.
"Sembuh?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Ia meneliti kulitnya yang kini bersih tanpa luka seolah tak pernah luka sebelumnya. Padahal Realyn ingat dengan jelas bagaimana dalamnya luka di tangannya itu.
"Bagaimana bisa lukanya hilang begitu saja?" gumamnya.
Ia mengingat jelas perkataan tabib bahwa lukanya itu cukup dalam dan butuh waktu lama untuk bisa sembuh, bahkan tadi malam lukanya itu masih terasa nyeri. Tapi sekarang, tidak ada rasa sakit sedikit pun.
"Bia! Lihat ini, lukaku sembuh!" Pekik Realyn heboh.
Bia yang sedang menyiapkan peralatan mandi Realyn terkejut, dan beralih mendekati nonanya.
"Luka Anda ... hilang?" tanya Bia tak percaya. Padahal semalam baru saja ia yang menggantikan perban di lengan nonanya.
Beranjak dari tempatnya dengan cara melompat dari tempat tidur, Realyn tak peduli bagaimana lukanya itu bisa sembuh tiba-tiba. Yang terpenting ia sudah tidak akan terkurung di dalam kamar lagi seperti kemarin.
"Yashhh! Aku bebas!" Pekik Realyn senang. Berjalan dengan penuh semangat menuju tempat pemandian meninggalkan Bia yang masih terheran-heran dengan kejadian pagi ini.
°❀•°✮°•❀°
"Ellyana, apa yang kau lakukan di sini? Pergi ke kamarmu, lukamu masih belum sembuh." Titah pangeran Edgar yang melihat adiknya berkeliaran di lorong istana
Realyn yang ingin belok ke arah dapur pun menghentikan langkahnya saat mendengar suara kakaknya itu.
Ia memilih menghampiri pria itu. "Lukaku sudah sembuh kak," ucap Realyn saat di depan pria itu.
Pangeran Edgar memandang adiknya dengan tatapan tidak percaya, "Jangan berbohong pada kakak, masuk ke kamar mu sekarang dan istirahatlah."
"Aku berkata jujur, lihat ini." Tanpa berkata banyak, Realyn menarik lengan bajunya hingga ke siku, memperlihatkan kulitnya yang mulus tanpa bekas luka sedikit pun.
Melihat tindakan adiknya yang tiba-tiba, pangeran Edgar menyuruh kedua pengawal yang selalu mengikutinya untuk menutup matanya.
"Kakak lihat, kan? Tidak ada luka, Bahkan aku bisa menggerakkan tanganku seperti biasa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Life
Fantasy[Fantasy Kingdom Series] Realyn Tamara, seorang gadis berusia 22 tahun itu tidak menyangka akan masuk kedalam novel yang terakhir dibacanya, jiwanya masuk kedalam tubuh seorang tokoh utama yang sayangnya diakhir cerita dia akan mati di tangan orang...
