Saya bangun, Adara

58.4K 415 26
                                        

Adara berharap Mbak Putri tidak melihatnya sedang 'melayani' Edo di mobil.


***

Ketika Adara terjaga, Edo tak ada di sampingnya. Dia turun dari tempat tidur. Ke kamar mandi. Melihat pria itu sedang mencukur kumis tipisnya di depan kaca dekat westafel.

Adara membelai-belai punggungnya. "Pagi, Pak Edo."

"Pagi, Honey." Edo menoleh pada kekasihnya yang melepas baju tidurnya. "Cepat mandinya. Nanti kesiangan."

"Aku yang kesiangan atau kamu yang kepagian?" Adara memasukkan bajunya ke keranjang khusus pakaian kotor. "Ini masih jam berapa, Honey."

"Iya. Tapi kamu kan mandinya lama. Belum sarapannya."

"Tenang saja. Aku tidak pernah terlambat."

"Ah, kata Putri kamu datangnya mepet mulu."

"Ya tetap saja tidak terlambat."

"Datang pagian lebih baik."

"Kata siapa?"

"Ya kata saya."

"Mau datang pagian gajinya juga sama." Adara memutar keran di bawah shower. Pancuran air turun ke tubuhnya.

Edo selesai dengan cukurannya. Setelah mencuci wajahnya dengan air, dia mampir ke bilik shower. "Honey."

Kekasihnya yang sedang menuangkan sampo ke rambutnya, menoleh. "Ya?"

"Jangan terlalu mikirin gaji."

Adara tertawa. "Pak Edo gimana? Memangnya bayar pemeliharaan apartemen pakai apa? Bensin? Pajak mobil? Biayai kebutuhan sehari-hari? Kan semuanya pakai uang. Uangnya dari gaji."

"Saya tahu, tapi kamu kan pacar saya. Masa pacar saya memusingkan uang, sih?"

"Bukan pacar Pak Edo saja. Semua orang juga memikirkan uang!"

"Honey, saya boleh terus terang?"

"Memangnya selama ini tidak terus terang?" Setelah membasuh rambutnya, Adara mengeluarkan cairan sabun dan mengoleskannya ke seluruh tubuhnya.

Sesaat Edo terpaku. Memandang tubuh indah pacarnya. Namun fokusnya kembali lagi.

"Bukan... bukan gitu, Honey. Saya selalu jujur sama kamu. Honey. Saya mau kamu jangan menggalaukan apapun. Kalau kamu butuh uang, kan ada saya."

"Huh. Gayanya," goda Adara diikuti tawa sedikit meremehkan. "Ya sudah sana siap-siap. Aku nggak kelar-kelar mandinya diajak ngomong gini."

"Honey."

"Apa, Pak Edo?"

Mata Edo turun ke dada perempuan itu. Tanpa mengeluarkan kata apapun Adara mengerti.

"Jangan. Muntah nanti," jawab Adara mengelak.

"Kenapa muntah?"

"Kan lagi disabunin."

"Saya yang sabunin, deh."

"Ngapain? Memangnya saya anak kecil, mandi saja dibantuin?" sahut Adara bingung.

"Iya. Kamu kan gadis kecilnya saya." Edo mengedipkan satu matanya.

"Gadis kecil?" ulang Adara. Kali ini tawanya lebih keras. "Kita saja seumuran, Hun! Masa gadis kecil."

"Kelakuan kamu yang kayak gadis kecil." Edo mengulum senyum. Tangannya terulur ke dada Adara yang sudah dilumuri busa-busa sabun. Diolesnya bagian kanan, lalu kiri.

Adara tidak kaget saat tangan itu turun lebih ke bawah lagi. Ditahannya pergelangan tangan pria itu.

"Nanti terlambat." Dia mengingatkan.

"Sebentar," jawab Edo menawar. "Ayolah. Or4l ini."

"Nggak adil."

"Nggak adil?"

"Masa Bapak terus yang nyentuh saya? Saya juga mau lagi. Bl*wj*b tipis-tipis."

"Jangan, deh."

"Kenapa jangan?"

"Takut keterusan. Bisa-bisa nggak ngantor kita."

"Nah itu perasaan saya!" sergah Adara. "Memang ini di-finger!ng? Menyiksa sudahnya! Karena pengen lanjut... ah sudahlah!"

"Sesekali terlambat nggak apa-apa kali ya? Saya..." Edo melirik ke bagian bawahnya sendiri. "Bangun."

"Nggak mau, ah! Bapak sih enak Bos. Saya? Bawahan! Kalau terlambat, siap-siap gaji dipotong! No no no! Sudah, biarkan saya mandi!"

"Hun."

"Apa?"

Edo mengecup bibir Adara kilat. Lalu pria itu meninggalkan kamar mandi. Dia tahu jika dia lebih lama di sana, dia tidak akan bisa mengendalikan diri.

**

Adara dan Edo berangkat bersama-sama. Agar hubungan mereka tidak ketahuan, Edo menurunkan Adara di tempat yang agak jauh dari gedung kantor mereka.

Sambil mengemudi satu tangan Edo meremas paha Adara. Diberitahunya kekasihnya bahwa dia masih 'bangun'. Terang perempuan itu menolak.

"Ya nggak di mobil juga, Hun," tegur Adara.

"Di ruangan saya gimana? Nanti saya pura-pura butuh bantuan kamu."

"Di kantor?!" sahut Adara kaget. "Yang... yang benar saja! Pak Edo ini! Tidak takut di-gap?"

"Ya kan dikunci pintunya," jawab Edo santai.

"Mana enak di ruang kerja."

"Tahu dari mana tidak enak? Pernah memangnya? Sama siapa?" sahut Edo tanpa menyembunyikan kecemburuannya.

Adara berdecak kesal. "Mulai deh. Nuduh-nuduh nggak jelas."

"Ya gimana nggak nuduh kamunya cantik gini." Remasan Edo di paha Adara menguat.

Adara membawa tangan itu ke paha pria itu sendiri. "Nggak. Kamunya saja menyebalkan."

"Iya maaf deh saya menyebalkan," jawab Edo tidak mau memperpanjang masalah. "Bagaimana? Coba ya nanti di ruang kerja."

"Aku cuma bingung. Bagaimana melakukannya? Biasanya kan di kasur."

"Ya banyak. Bisa di meja. Di sofa. Sambil berdiri juga bisa."

"Ish! Pikiran kamu nih. Se*s mulu!"

"Ini juga karena kamu saya begini," jawab Edo membela diri. "Yang biasanya hyper siapa? Saya atau kamu?"

"Iya deh. Tapi jangan di kantor, ya."

"Ya sudah sekarang saja. Kebetulan nih. Macet."

Adara memandang pria itu sejenak. Edo tak pernah menolaknya setiap dia menginginkan 'itu'. Hingga Adara iba jika dia tidak mengindahkan Edo yang masih bangun-bangunnya.

Tangan Adara menurunkan retsleting celana pria itu. Dia menunduk di dekat paha Edo.

Lagi asyik mengulum, Edo tiba-tiba mengagetkannya. "Jangan naikin kepala kamu, ya."

"Huh?"

"Itu. Ada Putri lagi nyebrang. Duh dia lihat saya, lagi."

"Serius?"

Edo menahan kepala Adara. Makin masuk pulalah junior itu ke mulut Adara sampai rasanya menohok tenggorokannya.

Lenguhan Edo terdengar. Adara tak hanya mengesapnya. Dia meremasnya sampai pria itu keluar di dalam mulutnya.

Edo menepikan mobilnya di gedung biasa Adara turun. "Thanks ya, Hun."

"Tadi Mbak Putri nggak lihat aku, kan?" tanya Adara sambil merapikan bajunya.

"Hopefully."

"Hopefully?!" ulang Adara dengan nada tinggi. Dia pun gugup. Takut dicecar berbagai pertanyaan sesampainya dia di kantor nanti.



** i hope you like the story **

Your Wish, Honey | 21+ #CompletedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang