Mengusir Edo

4.8K 125 30
                                        

Edo meminta Adara untuk jadi simpanannya selama pria itu menjalin hubungan dengan Alena.

**

Adara mendorong-dorong Edo ke pintu. Dia jengkel. Tak mau dia dengar penjelasan pria itu. Lagipula apa yang harus dia ketahui? Kenyataannya Edo memang cuek dan malah asyik-asyikan dengan perempuan lain!

Edo berusaha menahan tubuh Adara. Namun tatapan Adara yang penuh kebencian melemahkannya.

Dia pun sampai keluar pintu apartemen.

"Jangan ke sini lagi!" bentak Adara murka.

"Adara, Adara."

"Apa?"

"Baju-baju saya kan masih di dalam."

Adara mendesis. "Memangnya kamu tidak punya baju lagi? Hah? Kamu kan bos! Tinggal ke mal. Beli baju-baju yang baru saja!"

"Ya kenapa harus ke mal kalau bisa ambil sekarang?"

"Jadi kamu setuju, untuk mengemasi barang kamu?"

"Honey." Wajah Edo berubah jadi melas. "Masa kamu usir saya sih?"

"Ya kenapa nggak? Kamu saja nggak mikirin aku. Ngapain aku terima-terima kamu lagi di sini?"

"Saya selalu mikirin kamu."

"Bohong kamu." Adara membalikkan tubuhnya. Membiarkan Edo masuk lagi ke apartemennya.

Adara berjalan ke kamar. Diikuti Edo. Begitu sampai sana, Edo terbelalak melihat Adara menarik kemeja-kemeja Edo dari gantungan lemari.

Adara melempar-lemparnya ke tempat tidur.

"Honey! Kamu serius saya tidak mau tinggal di sini lagi?" tanya Edo tak percaya.
"Honey! Jawab!"

"Yang kita lakukan ini salah, Edo."

"Kamu ngomong apa?" Edo mengunci tubuh Adara. Ditahannya kedua bahu perempuan itu. Mata Edo menatapnya tajam. "Apa maksud kamu ngomong begitu, Adara?"

"Kamu di sini tinggal bayar. Mau s*ks juga aku kasih. Urusan baju? Aku juga yang urus laundry-nya. Kamu itu... nggak mau serius sama aku! Kamu cuma manfaatkan aku, Edo!"

"Saya tidak memanfaatkan kamu. Saya cinta sama kamu!"

"Omong kosong!" Adara menarik diri dari pria itu. "Kalau kamu cinta kenapa kamu sama perempuan yang direstui sama mama kamu? Kenapa, Edo?!"

"Ini yang mau saya jelaskan. Makanya beri saya kesempatan untuk bicara!"

"Katakan!"

Edo membuang napas berat. "Ayah Alena yang punya perusahaan sepatu. Beberapa pabriknya akan dibangun oleh perusahaan saya. Nominal proyeknya gede. Saya tidak bisa menolak Alena. Tidak dengan tawaran proyek yang sebesar itu. Jadi...."

"Apa?"

Pria itu tak kunjung bicara.

"Apa?!" Adara mendesak.

"Saya menjalin hubungan sama dia." Adara melotot. Edo cepat menyergah, "Cuma sementara! Setidaknya sampai taken kontrak dan proyek itu selesai!"

"Oke kamu sama dia. Lalu aku gimana? Aku gimana, Edo?"

"Sementara kita pura-pura saja berpisah. Pacaran diam-diam seperti sebelumnya."

"Kenapa harus pura-pura?! Kenapa tidak putus betulan saja?"

"Ya nggak mungkin dong, saya cintanya sama kamu!"

"Kalau kamu cinta sama aku, seharusnya kamu pilih aku!" jawab Adara gemas.

"Ini bukan soal cinta. Ini tentang bisnis."

"Dan bisnis lebih penting daripada aku?"

"Adara, jangan buat saya menyakiti kamu dengan jawaban saya."

Amarah Adara tak bisa terbendung. Dia raih kemeja Edo. Dibuangnya ke satu-satu ke muka pria itu.

"Kamu tuh.. memang lebih pintar. Atau lebih licik!" semprot Adara. "Kamu jual diri kamu untuk proyek. Bisnis. Uang! Sementara aku! Kamu biarkan aku serahkan semuanya untuk... untuk apa? Untuk pria seperti kamu?" Adara tertawa miris. "Pergi, Edo! Jangan harap kamu ketemu aku lagi."

"Honey, tolong dong berikan pengertian kamu ke saya," kata Edo mengiba-iba. "Saya tidak sampai menikahinya. Kamu tunggu saya ya?"

"Tidak. Aku tidak mau jadi simpanan! Sekarang bawalah barang-barang kamu keluar semuanya!"

Bisa saja Adara menerima tawaran itu. Mungkin saja pria itu masih bisa dipercaya. Sayangnya siapa yang menjamin Edo tidak akan tertarik pada perempuan bernama Alena-Alena itu?

Sekali lihat saja Adara sadar bahwa perempuan itu cantik. Dan pasti lebih baik daripada Adara. Itulah kenapa ibu Edo merestui Alena bukan Adara.

Alena bukan hanya saja suci. Tapi dia bisa membawa Edo akrab lagi dengna orangtuanya!

Adara ingat kakaknya. Dia tidak mau Edo menjelma menjadi Arjuna. Yang membenci keluarganya. Yang mengasingkan diri bersama perempuan yang dia cintai.

Tidak bisa Adara pungkiri dia benci pada istri kakaknya yang menguasai Arjuna. Dia tidak sudi jadi seperti istri kakaknya.

Lebih baik dia dan Edo berpisah saja. Mereka cocok menjadi teman tidur. Belum tentu bisa jadi suami-istri.

Your Wish, Honey | 21+ #CompletedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang