"Aku bukan gay!"
"Aku bilang, AKU BUKAN GAY!"
--------------------
Tidak cukup dirundung karena fisik dan gaya hidupnya, Kaivan juga harus merasakan sakit ketika seksualitasnya dipertanyakan.
Awalnya Kaivan berusaha untuk tak ambil pusing dan memili...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mengisi lembar demi lembar
-Arga Dirgantara-
Fokus Arga pada layar televisi terdistraksi mendengar Kaivan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tengah.
Arga yang sebelumnya tiduran di sofa segera mengubah posisinya menjadi duduk. Tangan kirinya terangkat sebagai tanda mempersilakan Kaivan untuk bersandar padanya.
Kaivan tak menolak. Dia langsung duduk di sebelah Arga dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri Arga.
Tidak ada pembicaraan setelahnya. Arga kembali fokus pada tontonannya dengan tangan kirinya membelai-belai pelan rambut Kaivan.
Gerakan tangan Arga pada rambutnya membuat kedua mata Kaivan mengantuk. Kaivan menurunkan badannya dan Arga langsung mengambil sebuah bantal agar Kaivan lebih nyaman.
Tangan kiri Arga yang sebelumnya membelai kepala Kaivan berganti jadi menepuk-nepuk pelan dada Kaivan.
"Tadi kerjaan kamu banyak ya?"
Arga membuka obrolan, merasa acara di hadapannya sudah tidak seseru itu.
Kaivan mengangguk pelan dengan pandangan masih pada televisi.