PIJAT TURUNAN BAPAKCHAPTER 16
RONI P.O.V
Tanyakan kepadaku bagaimana tidurku semalam, maka ku akan menjawab, nyenyak sekali sampai sampai aku tidak bermimpi sama sekali, bagaimana tidak, bukan hanya kepuasan batin yang aku dapatkan dari Kang Maman, dan jujur harus aku akui, Kang Maman memang nikmat, aku tidak mennyangka bisa seenak itu bermain dengan Kang Maman, selain kenikmatan batin, aku juga dibeiran sejumlah uang yang lumayan darinya, plus bonus untuk jajan katanya, jadi hari ini aku tidak perlu khawatir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan uang.
Subuh aku sudah bangun, mandi langsung, menghilangkan rasa lengket hasil dari semalam, membuat badan kembali menjadi lebih fresh, setelah itu aku menyapu halaman rumah yang dipenuhi oleh daun daun kering yang berjatuhan. Langit masih gelap, udara diluar begitu sejuk dan tenang, suara kicau burung juga masih belum terdengar, hanya suara ayam yang berkokok dari jauh terdengar, nyaman sekali tinggal didesa.
"Ron! wihh, masih subuh udah nyapu aja, rajin banget!." Suara seorang pria mengagetkanku, tentu saja, suasana masih gelap dan secara tiba-tiba ada suara yang menyapaku, aku melihat ke arah sumber suara, dari atas turun seseorang, ia sepeti berlari kecil ke arahku.
"Pak RT?." Ucapku heran ketika wajahnya sudah terlihat karena cahaya lampu dari halaman rumah.
"Rajin amat Ron!." Ujarnya lagi, aku hanya terkekeh mendengar ucapannya.
"Pak RT juga, jam segini lho, udah olahraga aja." Balasku, memuji balik Pak RT. Ia memakai celana training panjang dan jaket parasit, memang sedang berolahraga.
"Bukan olahraga ini mah Ron, jalan-jalan aja, biar bugar."
"Ya jalan jalan juga olahraga Pak, kenapa enggak ke lapang desa aja Pak?." Tanyaku.
"Males ah, kudu jalan jauh, disini aja wehhh, paling ntar lewat jalan sawah itu, kan sekarang mah udah dibangun jalan desa, jadi nggak cuman tanah licin doang, biar sekalian ntar pulangnya jemur badan." Jawab Pak RT panjang.
"Nahhh, ide bagus itu Pak."
"Hayu atuh mau ikut lari bareng?." Ajaknya, aku terkekeh kemudian menggelengkan kepalaku.
"Lain kali aja Pak, masih harus beberes rumah dulu." Tolakku halus.
"Yaudah atuh, Bapak duluan ya Ron." Aku mengangguk, ia kembali berjogging, menjauh dari area halaman rumahku, menuju ke arah jembatan. Jika kalian berfikir Pak RT adalah seorang pria tua, kalian salah, dia baru berusia lima puluh tahun, kenapa aku tahu? karena tahun kemarin keluarga Pak RT merayakan ulang tahunnya dengan membagikan nasi kotak dan bingkisan untuk warga RT nya, kebetulan disertai dengan foto dan tulisan usia keberapa. Memang wajah Pak RT terlihat lebih tua dari seharusnya, mungkin karena dulu dia bekerja dengan begitu keras hingga tidak terasa bahwa hal itu mengambil rona kemudaan dari wajahnya, ditambah lagi uban yang banyak, ah dari foto-foto dirumahnya juga terlihat bahwa dari sejak ia muda, rambutnya sudah beruban, menambah kesan tua yang berlebih, dan di hari ini ia hanya tinggal meraup kenikmatan diusia yang cukup muda, memiliki kontrakan dengan banyak pintu didesa sebelah, tinggal ongkang kaki dan menerima uang tiap bulan.

KAMU SEDANG MEMBACA
PIJAT TURUNAN BAPAK
RomanceRoni, pemuda yang baru saja lulus sekolah memutuskan untuk membuka jasa pijat di kampungnya, ilmu memijatnya diturunkan dan diajarkan langsung oleh Bapaknya sendiri, metode pijat yang bisa menyembuhkan segala masalah pada tubuh, serta gaya pijat sen...