Ch.31 Siang Siang Mantap

4.9K 203 32
                                    


PIJAT TURUNAN BAPAK

CHAPTER 31


RONI P.O.V


Selesai makan, aku dan Kang Maman berbincang diruang tengah, tentu saja, sambil ditemani dengan kopi dan rokok, jaket yang ia pakai dibuka, bajunya juga, kini ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jeans saja, badan gempal Kang Maman yang berkeringat karena gerah terlihat begitu menggoda, coklat mengkilap, ia menghisap rokoknya pelan, aku tidak bisa fokus menatapnya.


"Ron, agak dibuka pintunya, gerah banget." Titahnya, aku membuka sedikit pintu, membiarkan angin yang tidak terlalu sejuk masuk kedalam ruangan, ia mengibaskan kaosnya, berusaha mengambil angin yang lebih banyak.


Memang benar, kombinasi sambel dan nasi panas disiang hari membuat badan berkeringat banyak, dan hawanya panas, gerah, aku ikut membuka pakaianku, ah lebih baik aku mandi saja.


"Kang, Roni mau mandi dulu aja, biar seger, habis masak trus makan panas banget ini badan." Ujarku, Kang Maman mengangguk.


"Iya sok aja atuh Ron, Akang juga mau mandi tapi entaran aja lah, nanggung lagi ngerokok." Aku berdiri lalu berjalan masuk kearah dapur, air keran dikamar mandi aku nyalakan, air jernih yang dingin tampah begitu menyegarkan.


Aku membuka kain yang menempel pada tubuhku, menggantungkannya pada paku, berdiri sambil menggosok gigi, tanganku memainkan air didalam ember besar. Satu gayung pertama aku tumpahkan ke atas kepalaku, dingin, segar dan sejuk langsung saja terasa ditubuhku, selanjutnya beberapa gayung mengikuti. Menyabuni seluruh badan, menggosok dan mengusap hingga bersih, terdengar suara, aku menoleh, pintu kamar mandi dibuka, Kang Maman masuk kedalam dengan wajah yang menyeringai, tersenyum nakal.


"Akang?? Ngapainnn???."


"Mau mandi juga atuh, kan sama Akang juga gerah." Ujarnya, ia membuka kancing celana jeansnya, aku berbalik badan, menghadap tubuh Kang Maman, kamar mandi yang tidak terlalu luas ini membuat badan kami menjadi begitu dekat. Ia kini hanya mengenakan celana dalam saja, gundukan besar diselangkanganya terlihat, Kang Maman menggantungkan celananya didekat pakaianku. Tanganya kini menurunkan celana dalamnya, burungnya yang lemas menggantung, tertidur dihamparan bulu hitam yang lebat, perut buncitnya yang menggoda dengan sengaja aku siram dengan sedikit air, badannya melonjak kaget.


"Kaget Kang?."


"Jail kamu!." Ujarnya, aku kembali melanjutkan kegiatanku, menyabuni dan menggosok tubuhku dengan sabun.


"Akang lupa nggak beli sikat gigi, nggak gosok aja lah mandi kali ini." Ujarnya.


"Ihhh jorok!, padahal tadi lewat warung dijalan Kang."


"Iyaa, namanya juga lupa, pengen cepet ketemu kamu sih." Jawabnya Kang Maman, aku mendelik, menahan senyum karena mendengar gombalannya.

PIJAT TURUNAN BAPAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang