Ch.29 Tabungan

3.7K 189 15
                                    


PIJAT TURUNAN BAPAK

CHAPTER 29


RONI P.O.V


Rasa lengket dan tidak nyaman membangunkanku dari nyaman dan hangatnya tidur, mataku terbuka, masih sedikit blurry dan tidak jelas pandanganku, aku menatap wajah dihadapanku, Mang Ayi, tertidur pulas, nafasnya menghembus hangat ke arah wajahku, bibirnya sedikit terbuka, kumis bergerak pelan tertiup oleh hembusan nafasnya, aku tersenyum, membayangkan apa yang telah kami lakukan tadi. Tanganku bergerak mengusap rambut dan wajahnya, ia bergerak, menutup mulutnya, tanganku berhenti mengusap, takut jika aku akan mengganggu tidurnya yang lelap, wajahku aku dekatkan, hanya beberapa centi saja jarak antara wajah kami, bibirku semakin aku dekatkan ke arah bibirnya, mengecup singkat kemudian memeluk badan Mang Ayi erat.


Jam dinding menunjukan pukul setengah enam pagi, cepat sekali waktu berlalu, aku melepaskan pelukanku, keluar dari pelukan dan selimut hangat yang membalut tubuh kami berdua, mengambil pakaian milikku lalu berjalan ke arah kamar mandi, membersihkan sisa persenggamaan aku dengan Mang Ayi, membasuh bagian belakangku hingga bersih kembali, membasuh wajah dan menggosok gigi lalu kembali berpakaian lengkap.


Termos aku isi dengan air panas yang baru masak, mengambil dua gelas dari lemari, hendak menyeduh kopi untuk kami berdua menyambut pagi. Aku membangunkan Mang Ayi, tidak seperti Kang Maman yang hanya dengan menggoyangkan badannya saja sudah bangun, Mang Ayi ini harus lebih kencang, panggilanku juga semakin keras terdengar barulah ia membuka matanya, merah, dan terlihat sedikit bingung.


"Kenapa Ron?." Jawab Mang Ayi, suaranya berat dan serak.


"Udah pagi Mang!." Jawabku, matanya melotot kemudian bangun dengan terburu-buru.


"Beneran pagi?."


"Iya, jam enem tuh!." Jawabku sambil menunjuk ke arah jam dinding.Ia mengusap wajahnya kemudian mengangguk.


"Ngopi?."


"Boleh Ron." Mang Ayi berdiri kemudian berjalan ke arah kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang, gelas berisi serbuk kopi masih belum aku seduh, biar nanti saja setelah Mang Ayi santai, agar kopinya tidak dingin.


Suara pacuran air terdengar, suaranya lebih kecil dari suara aliran keran, aku menoleh ke belakang, pintu kayu kamar mandi tidak Mang Ayi tutup, ia berdiri tepat didepan pintu, menghadap ke arah closet jongkok, tangan dipinggang, daging kenyal setengah tegang itu sedang mengalirkan urine yang kencang, bertubrukan dengan air yang ada didalam closet, Mang Ayi menatap ke arahku, tersenyum lebar. Hebat sekali, ia kencing tetapi burungnya tidak ia pegang, dan kencing yang mengalir itu kencang, berarti prostate nya Mang Ayi masih sehat haha.


Aku menuangkan air panas kedalam gelas, suara kencing berhenti, terasa sepasang tangan memeluk pinggangku, Mang Ayi, daging kenyal miliknya menggesek bagian belakangku.

PIJAT TURUNAN BAPAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang