27. Interogasi✓

1.1K 34 2
                                        

VOTE 👉⭐
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Typo tandain 📌
Biar langsung di revisi
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 💜
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Siram."

Dua bodyguard yang berdiri di samping Aileen dengan sigap mengambil air dari ember, lalu menyiram Alfa dan yang lainnya.

"Eugh..."

Lenguhan pelan terdengar dari bibir Axel, Alfa, Varo, dan Adnan.

"Anjir, dingin banget, woy!" Arsen terperanjat saat merasakan air dingin menyiram tubuhnya.

Adrian mencoba menyesuaikan penglihatannya.

"Anj- ini kita di mana, woy?! Mana diiket lagi!"

Semua inti BB pun terkejut saat menyadari mereka terikat di kursi.

"Woy, lepasin! Pegel nih gue kebanyakan duduk!" teriak Arsen tanpa menyadari Aileen sudah berdiri tepat di hadapannya bersama dua bodyguard yang setia menemani nona mereka.

Mereka semua mencoba melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki masing-masing.

"Berisik."

Aileen menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Ha? Aileen?" Varo tampak bingung.

"Ngapain lo di sini?" tanya Arsen.

"Leen, tolongin kita dong. Bukain nih tali. Sumpah, tangan sama kaki gue sakit," ujar Adrian penuh harap.

"Orang gue yang ngiket kalian. Masa gue yang bukain? Rugi dong."

Aileen menyunggingkan smirk sambil menikmati tatapan terkejut mereka.

"ANJING! Jadi lo yang ngiket kita?" seru Arsen emosi. Ia sama sekali tidak menyangka Aileen bisa melakukan hal seperti ini. Selama ini gadis itu memang dikenal dingin, bahkan sedikit bad girl, tetapi tetap saja tindakan ini benar-benar di luar dugaan Arsen dan yang lainnya... kecuali Axel. Yah, semua orang juga tahu seperti apa hubungan Axel dengan Aileen.

"Berisik. Langsung ke intinya. Ngapain kalian ikut di pertempuran semalam?"

Aileen duduk di kursi yang sengaja diletakkan tepat di depan mereka. Tentu saja kursinya jauh lebih nyaman dibanding kursi yang mereka tempati.

"Gue mana tahu! Kita cuma ngikutin rencana si Alfa," ketus Arsen sambil menatap Aileen sinis.

Tatapan Aileen langsung beralih kepada Alfa, seolah meminta penjelasan.

Alfa dan Axel saling melirik, seakan sedang bertelepati.

"Ehem! Boleh lepasin dulu? Badan gue pegal semua nih," pinta Alfa sambil menatap Aileen.

Aileen memberi isyarat kepada kedua bodyguardnya untuk menuruti permintaan itu.

Keduanya segera melepaskan tali yang melilit tangan dan kaki mereka.

"Jelasin."

Begitu mereka bebas, Aileen langsung meminta penjelasan.

Alfa menarik napas pelan.

"Sebenarnya cuma gue sama Axel yang mau ikut campur urusan ini. Tapi kami punya prinsip, kalau satu orang melangkah, yang lain ikut melangkah. Nggak ada yang ditinggal. Jadi gue cerita ke mereka, dan mereka langsung setuju tanpa tahu kalau kita bakal ikut dalam urusan sepenting ini. Bukan tanpa alasan gue ikut campur. Bahkan gue sama Axel sebenarnya ogah terlibat kalau orang yang kita tolong bukan lo."

Tanpa mereka sadari, ada satu orang yang memasang raut wajah terkejut sekaligus kecewa. Ia merasa tidak dianggap.

Orang itu adalah Varo, wakil ketua Black Blood.

Sementara inti BB yang lain justru terlihat semakin penasaran dengan maksud ucapan Alfa.

"Terus kalau gue emangnya kenapa?"

Aileen menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.

"Kalau itu... mending lo cari tahu sendiri aja. Gue ngerasa nggak pantas kalau harus bilang langsung ke lo."

Ucapan Alfa justru membuat semuanya semakin bingung, kecuali Axel.

"Lo harus pintar memilih musuh dan teman. Karena yang lo anggap musuh belum tentu musuh yang sebenarnya," timpal Axel dengan wajah datarnya.

Kalau Axel sudah berbicara sepanjang itu, berarti ia benar-benar serius.

Aileen hanya terdiam, mencoba mencerna maksud perkataan mereka.

"Udah ditolongin juga, malah kita yang diiket."

Celetukan Arsen dengan wajah cemberut membuat kesan imut di wajahnya semakin terlihat.

Aileen tersadar dari lamunannya, lalu terkekeh pelan.

"Sorry, sorry. Gue nggak tahu kalau niat kalian mau nolong gue. Jadi ya gue sekap dulu buat diinterogasi."

Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam sejenak. Mereka terpukau melihat Aileen terkekeh pelan. Senyum kecil itu membuat kecantikannya semakin sulit diabaikan.

"Jadi... gimana kalau gue kasih kalian hadiah aja? Anggap aja sebagai permintaan maaf sekaligus ucapan terima kasih dari gue."

Alfa yang paling cepat tersadar langsung menggeleng.

"Kita nggak butuh hadiah."

"Terus? Maunya apa?"

Alfa melangkah mendekati Aileen hingga berdiri tepat di depannya. Tatapannya sulit diartikan.

"Gimana kalau lo jadi pacar gue? Bukan pura-pura lagi... tapi jadi pacar gue beneran."

Semua orang yang berada di ruangan itu sontak terkejut.

Seobsesi itukah Alfa untuk mendapatkan Aileen?


🧐
#

revisi✓

VOTE 👉⭐
Next?! 👉

BAD?! It's Me!{END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang