38.Secret✓

495 14 0
                                        

Hello!
I hope you enjoy this part
Happy reading love 💜

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.............

Ruang tamu itu terasa hangat dengan perbincangan ringan sepasang suami istri dan tawa bahagia ketiga anak mereka. Mereka adalah Aileen dan keluarganya.

"Kak Vino, Kak Vano, ayo beli es krim," ucap anak berusia sepuluh tahun berambut pendek sebahu yang tak lain adalah Aileen.

Vino—kakak kedua Aileen—tersenyum lalu mengangguk. "Ayo."

Sedangkan Vano—kakak pertama Aileen—ikut mengangguk.

Aileen berseru senang. Ia segera berdiri lalu menggandeng tangan kedua kakaknya.

"Izin dulu ke Mommy sama Daddy," ucap Vano.

"Iya."

Mereka menghampiri kedua orang tua mereka yang tengah asyik berbincang seolah dunia hanya milik berdua. Setelah mendapat izin dengan syarat harus membawa seorang bodyguard, mereka bertiga pun pergi ke supermarket untuk membeli es krim yang diinginkan Aileen.

Setelah selesai, mereka bergegas pulang. Vano menenteng kantong plastik putih berisi berbagai macam es krim dan camilan, sedangkan si bungsu, Aileen, tengah asyik menikmati es krimnya.

Vino menatap Aileen gemas karena adiknya makan dengan begitu semangat hingga wajahnya belepotan.

"Pelan-pelan, Sayang. Nggak ada yang ngerebut." Ucap Vino, sembari membersihkan pipi Aileen yang terkena ice cream.

Aileen tersenyum lebar. "Aku kayaknya terlalu semangat."

Vino terkekeh pelan.

Perjalanan mereka berjalan lancar sampai tiba-tiba belasan mobil limusin hitam mengepung dari berbagai sisi. Sopir yang mengemudi pun terpaksa menghentikan laju mobil mereka.

Vano menatap waspada ke arah deretan mobil mewah itu.

"Ada apa, Pak? Mereka siapa?" tanyanya kepada sopir.

Sopir itu tampak ketakutan.

"Ma-maaf, Tuan Muda. Sepertinya mereka musuh bisnis Tuan Besar," jawabnya terbata-bata.

Tatapan Vano menajam. Untuk ukuran anak berusia lima belas tahun, ia mampu memahami situasi dengan cepat.

Vino menoleh ke arah kakaknya.

"Kak, ini gimana? Kita nggak mungkin menghadapi mereka. Apalagi cuma ada satu bodyguard di sini," ucap Vino khawatir sambil menenangkan Aileen yang mulai menatap sekeliling dengan ketakutan.

"Kita telepon Daddy," jawab Vano tegas.

Vano segera menghubungi nomor ponsel Daddy-nya. Namun, baru saja ia mengucapkan, "Halo," kaca mobil mereka diketuk dengan kasar, disusul bentakan keras.

BAD?! It's Me!{END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang