Tepuk tangan juga sorakan itu menjadi pertanda berakhirnya sesi syuting pada hari ini, sekaligus menjadi syuting terakhir serial drama yang freya perankan.
"Terimakasih untuk kerja keras kalian semua, saya berharap semoga filim ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan dapat meraih kesuksesan besar"
"AMIIINN!!!"
para kru dan juga cast filim saling berpelukan, sebulan penuh berada di satu projek yang sama sudah cukup membuat mereka semua dekat layaknya keluarga. Jadi ketika mengetahui bahwa mereka tak akan lagi sering-sering bertemu, cukup mebuat perasaan mereka semua menjadi sedih, tak terkecuali dengan freya.
gadis keturunan jawa-minang itu kini sedang memeluk beberapa cast filim dan juga kru sambil menangis bombay. Dia beterimakasih karena sudah diberi kepercayaan untuk mengambil peran dalam project ini. .
.
.
Sejam berlalu kini freya sedang berada dalam perjalan pulang menuju apartemennya, sebelum suara notifikasi dari handphone miliknya meyandarakan gadis itu dari dalam lamunanya.
"fre, handphone kamu bunyi tuh" tegur sang asisten yang langsung diangguki oleh sang empu.
freya membaca pesan yang baru masuk kedalam hp nya dengan seksama, alisnya mengerut tatakala melihat isi dari pesan tersebut.
"kak bisa agak cepetan dikit nggak ke apart nya?" menager freya menoleh, seolah bertanya ada apa? namun ketika melihat raut wajah freya yang serius dia jadi mengurungkan niatnya dan langsung mengikuti permintaan gadis itu.
untungya suasana jalan sedang lengang malam ini, hingga mobil hrv hitam itu dapat melaju dengan cepat tanpa adanya hambatan.
.
.
.
"kamu nge chat mumi ya?" gadis berusia 16 tahun itu mengangguk kearah seseorang yang sedang terbaring lemas diatas kasur diujung sana.
"iya kan buna sakit, kata mumi kalo buna kenapa-kenapa harus kasih tau dia"
"buna nggak kenapa-kenapa loh zy" zy atau fritzy itu mengeleng, tak percaya dengan perkataan buna nya barusan. bagaimana dia bisa percaya kalo beberapa saat lalu gadis yang dipanggilnya buna itu hampir saja jatuh pingsan ketika mereka semua sedang latihan untuk perayaan anive jkt48 yang ke 13 tahun di theater tadi?
"buna nggak usah boong, mumi juga udah dijalan pulang, zy nggak suka kalo buna sampe sakit. ini zy udah beliin buna obat"
Fiony tersenyum, dia jadi gemas sendiri dengan tingkah juniornya itu.
Fritzy sendiri memang adalah anak yang baik, kedekatan keduanya dimulai ketika para fans sering mengatakan bahwa wajah keduanya sanggat mirip hingga dijuluki sebagai ibu dan anak, siapa ayahnya? tentu saja freyana, kenapa? karena sama-sama suka nge gombal alias buaya.
tak berselang lama, freya benar-benar tiba di unit apartemen fiony. air mukanya terlihat cemas dan juga lelah secara bersamaan.
"mumiii" fritzy menyambut kedatangan freya dengan pelukan yang tentu saja di sambut dengan senang hati oleh freya nya sendiri.
"buna mana?" tanya freya sembari melihat kesana kemari, mencari keberadaan fiony, sementara fritzy langsung mengandeng tangan freya menuju arah kamar tidur, menampilkan fiony yang sedang terlelap diatas kasur.
"tadi zy udah suruh buna buat minum obat sama makan, tapi karena mumi lama jadinya buna ketiduran deh" kata fritzy dengan polosnya, freya mengangguk mengerti dan mengacak sayang rambut panjang fritzy tersebut.
"ish mumii, berantakan~!" protes fitzy, sementara freya hanya tertawa gemas dengan tingkah lucu juniornya itu. bagaimana bisa ada seseorang yang kelakuan dan wajahnya perpaduan antara dirinya dan juga fiony? bahkan para fans menjuluki mereka sebagai frefio familiy.
"Kamu nggak tidur? Ini udah tengah malam. Biar mumi aja yang jagain buna kamu bobok gih besok kan masih sekolah" frity mengeleng pelan "aku masig mau jagain buna, mumii" freya mengangguk mengerti, bagaimana bisa ia menolak permintaan fritzy kalau gadis itu saja sedang melakukan puppy eyes kepadanya?
"Yaudah, kita berdua jagain mumi ya. Kamu nih keras kepala banget mirip siapa sih?"
"Mirip mumi lah hehe" freya tertawa gemas dan merangkul fritzy masuk kedalam kamar fiony.
Fiony sendiri masih tetap terlelap dalam tidur, seolah tak terganggu dengan suara yang berada disekelilingnya.
Freya mendekat, pungung tangannya ia tempelkan diatas dahi fiony. Berusaha merasakan suhu tubuh sahabatnya itu.
"Demamnya udah mulai turun" gumam freya merasa lega, bibirnya tertarik keatas membentuk semua senyuman hangat yang hanya ia berikan pada fiony seorang.
"Mumi, buna udah nggak demam kan?" Tanya fritzy cemas, freya menoleh dan mengelus sayang puncak kepala anak itu.
"Demamnya udah mulai turun kok, kamu tidur aja gih disamping buna. Biar mumi yang jangain kalian berdua" fritzy mengangguk patuh dan mulai merebahkan dirinya disamping fiony.
Matanya yang mulai berat, langsung mengantarkan fritzy masuk ke alam mimpi.
Freya mengeleng samar, dan membenarkan selimut yang dikenakan firtzy dan juga fiony.
Sementara dirinya duduk disamping, menjaga kedua gadisnya itu dalam keheningan.
"Hm? Fre?" Gumam Fiony pelan.
"Kok bangun? Tidur lagi gih" fiony mengeleng, dan mulai mengeser sedikit tubuhnya kearah samping, seolah memberikan ruang kepada freya untuk ikut naik keatas ranjang miliknya.
"Kamu juga pasti capek, sini" kata fiony lagi sembari menepuk-nepuk pelan sisi kasur miliknya.
Freya tersenyum, dan mulai ikut merebahkan dirinya disamping fiony.
Mata keduanya bertemu seolah memancarkan kerinduan yang dalam satu sama lain. Hampir sebulan tak bertemu dan sibuk dengan kegiatan masing-masing cukup membuat keduanya tersiksa.
"Kamu masih demam, tidur ya" kata freya lembut sembari mengelus sayang pipi fiony.
Fiony mengeleng, dia masih ingin lebih lama menatap freya. Bisa saja gadis itu akan menghilang keesokan paginya karena jadwal syuting mendadak atau karena hal lain diluar jkt, dan fiony tak menyukai hal itu.
"Aku masih mau liat kamu"
"Aku nggak kemana-mana kok"
"Kalo aku tidur kamu bisa ngilang"
"Emang aku jin bisa ilang?"
"Mirip, cuma kamu nggak warna biru"
"Idih, lagi sakit masih bisa aja ngeselin"
Keduanya tersenyum, sudah lama rasanya mereka tak berdebat seperti ini. Padahal biasanya ada saja yang mereka perdebatkan entah makanan, minuman, bahkan mungkin... perasaan?
Freya menarik tubuh fiony mendekat, masuk kedalam pelukannya dan fiony menerima hal itu dengan senang hati.
Dia selalu merasa aman jika freya berada disampingnya, dan malam itu keduanya terlelap dalam satu ranjang yang sama dengan frityz sebagai pelengkapnya.
.
.
.
End
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.