Cinta?

816 72 5
                                        

Freya duduk diam di sudut ruang latihan, kedua matanya lekat memperhatikan Fiony yang tengah menghafal koreografi lagu "Gingham Check" di depan sana.

Peluh sudah membasahi sebagian baju putih Fiony, namun bukannya membuat gadis itu tampak lelah, pemandangan itu justru membuat Freya terpukau. Ada sesuatu yang begitu memikat dari semangat Fiony—dari setiap gerakan luwesnya, hingga sinar tekad di matanya.

Melihat sahabatnya menari dengan penuh keceriaan, Freya tak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan kemampuan mereka. Fiony begitu berbakat, begitu bercahaya. Freya tahu, jika ia tak segera mengejar, jarak di antara mereka akan semakin jauh. Ia tak ingin tertinggal.

"One, two, three, four, five, six, seven, eight!" Suara hitungan Fiony menggema, dan dengan itu, gerakan terakhirnya selesai.

Freya spontan bertepuk tangan. "Keren banget, Ntri!" serunya sambil mengacungkan kedua jempol.

Fiony menoleh, napasnya tersengal-sengal. "Iyakah? Nggak ada yang salah, kan, tadi?"

"Nggak lah. Kamu keren banget!" Freya menyodorkan sebotol air mineral. "Aku yakin, di konser anniversary nanti, kamu yang bakal jadi centernya."

Fiony tersenyum lega, menerima botol itu, lalu meneguk airnya perlahan. "Amin," katanya, diikuti helaan napas yang terdengar lebih ringan. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Freya, menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya.

Keduanya diam untuk beberapa saat, menikmati pemandangan kota Jakarta dari balik kaca tebal di hadapan mereka. Gemerlap lampu-lampu gedung bersinar seperti taburan bintang di malam gelap. Megah dan juga mewah.

"Cantik, ya," gumam Fiony, matanya tak lepas dari pemandangan di luar.

"Iya, cantik," balas Freya singkat. Tapi alih-alih menatap ke arah jendela, matanya justru tertuju pada Fiony. Ada sesuatu dalam wajah sahabatnya itu—sesuatu yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan. Bibirnya perlahan melengkung, membentuk senyum kecil.

"Cantik banget," ujar Freya lagi, suaranya nyaris seperti bisikan.

Fiony mengangguk. "Iya, aku juga setuju. Cantik banget."

Namun, saat Fiony tiba-tiba menoleh, jarak di antara mereka menjadi begitu dekat. Freya menahan napas, matanya bertemu dengan tatapan Fiony. Ada keheningan canggung di antara mereka berdua, seolah-olah ada sesuatu yang tertahan di dalam hati masing-masing.

Freya akhirnya memutuskan kontak mata itu lebih dulu. "Ki-kita pulang, yuk, Ntri," ujarnya terbata sambil meraih tas selempangnya. Ia bangkit tergesa, meninggalkan Fiony yang masih diam memandangi punggungnya.

"Iya," jawab Fiony pelan.

****

Seminggu kemudian

Anniversary ke-11 JKT48 semakin dekat, dan latihan para member pun makin intens. Freya dan Fiony sering berlatih bersama, bahkan beberapa kali menginap di apartemen Fiony untuk menghemat waktu. Namun, akhir-akhir ini, Fiony merasakan sesuatu yang berbeda. Freya mulai menjaga jarak.

Tak ada perubahan yang benar-benar mencolok—mereka masih bercanda, masih saling berbicara. Tapi di saat-saat tertentu, ketika hanya mereka berdua, Freya selalu mencari alasan untuk segera pulang atau menghindari kontak mata.

Latihan hari ini pun tidak berjalan mulus. Freya terus membuat kesalahan dalam koreografi lagu "Aozora Kataomoi". Dan Sensei berkali-kali menghentikan latihan mereka.

"ULANGI!" suara tegas sang sensei menggema didalam ruangan. Freya menunduk, merasa bersalah. Lagu itu harus diulang untuk kelima kalinya karena kesalahannya.

one shootCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang