"aku kalo mau punya saudara di jkt48, maunya Lulu! supaya bisa ketawa-ketawa teruss!"
****
Freya mendengus ketika perkataan fiony barusan kembali tergiang dikepalanya, tidak! dia tidak cemburu dia cuma kesal. Maksudnya dibandingkan lulu kan dia lebih dekat dengan fiony, tapi arkhhh sudahlah.
denga kasar freya menarik tas selempangnya dan pergi dari dalam ruang latihan, menyisakan tanda tanya dikepala para member jkt48 yang lain. Suasana yang sebelumnya penuh canda tawa mendadak berubah menjadi hening. Semua mata tertuju pada pintu yang baru saja ditutup Freya dengan sedikit hentakan. Memang semenjak mc 1 berakhir mood gadis berusia 18 tahun itu entah mengapa menjadi jelek.
"kak Olla kak freya kenapa?" tanya cathy dengan polosnya kepada senior paling geer se JKT48.
"udah cathy kamu masih kecil belum boleh tau" jawab olla yang hanya mendapat anggukan paham dari si calon penerus. Tak lama kemudian terlihat fiony yang sedang celingak-celinguk sendiri seolah tengah mencari sesuatu atau mungkin seseorang?
"nyariin apa Ce? Freya?" fiony menoleh dan mengangguk kearah olla
"iya nih, kak olla ada liat kak freya nggak?" tanya fiony penuh harap karena setelah show theater selesai dia tak menemukan keberadaan sahabatnya itu.
"kak freya barusan pergi cepio, tapi kayak marah-marah gitu sambil banting-banting pintu. serem deh" timpal cathy dengan polosnya.
sementara olla hanya mengangguk membenarkan perkataan cathy barusan.
"ha? kok bisa?"
"nggak tau, kira-kira kenapa coba?" kata Olla, yang terdengar lebih seperti kode daripada sebuah pertanyaan.
fiony terdiam sebentar seolah tengah memikirkan penyebab apa yang membuat si gadis korelis jkt48 itu tiba-tiba menjadi bad mood seperti ini.
"kak! astaga!!" setelah mengatakan hal itu fiony langsung mengambil tas nya dan pergi menyusul kearah perginya freya barusan, menyisakana olla yang tengah mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ke 2 sahabat karib tersebut.
"kak olla, kak olla. itu cepio kenapa? kok lari-lari juga?" tanya Cathy lagi, kali ini dengan alis terangkat penasaran.
Olla menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada malas. "nanya mulu lu dah kek costumer service. Makan es krim aja gih sono" setelah mengatakan itu olla pergi meninggalkan Cathy yang masih berdiri di tempat dengan wajah penuh tanda tanya.
"Customer service apa, ya?" gumam Cathy pelan, sambil mencoba mencerna maksud ucapan seniornya barusan.
****
Fiony berlari menyusuri lorong-lorong gedung teater, sambil sesekali mengatur napas. Di dalam kepalanya, potongan-potongan adegan tadi terus berputar. Dia mencoba mengingat apa yang bisa membuat Freya marah. Tapi semuanya masih kabur.
"Freyaaaa! Freyanaaa!" serunya, tapi hanya gema suaranya sendiri yang terdengar.
Akhirnya, di ujung lorong dekat ruang ganti, dia menemukan sosok Freya yang sedang duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding. Kepala Freya tertunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.
"Freya?" panggil Fiony pelan.
Freya menoleh, wajahnya terlihat kesal sekaligus lelah. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya dengan nada ketus.
"Nyari kamu lah, masa nyari tukang cilok," jawab Fiony sambil mendekat. Dia duduk di sebelah Freya, meletakkan tasnya di lantai. "Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba pergi gitu aja?"
Freya mendengus, menatap lurus ke depan. "Nggak kenapa-kenapa."
"Oh, jadi gitu? Nggak kenapa-kenapa, tapi banting-banting pintu udah kayak di drama aja, Ayo cerita. Jangan bikin orang bingung."
Freya diam sejenak, lalu melirik Fiony dengan tatapan nyalak. "Kamu serius nanya? Kamu beneran nggak tahu?"
Fiony mengangkat alis, bingung. "Nggak tahu apa?"
Freya menghela napas panjang, lalu akhirnya meledak. "Ya tentang Lulu! Kamu bilang mau punya saudara kayak dia biar bisa ketawa-ketawa terus. Aku apa? Aku nggak cukup lucu buat kamu, gitu?"
Fiony melongo mendengar pernyataan itu, lalu tiba-tiba tertawa.
"Kenapa ketawa?" tanya Freya, kesal.
"jadi kamu cemburu nih ceritanya? pantes tadi jawabnya malah diri sendiri"
"dih" freya berdecih, membuang wajahnya yang memerah kearah samping. sementara fiony masih tetap tertawa disisinya.
"diem nggak?!" kata freya lagi, wajahnya masih memerah menahan malu karena ketahuan cemburu terhadap fiony hal yang paling anti untuk dia akui.
"Haha, sumpah kocak banget! Lagian, kamu tuh aneh," kata Fiony, masih terkikik. "Pertanyaannya kan tadi siapa yang pengen aku jadiin saudara, ya jelas aku jawab Lulu lah. Tapi kalau pertanyaannya siapa yang pengen aku jadiin pacar, aku pasti jawab kamu."
Freya terdiam. Wajahnya, yang tadi sudah merah, kini nyaris seperti tomat matang. Dia menatap Fiony dengan mata melebar, mulutnya setengah terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Sementara itu, Fiony malah asyik melanjutkan tawanya tanpa menyadari efek yang dia berikan.
"Fiony!" bentak Freya akhirnya, setengah gemas dan setengah malu. "Kamu tuh—arghh, nyebelin banget!" setelah mengatakan itu freya berdiri dan meninggalkan fiony sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"lah? kok kabur sih? fre tunggui fre!!" kata fiony dan berusaha menyusul langkah sahabatnya itu, sementara freya masih berusaha menenangkan deguban jantungnya yang seperti akan keluar dari tempatnya.
"aku serius loh fre! Freyaa!!"
"DIEMM..!!"
***
End
sejujurnya nggak tau ini konsepnya gimana
tapi berhubung saya harus up karena udah kelamaan nggak up 😅
maka ku memutuskan untuk membuat cerita gaje ini.
vote aja ya guys bhaye
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.