awal baru?

908 50 3
                                        

"Kalo aku ninggalin kamu, kamu nggak papa kan ntri?" Ujaran tiba-tiba dari gadis di sampingnya membuat Fiony, atau yang lebih akrab disapa Cepio, menoleh.

Dia mengerutkan kening, merasa bingung dengan pertanyaan mendadak yang baru saja diucapkan sahabatnya itu.

"Apaan sih, Fre? Kamu ada proyek film lagi, emang?" tanyanya sambil menatap Freya penuh curiga.

"Nggak, sih. Aku cuma nanya aja. Kamu nggak papa, kan, kalau aku tinggal?" jawab Freya dengan nada datar, sambil tetap menatap langit.

Fiony masih heran, tapi akhirnya mengangguk. "Nggak apa-apa, kan di sini juga masih ada Ci Jessi sama Kak Olla," jawabnya santai, lalu kembali menikmati es krim stroberi miliknya.

Hening. Tak ada tanggapan dari Freya. Sekali lagi, Fiony dibuat bingung dengan sikap sahabatnya hari ini, yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh.

"Lagian, kamu kan emang udah sering ninggalin aku," gumam Fiony, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya.

Freya tersenyum tipis, tapi pandangannya tetap tertuju pada awan-awan yang berarak pelan di atas sana. "Dulu, kamu yang sering ninggalin aku. Mungkin sekarang Tuhan mau kita gantian," ujarnya setengah bercanda.

Fiony hanya mengangguk pelan. Memang benar, dulu dirinya sering meninggalkan Freya karena jadwal mereka yang sangat berbeda. Sebagai member langganan Senbantsu, Fiony punya kegiatan yang tak henti-henti, sedangkan Freya hanya seorang gadis biasa yang mencoba menyesuaikan diri dengan persahabatan mereka.

Mereka kembali terdiam. Suasana sore yang sejuk, dengan semilir angin yang menerpa wajah, membuat keduanya memejamkan mata. Mereka menikmati momen itu di rooftop mall FX, seperti dua sahabat yang sedang meresapi ketenangan dunia.

"Jadi inget awal kita kenalan, deh. Hehe," celetuk Freya tiba-tiba, memecah keheningan.

"Ngapain diingat-ingat itu? Udah lama juga," balas Fiony, sedikit mendengus.

"Ya nggak papa, kan lucu. Ingat nggak sih, pas pertama ketemu, kamu manggil aku apa? Hahaha," Freya terkekeh sambil melirik Fiony yang wajahnya mulai memerah.

"Dih, ya mana aku tahu kalau di JKT ada sistem senior dan junior," jawab Fiony ketus, tapi nada suaranya terdengar malu.

Freya tertawa kecil, sama sekali tak menghiraukan wajah Fiony yang kini merah padam karena mengingat kejadian memalukan beberapa tahun lalu. Hari itu, mereka bertemu di sebuah acara audisi. Fiony, yang tak tahu-menahu soal tradisi memperlakukan senior dengan hormat, sempat memanggil Freya—yang lebih senior darinya—dengan panggilan kasual. Sontak, semua orang di sana tertawa, termasuk Freya sendiri.

"Eh, tapi kalau nggak ada kejadian itu, kita mungkin nggak bakal sedeket ini," ujar Freya, masih tersenyum.

Fiony hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Dia tahu Freya benar. Kadang, hal-hal memalukan justru menjadi awal dari kenangan yang paling indah. Namun, di balik senyum itu, ada sesuatu yang membuat Fiony merasa tak tenang. Pertanyaan Freya tadi masih terngiang di pikirannya. Kenapa tiba-tiba dia menanyakan soal meninggalkan?

cukup lama keduanya terdiam, sibuk berkutat dengan fikiran mereka masing-masing.

Freya menghela napas panjang, lalu akhirnya memecah keheningan yang terasa semakin canggung. Ia menoleh ke arah Fiony, menatap sahabatnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Ntri," panggil Freya pelan. Suaranya terdengar bergetar, meski ia berusaha menyembunyikannya.

"Hm?" sahut Fiony tanpa menoleh, masih sibuk dengan es krim stroberinya yang hampir habis.

one shootCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang