"TANTRII, ASTAGA UDAH BERAPA KALI AKU BILANG BUAT TUTUP PINTU TOILET HABIS DIPAKE?"
"NTRI INI SAMPAHNYA DIPISAHIN DULU BARU DIBUANG"
"TANTRI ITU MAKANNYA JANGAN DIMAKAN DULU"
"TANTRI!!"
"NTRII.."
"FIONYYY!!"
...
Entah sudah berapa kali hari ini freya megomeli fiony, karena kelakuan sembrono gadis itu.
Bahkan dalam sehari rasanya tak lengkap jika tak ada suara freya yang naik satu oktaf karna tingkah ajaib sang kekasih, dan freya hanya bisa pasrah sambil misuh-misuh sediri melihat semuanya.
Kadang Freya bertanya-tanya, bagaimana bisa satu manusia menciptakan kekacauan begitu banyak hanya dalam hitungan jam? Bahkan, dalam sehari, rasanya aneh kalau rumah mereka terlalu tenang. Tenang berarti Fiony sedang tidur, atau sedang fokus dengan pekerjaanya.
Seperti saat ini.
Dimana fiony dengan santainya menonton filim india dengan kaki yang ia selonjorkan diatas sofa serta snack yang berserakan dimana-mana.
Suara soundrack musik dari lagu terkenal koi mil gaya pun mengema bak konser didalam apartemen mereka, membuat freya yang baru saja pulang dari kampus tak mampu berkata-kata lagi selain menghelay nafas lelah.
"Ntri"
"Hmm?" sahut Fiony tanpa menoleh, masih fokus pada film yang ia tonton.
"Kamu ngapain?"
"Nonton"
"Terus?"
Fiony akhirnya menoleh dengan wajah polos, tanpa dosa.
"Terus apa?"
Sabar freya, ingat orang sabar kuburannya luas.
"Ini kenapa rumah udah kayak kapal pecah gini? Kamu habis konser atau gimana?" Kata freya dengan nada rendah.
"Hehehe, nanti aku bersihin kok fre. Tapi habis filimnya selesai ya"
"Filimnya berapa lama?"
"3 jam setengah"
DUAG!
Tepat sasaran 1 bantal sofa meluncur tanpa hambatan ke kepala fiony, membuat sang empuh merintih kesakitan karena timpukan cinta dari si freyana.
"Kamu mau beresin sekarang atau kamu tidur di luar" setelah mengatakan itu freya pergi meninggalkan fiony diruang tv dan masuk kedalam kamar mereka.
Meninggalkan fiony yang masih memegangi kepalanya yang baru saja terkena hantaman bantal sofa dari sang kekasih.
"Fre sakit" rigis fiony yang tentu saja tak didengar oleh sang empu.
.
.
.
Sementara itu didalam kamar freya sedang berganti pakaiannya dengan pakaian rumah yang lebih santai setelah selesai menyelesaikan ritual bersih-bersihnya sehabis pulang kuliah barusan.
Tak ada tugas, tak ada kuis esok hari. Hari ini seharusnya bisa jadi waktunya untuk berleha-leha. Apalagi Fiony juga sedang libur dari pekerjaannya sebagai desainer animasi. Freya sempat berharap mereka bisa bersantai bersama, menonton film atau sekadar bertukar cerita.
Tapi tampaknya kekasihnya itu jauh lebih menyukai omelan dibandingkan, kebersamaan romatis yang ia harapkan beberapa saat lalu.
.
.
.
5 menit berselang freya keluar dari dalam kamar dengan rambut yang masih basah serta piyama kuromi kesayangannya.
"Udah selesai?" Tanya freya ketus ketika melihat fiony yang sedang membereskan remahan-remahan snack sisa makanannya, beberapa menit lalu.
"Dikit lagi"
"Yaudah lanjutin"
Setelah mengatakan itu freya duduk diatas sofa sambil menganti-ganti saluran tv didepan sana, membuat fiony yang sedang menyapu merengut kesal karena kekasihnya itu tak berniat untuk membantunya sama sekali.
"Kamu nggak mau bantuin aku? Ini banyak banget kalo mau aku sendiri yang beresin" regek fiony mencoba membujuk sang kekasih.
"Gini ya fiony alveria tantri, aku udah capek-capek bersihin apartemen ini sebelum aku berangkat ke kampus tadi, terus pulang-pulang nih tempat udah jadi gini gara-gara kamu dan sekarang kamu ngeluh cuma karena aku suruh kamu buat beresin? Wah bener-bener ya. BERSIHIN SEKARANG NGGAK?!!" Mendengat itu fiony tak lagi protes, ia langsung melanjutkan kembali aktivitas bersih-bersihnya dan tak lagi menganggu freya yang sedang asik menoton di ruang tengah.
Sekitar 10 menitan akhirnya apartemen mereka kembali rapi, tak ada lagi remahan snack yang berceceran, meja bersih, lantai bersih, dan semua bantal sofa telah kembali ke tempatnya semula.
Freya melirik sekilas "nah gini kek dari tadi"
Fiony diam dan meletakkan sapunya disudut ruangan, sebelum kemudian duduk di samping Freya dengan wajah memelas. “Aku udah selesai... sekarang boleh peluk?”
Freya berpura-pura menatap tajam, tapi ujung bibirnya sudah sedikit naik. “Peluk siapa?”
“Peluk kamu, lah. Masa peluk sapu?”
"Peluk sapu aja aku lagi nggak mood sama kamu" kata freya acuh, dia masih kesal kepada kekasihnya yang lebih tua 4 tahun dari nya tapi kelakuannya bahkan tak lebih seperti anak tk berumur 4 tahun.
"Ihh nggak mau, masa sama sapu kan aku maunya kamu"