Sedari tadi senyumku tak pernah turun ketika melihat baner besar bertuliskan fionynegaikaze yang terpampang nyata didepan ku saat ini. Melihat para fans berserta orang-orang yang mendukungku sedang bersorak-sorai memanggil namaku.
Aku terharu, tak pernah terfikirkan olehku bahwa aku akan mendapatkan dukungan sebanyak ini dari mereka semua, project yang mereka buat hanya untuk merayakan hari spesialku sanggatlah berarti bagiku.
Tak lupa juga ku ucapkan terimakasih terhadap para member, staff dan juga sahabat-sahabatku, termasuk kak olla karena sudah membacakan surat untukku pada hari ini.
Mataku berpendar ke sekeliling theatar, mencari ke segala arah seseorang yang tampak hilang seusai show berakhir.
"Nyari freya ya ce?" Jessie menegurku, seolah tau keresahanku.
"Iya ci, udah pulang ya dia?"
"Iya cep, tadi dia pergi duluan katanya ada urusan mendesak" aku mengangguk mengerti, meski terasa sedikit tak rela. Padahal tadinya aku ingin mengajaknya pulang bersama.
"Cepio, kita pulang duluan ya good bye ce" ci jessi dan juga kak olla melambaikan tangan mereka dan pada akhirnya kami ber 3 pun berpisah di area parkiran mobil.
Aku menatap kearah ponselku tak ada chat apapun dari freya.
Aneh, biasanya dia akan mengabariku terlebih dulu jika ingin pergi kemanapun.
Dengan helayan nafas panjang, aku pun mulai melajukan mobilku membelah dinginnya malam kota jakarta.
setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, aku pun sampai diperkarangan apartemenku, hari ini sanggat menyenangkan meski seperti ada yang kurang, ya siapa lagi kalo bukan si mbak-mbak akrtis ku yang sanggat sibuk itu.
aku kembali mengeluarkan handpone ku, jaga-jaga saja jika ada notif masuk darinya. Tapi teryata nihil, freya sama sekali tak menghubungiku. sebenarnya urusan mendesak apa yang membuat si unta melet itu tak punya waktu hanya untuk mengirimkan chat singkat kepadaku?
lagi-lagi aku mengehelay nafasku kasar, berjalan pelan memasuki apartemenku dengan gontai.
saat aku memasuki apartemenku dengan keadaan yang masih gelap, tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang melingkar diperutku, dan menyandarkan kepalanya dipundakku.
"kamu lama"
sedikit terkejut, namun senyumku tak bisa luntur ketika mendengar suara siapa yang saat ini sedang memelukku. iya itu freya, dia yang memelukku sekarang.
"kok kamu bisa masuk sih?"
"bisa dong, buat freya apa sih yang nggak bisa?"
"tau deh yang pernah jadi dukun"
"dih, mulai-mulai" aku terkekeh pelan, membayangkan wajahnya yang cemberut dibalik tubuhku.
"bercanda freyana" aku berbalik, dan kembali memeluknya erat. menghirup dalam-dalam aroma manis yang keluar dari tubuhnya. aneh sebenarnya karena aku tak terlalu menyukai aroma-roma parfum yang manis tapi untuknya itu sebuah pengecualian.
"kamu sekangen itu ya sama aku? meluk mu dari tadi" aku tak menangapi ucapan narsis freya barusan, biar saja dia ke pdan seperti itu karena pada kenyataanya apa yang ia ucapkan memang benar adanya, meski seharian tadi kami tetap bertemu karena memiliki jadwal show yang sama tapi tetap saja aku masih merindukan sahabatku yang tengil ini.
"udahan dulu peluk-peluknya aku pengen liatin kamu sesuatu" dia melepaskan tanganku dari tubuhnya dan menuntunku menuju kamar tidur.
"sebelum kita masuk, mata kamu harus aku tutup dulu" belum sempat aku menjawab freya sudah lebih dulu menutup mataku menggunakan kain secarik kain berwana hitam yang entah sejak kapan berada digengamannya.
"aduh, ngapain sih pake acara nutup-nutup mata segala?" tanya protes, tapi freya malah diam dan mulai membawa tubuhku mengikutinya.
kini semua gelap, tangaku ia gengam erat, aku hanya bisa mengikuti langkahnya. perlahan tapi pasti langkah ku kini berhenti tapi dia belum mengaluarkan suara apa-apa.
"fre?"
"kamu nggak lagi ngerjain aku kan?"
hening, tak ada suaranya yang ku dengar, dan tambah panik lagi ketika menyadari kalau saat ini freya sudah melepaskan gengamannya dariku
"fre, ini nggak lucu ya!" k
"bentar ntri."
aku kembali mendengar suara langkahnya, dan tak lama kemudian dia mulai melepaskan ikatan mataku.
aku mengerjap pelahan, menyesuaikan cahaya yang baru saja masuk kedalam rentinaku. mataku berkeliling mengamati setiap hal yang aku lihat sekarang ini.
meja berukuran kecil berisi 1 buah kotak martabak coklat, dan 2 buah cangkir berisikan susu coklat terlihat didepan sana. tak lupa juga cahaya remang berwana orange kemerahan yang menerangi kamarku, akibat lampu kamar yang ia matikan. aku mentapnya tak percaya, sementara ia sedang tersenyum manis kearahku sambil membawa sebuket bunga mawar ditangannya. untuk beberapa saat aku terpesona, freya selalu memiliki caranya tersendiri untuk membuat malamku semakin terasa special.
"kata ci jeci sama kak olla dan juga mbah google, perempuan itu suka bunga. aku nggak tau sih kamu suka apa enggak, tapi karena aku udah terlanjur beli jadi kamu terima aja ya, mubazir" aku tersenyum geli akan kata-katanya barusan, dan menerima bunga pemberiannya.
"aku nggak suka bunga" ujarku dan mulai mendekat satu langkah padanya.
freya menaikan alisnya, dan mengulum senyum kecewa.
"tapi karena ini dari kamu, aku jadi suka bunga" lanjutku yang membuat senyumnya kembali mengembang lebar.
aku tak sedang mengombal, memang benar aku tak suka bunga, tapi karena ini dari nya jadi aku suka-sukain aja. karena apapun hal mengenai dirinya selalu aku suka.
"udah yuk makan martabaknya, keburu dingin entar" dia menarik tangaku lagi, dan mengajakku duduk untuk menyantap martabak coklat kesukaanku.
"jadi ini alasan kamu pulang lebih awal tadi?" freya mengangguk masih dengan martabak yang memenuhi mulutnya.
"makasih ya"
"makasih aja nih?"
"dih nggak iklas"
"Hehehe"
"pasti ada ujungnya nih"
"nggak kok"
"Bener? Nggak percaya deh"
"Beneran dong"
"Udah nggak papa, kalo ada ujungnya juga"
"Nggaklah, kan kita nggak berujung ntri"
.
.
.
.
END
spesial project untuk cecepio
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.