sakit

1.2K 82 2
                                        

Fiony berjalan cepat menuju unit apartemennya, orang yang berlalu lalang disekitarnya tak ia pedulikan. Pikirannya penuh, dan raganya hanya ingin segera sampai di tempat tujuan.

Perkatan ci jeci beberapa menit yang lalu berhasil membuat hatinya semakin gusar.

"Ce Freya sakit"

3 kata yang singkat namun mampu membuat perasaanya tak tenang sedari tadi. Bahkan materi yang disampaikan dosennya sama sekali tak masuk kedalam otaknya, tak cukup kuat untuk mengeser keresahannya mengenai sang sahabat.

Maka sebelum pelajaran itu berakhir dengan nekat ia meminta izin untuk pulang dengan alasan mendesak dan disinilah dia. Berjalan, setengah berlari di sepanjang lorong apartemennya.

"Fre? Freya?!" Fiony membuka pintu apartemenya dengan tak santai, memanggil-manggil seseorang yang sedari tadi membuat hatinya tak tenang.

Cklek

Membuka pintu kamarnya, dia sudah mendapati jessi dan juga olla yang sedang menemani freya yang saat ini sedang terbaring lemas diranjang apartemennya.

Padahal seingatnya pagi tadi keadaan sahabatnya itu baik-baik saja, hingga ci jeci dan juga olla menelphonenya kalau mereka ingin ke apartemenya.

"Ntri? Kok pulang?" Suara freya serak, hendak bangun dari tidurnya namun langsung ditahan oleh olla

"Jangan gerak dulu kampung, lu tadi hampir pingsan ya, jangan ampe lu gw gebuk disini" olla mengomel meski mereka semua tau kalau itu hanya bentuk ke khawatirannya kepada freya.

Fiony segera mendekat, berlutut di sisi ranjang. Ia meraba kening freya dengan pungung tangannya, dan rasa panas segera menyengat kulitnya

"Suhunya berapa?"

"38 derajat cep" jawab jessi singkat, sambil mengangkat termometer digital di tangannya.

"Aku nggak papa kok ntri" freya berusaha tersenyum, tapi berbading terbalik dengan wajahnya yang terlihat pucat didepan sana.

Fiony mendesah pelan, memandang Freya dengan tatapan khawatir. "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit? Aku bisa pulang lebih awal kalau tahu."

Freya mengalihkan pandangannya, tak menjawab.

Olla, yang sedari tadi memegang tangan Freya, bergeser ke samping, memberikan ruang bagi Fiony untuk lebih dekat.

"Minum obat dulu, ya," bujuk Fiony sambil menyodorkan segalas air dan obat demam yang tadi dibelinya diapotek dalam perjalanan pulang menuju apartemen.

Freya menggeleng pelan.

"Pahit, Ntri," katanya lirih.

"Kalo nggak pahit bukan obat namanya, sana minum" sahut olla lagi dengan nada memaksa, sementara jesi sedang mencoba menenangkan sahabatnya itu, mereka tau kalau saat ini olla hanya takut hal buruk terjadi kepada freya, bagaimana pun gadis itu telah melalui serangkaian kehilangan pahit didalam hidupnya. Itulah mengapa dirinya bisa menjadi sanggat posesif akan kesehatan semua sahabatnya.

"Tenang la, kita keluar dulu ya cep" jessi menarik tangan olla untuk keluar dari kamar fiony. Jessi tau saat ini yang paling dibutuhkan freya adalah fiony.

"Minum ya, dikit aja biar sembuh" freya mengeleng, dia memang paling anti dengan obat.

"Nggak mau pahit" fiony menghelay nafasnya, membujuk freya meminum obat terkadang bisa benar-benar menguras kesabaran.

"Mama kamu masih lama pulangnya dari Jogja, dan kamu dititipin ke aku," Fiony berkata lembut, menatap Freya dengan pandangan serius. "Kalau kamu sakit dan aku nggak bisa jaga kamu, aku harus bilang apa ke Mama kamu nanti?"

one shootCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang