2

14.9K 340 9
                                        

Bismillah
Jangan lupa vote dan komen
Terimakasih 💚

*******

Malam ini Agus berbincang dengan Pak Dhe dan Bu Dheterkait rencananya beberapa hari lalu dan meminta pendapat dan masukan dari mereka.

Sebagai orang tua mereka memberikan izin, selagi bagus dan tidak membawa pengaruh buruk tentu itu yang diinginkan mereka.

"Kalau sudah mantep dan yakin, kami setuju kok Gus."

"Iya bu Dhe juga setuju, tapi ingat jangan main-main karena ini pernikahan."

"Nggeh (iya), terima kasih Pak Dhe dan Bu Dhe, karena selalu medukung apapun pilihan Agus."

"Iyo le (iya nak)."

Diskusi semalam ditutup dengan sepenggal nasehat yang akan terus aku ingat untuk kedepannya.

Berbekal hasil diskusi dan restu orang tua Agus, kini dia datang ke rumah Sari sendiri, tidak mengajak Pak dhe dan Bude karena takut ditolak.

Agus ingin memastikan dulu apakah Sari mau atau tidak barulah nanti akan mengajak mereka dan kalau ditolak tidak ada yang merasa tersakiti.

"Assalamualaikum." Salam Agus ketika memasuki rumah Pak Supri.

"Waalaikumsalam, monggo pinarak Juragan. Wanto mari ae muleh, lha opo ora janjian arep dolan ki mau? (Mari masuk. Wanto baru saja pulang, apa tidak janjian kalau mau main ini tadi?)" Tanya Pak Supri.

Karena biasanya jika Juragan mampir pasti mencari Wanto.

"Mboten madosi Wanto niki mau, ajenge panggih njenengan. (Tidak mencari Wanto hari ini tadi, mau bertemu Bapak)." Jawab Agus dengan sopan.

"Lha enek opo, kok serius temen? (Lho ada apa, sepertinya serius?)" Bingung Pak Supri.

"Kulo mriki ajenge nangkletaken Sari mbok menawi dereng enten ingkang nglamar, kulo kepingin ngaturaken niat kulo. (saya kesini mau menanyakan Sari, siapa tahu belum ada yang melamar, saya ingin mengutarakan niat baik saya)." Agus dengan hati-hati menjawab.

"Sek, mengko disek. Sari tulung gawekno unjukan enek Juragan iki (Sebentar dulu, Sari tolong buatkan minuman ada Juragan ini)." Perintah bapak kepada Sari yang lagi di dapur.

"Nggeh Pak (iya pak)." Jawab Sari.

"Yo pancene niat apik iku kudu diomongne, tapi opo Juragan wes mantep tenan? Dipikir maneh Wong ketemu Sari yo lagek ping piro kok wes nduwe karep arep nglamar (Iya seharusnya niat baik haru segera dibicarakan, tapi apakah Juragan sudah yakin? Dipikirkan lagi bertemu Sari juga masih berapa kali kok sudah ada pikiran untuk melamar)." Nasehat Pak Supri.

"Saestu matep Pak (Serius yakin Pak)." Mantab Agus.

"Yo lek wes mantep bapak melu seneng anak wedokku enek seng nyenengi, tapi bapak ndak iso nguwehi jawaban. Kepasan iki enek bocahe, kene Sar lungguh sedeluk bapak arep omong (Ya kalau sudah yakin bapak ikut senang anak perempuanku ada yang sayang, tapi bapaka tidak bisa memberikan jawaban. Kebetulan ini ada anaknya, sini Sar duduk sebentar Bapak mau ngomong)." Bersamaan jawaban bapak Sari datang membawa mnuman untuk bapak dan Agus.

"Ada apa Pak?" Bingung Sari karena biasanya sesudah menyajikan minuma dia bergegas ke belakang.

"Iki Juragan mau ngomong arep nglamar anak wedokku, nha awakmu piye? (Ini Juragan bilang mau melamar anak perempuanku, kamu gimana?)" Tanya bapak.

"Sari belum kepikiran untuk menikah Pak, baru kemarin selesai kuliah. Sek kepingin mbantu bapak kaleh ibuk (masih ingin membantu bapak dan ibuk) ." Sari sambil menunduk, karena belum ada fikiran sedikitpun untuk menikah dalam waktu dekat ini.

Cinta Sang Duda (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang