Bismillah
Jangan lupa vote dan komen
Terima kasih 💚
***********
Sesuai dengan rencana Agus kemarin, mereka hari ini berencana ke kota untuk membeli kebutuhan bertanam sang istri.
Rencananya Sari akan membuat kebun mini gitu, bukan yang hidro ponik tetap di lahan tapi lebih rapi dn bagus.
Mereka sudah bersiap tinggal berangkat saja.
"Dek ini mau naik motor apa Mobil?"
"Ya kali ke kota naik motor mas, pegel nanti bandanku"
"Asik tapi dek, aku pingin naik motor"
"Halah kapan-kapan ajalah, sekarang naik Mobil ndak usah cari perkara"
"Iya, eh aku belum cerita ya bapak juga namen sayuran di depan rumah dek"
"Lah kapan kemarin Kita kesana belum perasaan"
"Kata Wanto pas aku ketemu di sawah kemarin"
"Kebetulan aku begitu, nanti kita mampir ke rumah bapak dulu ya."
"Pulangnya aja dek, nanti keburu siang sampek kotanya kalo mampir dulu"
"Ya sudah, berangkattt"
Selama perjalanan diisi dengan percakapan Sari tentang pengalaman ya kuliah dan tinggal di kota.
"Mas ini kan dekat tempat kosku dulu, kok aku nggak tau kalau disini ada toko bunga"
"Lhah kamu kemana aja to dek, kok baru tahu"
"Padahal aku disini 4 tahun, ternyata masih hafalan mas ya tentang kota"
"Ya kan ini langganan mas dek"
"Mas bunganya bagus semua, bingung pilih yang mana"
"Pilih semua aja dek, aman"
"Nanti bawanya susah"
"Nanti biar diantar, kan bisa"
"Ya sudah aku milih-milih dulu ya"
"Iya, aku mau milih media tanam dan pupuk dek"
Sari memilih banyak sekali bunga, karena semua bagus daripada bingung dan sayang kalau dilewatkan toh sama mas juga sudah diijinin buat pilih yang mana aja.
Agus merasa bahagia sekali melihat Sari memilih bunga, wajah berserinya terlihat sekali. Dulu dia takut jika Sari yang notabene wanita berpendidikan Dan pernah tinggal di kota akan menjadi sulit untuk memenuhi kebutuhannya karena beda kehidupan.
Ternyata tidak, Sari tetaplah anak desa yang kebahagiaannya masih tentang hal sederhana. Dia tidak pernah menunutut apapun, meminta aneh-aneh atau membuat Agus merasa kerepotan.
Bahagia selalu ya dek, meskipun aku jauh dari kriteria lelaki idamanmu sewaktu gadis, tapi aku akan mengusahakan kebahagiaanmu seperti lelaki lainnya.
Agus mendekati Sari yang masih asik memilih bunga.
"Sudah dek?"
"Masih banyak yang bagus, tapi itu sudah banyak"
"Dipilih lagi aja, nanti takutnya keburu diambil orang"
"Ahhh, padahal aku mau milih besok lagi kalau ke sini"
"Kenapa harus besok? Sekarang aja"
"Kan sudah banyak, nanti uangnya banyak mas"
"Nggak dek, sedikit ini"
"Ya sudah aku pilih semuanya, nanti jangan marah kalau notanya bengkak"
"Tapi harus ada hadiah buat aku dong"
"Siapp, tapi ini semuanya ya?"
"Iya dek"
Setelah semua kebutuhan bercocok tanam ketemu, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar keliling kota.
Menikmati hiruk pikuk kota, panas, macet, polusi udara Dan banyak lagi.
"Dek dulu kok betah tinggal dikota yang panas Gini?"
"Ya kan kuliah mas, adaptasilah tapi awalnya memang susah banget"
"Kenapa?"
"Ya panas, macet, biaya hidup mahal, jauh sama ibuk bapak pokoknya beda sama di desa yang serba enak."
"Tapi mau nggak tinggal lagi di kota"
"Ngapain? Mas ada kerja di kota?"
"Ya misal"
"Nggaklah, jangan ya mas enakan di desa"
"Mas juga betah di desa, disini nggak nyaman"
"Nanti jadi mampir ke rumah bapak?"
"Ya kamu jadi atau ndak?"
"Ya jadilah"
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari kota, mereka kini sudah kembali ke desa tempat tinggal ternyaman bagi mereka.
Sesampainya di rumah bapak pemandangan indah terlihat di teras rumah dan halaman sekitar rumah.
Sari sangat menyukai ini, nanti dia akan belajar sama bapaknya agar taman bunganya juga bisa sebagus ini.
"Waahhhh mas lihat bagus ya, nanti rumahku juga mau Tak bikin kayak ginilah"
"Iya, nanti Tanya bapak gimana caranya"
"Lho kok tumben mampir, sini masuk dulu nduk"
"Iya pak, barusan dari kota beli bunga"
"Sari mau nanam juga juragan?"
"Nganggur katanya Pak, makanya buat kegiatan aja"
"Pak ini kapan nanamnya kok sudah bagus semua ini?"
"Kemarin setelah kamu pulang bapak lihat TV bagus rumahnya ada kebun dihalaman"
"Aku juga mau buat kayak gini, tapi bunga Pak"
"Halah memang bisa ngerawat tanduran nduk?"
"Kan belajar buk"
"Belajar gimana Wong mbanyu bapak sama ibuk aja ndak tau kok mau belajar"
"Kan ada mas, nanti mas yang ngajarin. Ya mas?"
"Iya"
"Untung bojomu sabar, kalau ibuk sudah ndak mau. Wong kamu yang namen ya kamu yang rawat"
Percakapan mereka berlanjut hingga sore hari. Sangking asiknya, mereka hanya mengobrol di teras.
Bapak dan ibuk sangat bahagia melihat Sari yang terlihat semakin ayem dan bahagia.
Kebahagiaan orang tua hanyalah melihat anak cucunya bahagia, tidak meminta lebih.
Waahhh Ramadan jadi lebih rajin up ya ini mimin
Jangan lupa setelah baca di vote ya guys, biar tambah semangat mimin puasanya
Jangan lupa vote dan komen yaaaa 🥰 🥰 🥰 🥰 🥰 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Duda (Terbit)
RomansaCERITA INI AKU REVISI!!!! Alur cerita tetap sama ya, tetapi ada tambahan cerita agar lebih nyambung. Saran kalian di kolom komentar juga jadi bahan pertimbangan revisi, selamat membaca kembali... Usia hanyalah angka nyatanya yang lebih tua paham car...
