Bab 9 : Pertaruhan

10 3 0
                                        

Waktu istirahat kedua di SMP 1 sedang berlangsung. Sebagian besar murid berada di luar kelas. Vivi dan Nita jalan di selasar untuk menuju kelas Yoan yang terhalang dua ruangan dari kelas mereka. Raut muka kedua anak tampak serius. Mereka berjalan lebih cepat dari biasanya. Begitu tiba di depan pintu, mereka hampir bertabrakan dengan Yoan yang memang hendak keluar kelas.

"Buruan keluar, Yo," Ajak Vivi.

"Ada apa sih?" tanya Yoan. Dia terheran.

"Udah ikut aja." Nita menarik tangan temannya.

Sambil jalan Vivi menjelaskan, "Kamu tahu kan si Rendi, anak kelas 2F itu udah keterlaluan banget. Dia terus mendekati aku dan malah udah dua kali nembak. Dua kali juga aku tolak. Aku gak suka sama dia. Orangnya kayak preman gitu. Aku risi."

"Oh si Rendi. Mau diapain dia? Kan waktu itu udah kita labrak rame-rame tapi gak mempan. Dia masih terus mengejar kamu. Dia tergila-gila sama kamu, Vi," ujar Yoan.

"Vivi udah minta tolong A Fajar buat tegur si Rendi," ungkap Nita.

"Iya. Biar dia tahu rasa ditegur sama orang gede," timpal Vivi.

"A Fajar? Emang kamu udah kasih tahu si Rendi orangnya yang mana?" tanya Yoan.

"Udah tadi pagi. Aku juga kasih tahu di mana biasanya si Rendi nongkrong pas istirahat. Makanya kita ke sana. A Fajar kayaknya udah datang."

"Gimana kalau mereka berantem, Vi?" tanya Nita.

Vivi menjawab, "Gak mungkin lah. A Fajar kan orang baik."

"Yakin? Emang kamu udah kenal betul karakternya? Pacaran aja baru dua hari." Nita Ragu.

"A Fajar kan sekarang pacar kamu. Dia pasti belain kamu. Kalau dia tahu kamu sering digangguin, dia pasti marah lah," tutur Yoan.

"Kalau pun berantem A Fajar pasti menang. Orang badannya lebih gede," tambah Nita.

"Ya jangan sampai berantem. Nanti kita yang kena masalah sama pihak sekolah." Vivi mendadak cemas. Dua pria yang berdebat, apalagi salah satunya masih labil, bisa saja berakhir dengan perkelahian. Dia tidak terpikir itu dari awal.

"Bukan kita, Vi. Tapi kamu. A Fajar kan pacar kamu." Yoan enggan terlibat.

"Pokoknya kalau kelihatan mereka mau berantem, buru-buru kita pisahin," usul Vivi. Memaksa dua temannya untuk terlibat.

Mereka terus berjalan sampai keluar sekolah melewati gerbang.

Di warung yang hanya berjarak beberapa jengkal dari gerbang sekolah, beberapa anak tengah menggunakan masa belasan menit istirahat mereka untuk jajan makanan kecil. Karena ini jam istirahat kedua, pengunjung warung tidak sebanyak waktu istirahat pertama dua jam yang lalu. Seorang anak laki-laki duduk sendirian menyedot minuman di atas meja. Lalu, ada laki-laki lain yang berbadan lebih tinggi dan tidak berseragam tanpa permisi duduk di sebelahnya.

"Hai. Rendi ya?" Fajar menepuk paha bocah SMP sambil memasang muka bersahabat.

Rendi menoleh. Pria di sebelahnya sama sekali tidak dikanalnya. Dahinya berkerut. "Iya. Aa siapa?"

Di luar warung, di sudut tembok di antara tergantungnya makanan-makanan ringan, tiga orang sedang menguping dan berusaha memantau dengan sembunyi-sembunyi. Yoan jongkok, menjulurkan sedikit kepalanya di balik tembok. Di atasnya ada Vivi, lalu Nita. Mengintip dua pria beda generasi yang sedang duduk bersebelahan.

"Aku kakaknya Vivi. Katanya, kamu suka sama Vivi ya?" jawab Fajar. Tenang dengan muka yang berseri hangat.

Rendi langsung memasang sikap waspada. Dia menyadari dosa yang sudah dia lakukan selama ini pada Vivi. Dia berpikir, mungkin saja dirinya akan dilabrak seperti yang sering dia lihat di sinetron-sinetron minim faedah di TV.

Portulaca Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang