Bab 21 : Surat Undangan

3 0 0
                                        

Satu keluarga sedang duduk santai di ruangan tengah yang megah. Malam baru beranjak naik. Pak Jumar dan Ibu Ratna duduk bersisian mengadap pada acara berita di televisi. Fadil, anak tunggal mereka, duduk di sofa yang lain. Lebih tertarik pada handphone dibanding televisi. Beberapa saat, dia melirik pada orang tuanya. Ada hal yang sudah sangat tidak sabar ingin dia utarakan. Fadil membetulkan posisi duduknya. "Pak, tadi Bapak bertemu Pak Wira?"

Pak Jumar menoleh. Diikuti istrinya.

"Iya. Beliau datang ke gudang lalu membeli satu ton pakan ikan. Kebetulan Bapak lagi di sana. Kami jadi ngobrol banyak. Tahu dari mana kamu?" tanya Pak Jumar.

"Dari Vivi. Apa Bapak dan Pak Wira juga mengobrolkan kami?"

Kening pak Jumar berkerut. "Kami siapa?"

"Aku dan Vivi."

Pak Jumar geleng kepala. "Enggak. Kami mengobrolkan yang lain. Kenapa?"

Fadil membuang napas panjang. "Aku kira Bapak dan Pak Wira bicara soal hubunganku dengan Vivi akan berlanjut ke mana?"

"Loh, kamu gak pernah menyebut Vivi itu pacarmu, Fadil?"

Ibu Ratna ikut menyimak.

"Iya ... Tapi aku suka sama dia. Aku mau menikahinya."

Pak Jumar dan Ibu Ratna saling lirik. Baru kali ini anaknya bicara soal menikah.

"Bukannya kalian belum lama kenal? Bagaimana kamu begitu yakin?" Pak Jumar menatap serius.

"Aku udah sreg banget sama dia, Pak. Dia perempuan paling pantas buatku." Fadil mengalihkan mata pada ibunya. "Ibu juga suka sama dia, kan?"

Ibu Ratna tersenyum. "Iya. Dia gadis yang baik. Cantik. Serasi sama kamu."

Fadil senang merasa dapat dukungan. "Nah. Bapak dengar, kan? Ibu juga suka sama Vivi. Dan Pak Wira, tampaknya juga suka denganku. Apalagi ditambah Bapak adalah teman dekatnya. Semua pasti akan berjalan dengan mudah."

"Kamu pernah bertanya apakah Vivi mau menikah denganmu? Setidaknya suka sama kamu?"

"Vivi akan patuh pada ayahnya, Pak. Aku yakin itu. Dia tidak akan membantah ayahnya. Lagi pula, kalau dia tidak menyukaiku, mana mungkin dia mau saat kuajak pergi-pergi? Umurku sudah dua puluh tujuh, Pak. Sudah cocok untuk menikah. Bahkan teman sebayaku banyak yang sudah punya anak. Bapak dan Ibu gak mau cepat-cepat punya cucu?"

Pak Jumar dan Ibu Ratna saling lirik lagi. Benar juga, mereka semakin menua. Seorang menantu, apalagi seorang cucu, adalah hadiah yang sangat baik.

"Apa yang bisa Bapak bantu?"

"Lamarkan Vivi buatku."

"Bapak harus ngobrol dulu dengan Pak Wira, Fadil. Urusan seperti ini tidak bisa tergesa-gesa."

"Bapak kan dekat dengan Pak Wira. Kalian teman lama. Aku juga dekat dengan Pak Wira. Kita tinggal datang ke rumahnya, mengutarakan maksud kita, Pak Wira menerimanya, selesai. Tinggal tentukan tanggal pernikahan."

"Kamu bercanda, Fadil. Urusan menikah tidak bisa dipandang seremeh itu." Pak Jumar lantas berpikir. Sejenak kemudian, "Begini saja. Malam minggu nanti kita bertiga datang ke rumahnya dengan tujuan silaturahmi. Kalau ada kesempatan, Bapak akan bicara soal ini dengan Pak Wira. Syukur-syukur beliau langsung menerima seperti yang kamu bilang. Kalau nanti terjadi kesepakatan, kita akan datang lagi di malam yang lain dengan keluarga besar kita. Kamu anak Bapak satu-satunya. Harus dipersiapkan sebaik mungkin saat melamar seorang gadis. Keluarga besar kita harus tahu kabar bahagia itu kalau benar-benar terjadi."

Fadil menimbang. Lalu mengangguk. "Seperti itu juga boleh. Tapi asal Bapak dan Ibu tahu, aku sudah menyiapkan cincin untuk melamar Vivi. Dan akan kubawa saat malam minggu nanti. Ketika Pak Wira menyetujui lamaranku, akan langsung kuberikan pada Vivi, tanpa harus menunggu keluarga besar."

Portulaca Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang