"Iya, Pak. Besok insyaallah aku pulang ..." Wina melangkah keluar dari kamarnya dengan telepon di telinga. Menjawab pertanyaan suara lelaki yang dia panggil bapak berkilo-kilo meter di seberang sana, yang membujuknya untuk segera pulang ke tanah kelahiran. Setelah, entah berapa puluh kali pertimbangan, dan mempersiapkan diri selama hampir empat belas bulan, Wina akhirnya bersedia menikah. Lebih lambat dua bulan dari waktu yang dia pinta pada keluarga dan calon suaminya.
"Gak usah dijemput segala. Lagian A Dika kan belum jadi suamiku. Gak enak. Nanti aku pulang pakai bus kayak biasa." Wina duduk di kursi di depan rumah. "Iya. Gak apa-apa, Pak. Aku sudah biasa pulang sendiri. Teteh gak bisa pulang bareng aku. Suami sama anaknya kan belum libur. Katanya baru bisa nanti kalau mendekati hari-H. Udah pokoknya Bapak gak usah kawatir. Aku bisa jaga diri. Ya udah ya, besok aku kabarin lagi. Assalamualaikum." Wina menutup telepon. Ditaruhnya benda persegi panjang itu di meja sebelah kursi. Pikirannya melayang pada keluarganya di kampung sana yang mungkin saja sedang gelisah karena setelah minggu kemarin dia berkata 'iya', dia masih saja betah di kampung orang. Baru sekitar sepuluh menit yang lalu dia memberi kabar bahwa dia akan pulang besok.
Wina melihat Iman sedang menaiki motor melintas di jalanan gang di depannya. Iman yang menyadari keberadaan Wina yang duduk di teras, menoleh, tersenyum, menekan sekali klakson tanda sapaan.
"Iman!" Wina berdiri. Mengangkat tangan memanggil.
Iman seketika menarik rem. Motornya kontan berhenti.
Wina mendekat. "Dari mana?"
Iman menjawab, "Rumah Haji Maemun. Habis bantu dia jual tanahnya yang di Rawamerta pada minimarket," dia masih terduduk di atas motornya.
"Berhasil?"
"Tentulah. Sebenarnya aku yang merayu Haji Maemun biar menjual tanahnya pada pihak minimarket. Mereka menawar dengan harga yang bagus. Dan aku dapat komisi yang lumayan. Cukup untuk menyambung hidup beberapa abad ke depan. Kenapa, kamu mau minta traktir? Tahu aja aku lagi banyak duit."
"Enggak, Man. Aku mau minta tolong. Besok bisa antar aku ke Johar?"
"Mau ngapain? Belanja?"
Wina menggeleng. "Bukan. Aku mau pulang."
"Oh. Mau mudik dulu?"
"Kayaknya ... Aku akan lama gak balik lagi ke sini, Man. Aku mau menikah."
Raut muka Iman berubah. Cerianya meluntur seketika. Wina yang menyadari itu bertanya, "Kenapa?"
Iman menghembus napas. "Satu demi satu teman-temanku pergi. Yasir dan Ayu sudah lama hilang. Fajar sibuk dengan dunianya sendiri. Dan sekarang, kamu juga mau pergi."
"Ayolah, Man. Gak usah mellow begitu. Kamu tahu aku sudah menunda ini dari tahun kemarin. Kasihan calon suamiku kalau lebih lama menunggu."
"Oh. Jadi ini karena kasihan?"
"Aku sayang sama dia! Puas kamu? Gimana, mau nggak? Kalau gak mau nanti aku minta diantar tukang ojek."
Iman berpikir sejenak. "Kira-kira jam berapa biasanya bus lewat Johar?"
"Jam delapan mungkin udah ada."
"Ya udah. Kita berangkat jam setengah delapan."
"Oke."
"Sebagai tanda perpisahan, bagaimana kalau aku traktir makan bakso?"
"Penawaran yang bagus. Tunggu sebentar." Wina berbalik. Mendekati pintu rumah dan menutupnya. Menyambar HP di atas meja, lalu kembali pada Iman dan membonceng di motornya.
Mereka duduk berhadapan di warung bakso Mang Ame. Semangkuk bakso dan segelas teh manis sudah tersedia di depan mereka masing-masing dan sedang mereka nikmati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Portulaca
Fiksi UmumKarena sebuah janji harus ditunaikan hingga tuntas. Apalagi, jika harga diri keluarga ikut terseret di dalamnya.
