21. Firasat

312 40 14
                                        

Luna menatap cake didepannya yang sudah dingin. Jam menunjukkan pukul delapan malam, hanya tersisa Luna sendiri, Jayandra dan pekerja dirumah itu sudah tertidur pulas.

Luna menelan liurnya melihat cake itu, sangat ingin memakannya tapi ia berniat menunggu Julian dan memakannya bersama.

"Mas Julian kemana sih, ditelpon nggak diangkat. Di chat juga belum dibalas" gumam Luna sambil menyangga wajahnya dengan tangan dan menatap cake didepannya. Beberapa kali Luna menguap tidak tahan menahan kantuknya.

Hingga tanpa sadar Luna mulai terlelap dan berharap Julian segera pulang lalu membangunkannya dan mereka berdua bisa memakan cake yang dibuat Luna dengan susah payah. 

Waktu terus berlalu, Luna setelah menyelami mimpi panjangnya terbangun. Ia melihat ponselnya dan melihat sudah pukul empat dini hari. Luna termenung sebentar menyadari bahwa Julian tidak pulang, bahkan pesannya pun tidak mendapat balasan.

Luna mengambil air satu gelas dan meminumnya, kemudian tanggannya meraih cake didepannya. Dengan kasar Luna meraih cake itu dan memakannya dengan air mata yang banjir diwajahnya. Beberapa kali Luna terbatuk dan hampir muntah, tapi ia terus memaksakan cake itu masuk ke mulutnya walaupun ia enggan memakannya.

.

.

.

Ditempat lain sama halnya dengan Luna yang terbangun diwaktu dini hari, Anna juga demikian. Rambut panjangnya tertiup angin lantaran dirinya berdiri diatas balkon menatap tak tentu arah. Pikirannya dipenuhi masalah antara dirinya dan Julian, yang mana Anna juga bertanya-tanya mengapa dirinya, Luna dan Julian begitu rumit. 

Anna tersentak saat merasakan Julian menepuk pundaknya, Anna lupa jika Julian ada d rumahnya sejak sore dan tidur dikamar Arjuna, anaknya.

"Jangan terlalu dipikirin, gue setuju sama ide lo untuk bagi waktu Arjuna. Kalau Luna setuju gue juga" ucap Julian ikut berdiri disamping Anna

"Oke, gue lega. Tiap hari gue selalu ngerasa bersalah sama Luna karena lo" 

"Gue?'' tanya Julian sambil menatap Anna

"Iya. Gue selalu bohong tiap kali Luna nanya apa lo ada ditempat gue untuk liat Arjuna atau nggak. Lo terlalu jarang dirumah Julian lo lebih sering ke rumah gue, kesannya jadi gue yang istri lo" ucap Anna panjang lebar 

"Gue rindu Arjuna, gue nggak bisa kalau nggak liat dia dan main sama dia dalam sehari" terang Julian kembali fokus menatap langit-angit

"Dulu aja lo nyuruh gue buat gugu..." belum selesai kalimat Anna dengan cepat tangan Julian menutup mulutnya.

"Tolong jangan ungkit hal ini lagi, jangan sampai Arjuna tau kalau dia udah dewasa. Gue nggak mau dia benci papanya sendiri"

"Julian gue mau bilang, walaupun lo udah ada Arjuna lo harus tetap sayang juga sama Jayandra. Jayandra alasan Luna masih ada disamping lo saat ini. Kalau bukan karena anak itu Luna sudah pasti tidak mendapat restu dari Ibu"

"Lo masih cinta sama Luna kan. Perasaan lo masih kayak dulu kan?" tanya Anna, entah apa maksud dirinya, Anna pun tidak tau pertanyaan itu hanya tiba-tiba keluar dari mulutnya. Padahal jika dirinya mendengar kalau Julian masih sangat mencintai Luna dirinya akan patah hati lagi dan lagi.

Sementara itu Julian terdiam cukup lama dan menjawab dengan singkat "iya".

Mendengar itu benar saja, mata Anna berkaca-kaca. Dengan sekuat tenaga ia menghalau air mata itu agar tidak terjatuh.

"Sampai kapanpun gue akan mencintai Luna dan tidak akan ada yang bisa menggantikan Luna di hati gue, siapapun itu" ucap Julian sambil menatap Anna yang menghapus air matanya dengan cepat.

"Gue senang dengarnya, jaga Luna dengan baik" ucap Anna kemudian pergi meninggalkan Julian dibalkon menuju kamar Arjuna.

Sepeninggal Anna, Julian terkekeh kecil. Bertanya-tanya tentang takdirnya.

"Kalaupun gue ada rasa lo, kita juga tidak akan mungkin  bisa sama-sama sampai kapanpun
Biarkan saja perasaan, seiring berjalannya waktu ia akan memudar".

.
.
.

Kembali pada Luna yang pada akhirnya memilih menguyur tubuhnya dengan  air dingin. Air matanya  jatuh sederas air yang mengalir di kepala nya.

"Aku tidak kuat, mas Julian rasanya semakin jauh. Entah apa yang terjadi, Tuhan tolong aku"

Hingga samar-samar Luna mendengar langkah kaki menuju kamarnya. Dengan cepat Luna keluar dan membilas tubuhnya,  bertanya-tanya apakah itu Julian.

"Loh Luna kamu mandi? dinihari? "

"Iya"

"Julian mana"

"Di kantor Ma, katanya lembur"

"Loh kata siapa, Mama baru tau. Nggak ada yang lembur malam ini di kantor loh. Kalian baik-baik aja kan? "

Mendengar bahwa dikantor tidak ada lembur membuat keraguan Luna semakin meningkat pada Julian. Pikiran tentang pengkhianatan mulai muncul di benaknya.

"Kayaknya mas Julian lembur kerja bukan di kantor Ma, mas Julian ada bilang dia sama teman-teman nya"

Luna memilih menyembunyikan semuanya. Entah apa tujuannya, tapi bagi Luna yang terpenting mertuanya itu tidak banyak beban pikiran.

"Oh ya udah. Mama ke kamar deh, ada oleh-oleh buat kamu di meja sama untuk Julian dari Mama"

"Terima kasih Ma"

Setelah mertuanya pergi, Luna dengan meraih ponselnya dan menghubungi Anna.

"Anna"

"Oh Luna, ada apa? "

"Anna, gue bingung hiks. Mas Julian seperti nya main belakang. Gue takut, dia satu-satunya orang  yang gue punya Na"

"Luna dengar gue, coba tenang. Semuanya akan baik-baik aja sekarang, percaya sama gue ok. Sebentar lagi Julian pasti pulang"

"Anna? darimana lo tau kalau Julian tidak ada dirumah sekarang. Gue belum ngasi tau lo atau lo tau Julian ada dimana? "

Luna yang mendengar perkataan Anna sedikit menaruh curiga. Curiga bahwa bahwa mungkin saja Julian ada bersama Anna. Tapi Luna buru-buru me epis pikiran nya itu.

Sementara Anna diseberang telpon itu tampak terdiam beberapa saat. Hal itu akhirnya sukses menimbulkan kecurigaan Luna pada Anna.

"Anna?  halo? Anna?"

tut....

Luna melempar ponselnya diatas ranjang dan kembali menangisi nasibnya itu, hingga ponselnya berdering. Dengan cepat Luna mengangkat panggilan itu dan disana terpampang wajah Julian. Keduanya melakukan panggilan video.

"Luna maaf baru ngabarin, ketiduran. Aku ada sama Jeff, iyakan kan jeff"

Benar saja, disamping Julian ada Jeffry yang tengah melambaikan tangan pada Luna bermaksud menyapa.
Melihat itu Luna merasa lega, ternyata pikiran negatifnya tidak benar tapi firasat nya tetap mengatakan bahwa Julian berbohong.

                                   ....

LUNA&ANNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang