Semoga sukaa 😇
...
Luna yang memang membawa mobilnya tanpa sopirnya itu pergi dengan kencang meninggalkan area pusat perbelanjaan. Air matanya sama seperti tadi tidak berhenti mengalir. Emosinya masih memenuhi dadanya, ia melaju membelah jalanan yang sudah gelap itu sambil berteriak menangis tersedu-sedu. Tujuannya satu untuk menenangkan diri.
Luna sampai di tujuannya. Dirinya terkejut saat melihat Abram ada disana. Abram merentangkan tangannya dan Lima berlari memeluknya. Tangis histerisnya kembali pecah.
"Aku tau kau akan kesini. Tadi ada Anna menghubungi ku. Dia menceritakan semuanya. Tidak apa-apa, menangis lah dulu nanti tenangkan dirimu dengan perlahan"
Usai mengatakan itu Abram terus mengelus pundak Luna yang bergetar karena isakannya.
"Jangan menyebut nama wanita itu. Aku membencinya"
Mendengar itu Abram hanya menghela nafas. Untuk sekarang ia hanya berpikir untuk mengikuti ego Luna.
Luna kemudian melepaskan pelukannya. Ia berlari menuju batas tebing itu dan menjerit sejadi-jadinya sambil memukuli kepalanya.
"LUNA!"
Abram membentak Luna.
Luna yang mendengar itu kembali terluka. Dia ingat sudah beberapa kali orang membentaknya, Jeffry, Julian dan Abram. Kenapa tidak ada yang memahami emosinya dengan benar. Kenapa tidak ada yang bisa mengerti bahwa dirinya begitu kesakitan. Orang-orang disekelilingnya seolah-olah lebih memihak Anna dibanding dirinya yang korban.
"Pergi. PERGI, BIARKAN AKU SENDIRI!"
"Tidak. Ini sudah malam dan disini tempat cukup terpencil"
"PERGIIIII!"
Luna kembali menjabak rambutnya. Bingung melampiaskan emosinya kemana. Abram yang melihat itu menarik nafasnya dalam kemudian pergi sambil mengepalkan tangannya.
Sepeninggal Abram, Luna kembali berteriak-teriak dan menangis dengan histeris. Siapa saja yang mendengar jeritan memilukan itu mungkin akan ikut menangis.
.
.
.
Sementara itu di rumah Julian, Ibunya memarahi Julian habis-habisan. Sementara Jeffry yang ada disitu setelah mengantar Anna berusaha menenangkan situasi.
"Tante udah, tenang ya. Julian juga banyak pikiran, pikirkan kesehatan tante"
"Tante nggak bisa tenang Jeff. Kamu dengar kan suara Jayandra nangis, jam segini biasanya dia udah tidur. Ini karena nggak ada Luna makanya belum tidur. Jayandra tidak berhenti nangis sedari tadi. Tante stress, kasian Jayandra"
Julian kemudian menghampiri Jayandra dan menenangkan anaknya itu.
"Ini sudah jam sebelas malam Jeff, Luna belum pulang"
"Tante tenang ya, sebentar lagi Luna pasti pulang"
Kemudian ponsel Jeffry berdering. Jeffry mengintip siapa yang meneleponnya. Setelah tau siapa, Jeffry izin keluar dari rumah itu untuk mengangkat telponnya.
"Jeff, Luna udah ada dirumah? Dia gimana sekarang, udah tenang? "
"Luna belum balik Na. Terakhir aku nyuruh Abram untuk jaga Luna. Tapi Abram udah berangkat ke luar kota untuk kerjaan. Terakhir Abram ngasi tau kalau Luna masih perlu menenangkan diri dulu katanya"
"Jeff perasaan aku nggak enak. Aku khwatir sama Luna, apa aku susulin cari Luna ya"
"Jangan Na, udah tengah malam. Nanti terjadi sesuatu makin repot lagi. Disini aku masih nenangin Julian dan Ibunya. Aku tutup ya Na"
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA&ANNA
RomancePerasaan itu tidak akan pernah sama selamanya. Kadang-kadang apa yang terjadi sangat sulit dikendalikan dan tidak selalu sesuai rencana.
