Luna terkejut melihat kedatangan Julian setelah menghilang seharian penuh. Luna berlari dan memeluk Julian dengan tangis yang pecah. Luna mengusap-usap bahu Julian sambil berkata "Mas maafkan aku. Aku terpaksa melakukan semuanya".
Julian membalas pelukan Luna dan dirinya menangis seperti anak kecil. "Aku menyakiti mu Luna"
"Tidak mas tidak. Ini adalah keingianan ku, aku tidak apa-apa. Ayo bersihkan tubuhmu aku akan menyiapkan makan untuk mu"
Julian melepaskan pelukannya kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Lagi-lagi Julian melihat dadanya dan punggungnya yang di cakar oleh Anna. Julian mengguyur dirinya dengan air dingin. Kejadian semalam masih membayangi ingatan Julian.
"Sial, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan pikiranku"
Julian keluar dari kamar mandi dan menyusul Luna ke dapur.
"Julian kau kemana saja. Ibu baru melihatmu"
"Julian lembur dikantor Ma"
"Bukankah semalam adalah aniversary kalian"
"Ya, setelah merayakannya aku kembali ke kantor"
"Mas ini makanlah"
Luna menemani Julian yang tengah makan bersama Ibunya.
"Luna kau tidak makan? bayi dalam perutmu jangan dibiarkan kelaparan"
"Iya bu. Aku akan ikut makan"
"Ibu besok aku dan Luna akan pergi berlibur ke Bali. Seminggu"
"Mas?''
"Baguslah Julian. Akhirnya kau mau meninggalkan kantor juga"
"Seminggu bukankah lama Mas"
"Lunaa, ini bagus jarang-jarang Julian mau liburan kan. Ajak bayi mu bersenang-senang itu juga baik untuk mu. Perusahaan biar ayah yang menanganinya untuk sementara"
Luna menyetujui perkataan ibunya. Luna juga berpikir ini kesempatan yang baik untuk dirinya memperbaiki perasaannya. Berbeda dengan Julian menahan emosinya menggenggam erat sendok ditangannya. Kejadian semalam benar-benar mengganggu pikirannya.
.
.
.
Dirumah sederhana yang sepi itu Anna merebahkan tubuhnya diatas kasur. Semua tubuhnya sakit, tangisnya kembali pecah mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
Anna meraih ponselnya dan tidak melihat satu notifikasi pun. Padahal ia sangat berharap Luna akan menghubunginya tapi sayangnya itu tidak terjadi. Anna sangat berharap bahwa Luna akan menenangkannya dan berkata "Anna semua akan baik-baik saja".
"Luna apa yang harus aku lakukan sekarang. Kenapa kau tidak menghubungiku? bagaimana jika aku mengandung anak mas Julian. Apa yang harus aku lakukan, bagaimana caranya aku menghidupinya, kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku Luna. Hidupku sudah hancur".
Anna memukuli dirinya dan perutnya berkali-kali.
"Aku benci semua ini. Andai saja aku tidak mengikuti apa yang dikatakan Luna. Dokter Rati benar aku adalah pihak yang dirugikan"
Anna sadar bagaimana pun ia bukanlah sosok yang dewasa dan bijaksana. Kejadian yang menimpanya benar-benar membuatnya kehilangan akal.
Anna meraih ponselnya kemudian menghubungi nomor dokter Rati. Mata Anna berkaca-kaca saat dokter Rati menjawab panggilannya.
"Halo Anna ada apa?"
Anna menceritakan kejadian yang menimpanya dan rencana Luna. Hal itu membuat dokter Rati terkejut dan merasa iba pada Anna.
"Anna beritahu aku alamat rumahmu. Aku akan datang sepuluh menit lagi"
Anna dengan cepat memebersihkan tubuhnya dan menggunakan baju rapi. Anna juga perlahan-lahan berjalan menuju dapurnya memasak air untuk membuatkan dokter Rati segeles minuman hangat. Tidak lama dari itu Anna mendengar anjingnya Moli menggongong. Anna mengintip sebentar ternyata benar yang datang adalah dokter Rati.
"Anna ini obat untukmu, itu fungsinya untuk mengatasi nyeri dan lainnya"
"Dokter duduklah, aku sudah sedikit baik-baik saja. Terim kasih sudah sangat peduli padaku"
"Aku merasa bersalah menyarankan hal ini pada Luna jika ia ingin memiliki anak. Tapi memang cara inilah yang harus dilakukan.Aku tidak menduga bahwa Luna akan mengambil jalan pintas secepat ini tanpa membicarakannya dengan Julian. Sekarang Julian membencimu, dia sangat marah padamu. Aku sudah mengatakan padanya berkali-kali tadi melalui ponsel bahwa kau tidak pantas untuk disalahkan dalam hal ini"
"Dokter aku tidak tahu lagi harus melakukan apa. Bagaimana jika aku mengandung dan mas Julian tidak mau peduli. Apa yang harus aku lakukan, Luna belum menghubungi sampai saat ini"
"Tenanglah Anna, aku rasa Luna tengah menunggu waktu yang tepat. Saat ini Luna pasti tengah menenangkan Julian. Luna pasti akan menghubungimu, tidak mungkin ia mengabaikanmu. Anak itu adalah keinginannya"
Anna sedikit tenang mendengar perkataan dokter Rati. Ia berharap Luna akan segera menghubunginya.
"Anna, Julian sangat mencintai Luna. Saat ia tahu kejadian bahwa yang menghabiskan waktu dengannya dihotel adalah dirimu rasa bersalahnya pada Luna sangat besar. Padahal aku sudah mengatakan bahwa semuanya atas rencana Luna. Tapi Julian tetap saja pada pendiriannya"
"Kau benar dokter Rati, pada akhirnya aku akan menjadi pihak yang sangat dirugikan. Setelah sembilan bulan mungkin jika aku benar-benar mengandung anak ini akan aku serahkan pada Luna. Aku akan kehilangan anakku. Entah bagaimana aku depannya"
Anna menarik nafasnya berkali-kali.
"Anna sudahlah jangan terlalu kau pikirkan hal ini. Fokus saja pada dirimu terlebih dahulu, besok kau pasti sudah masuk kerja kan?''
"Iya, aku hari ini sudah mengambil cuti"
"Baiklah, kalau begitu aku tidak bisa lama Anna. Aku harus kembali ke rumah sakit, jaga dirimu dengan baik. Jika kau butuh teman datanglah ke rumah sakit menemui ku"
Anna berdiri dan memeluk dokter Rati. 'Terima kasih dokter, kau sangat baik padaku padahal kita baru saling kenal"
"Anna aku sudah menganggap mu sahabat ku juga sama seperti Julian. Kau tahu Anna mengapa aku bertanya berkali-kali untuk menyetujui rencana menjadi ibu pengganti? karena bagi ku kau ini gadis yang baik dan polos, kau juga cantik dan pintar. Aku rasa kau berhak mendapatkan pria yang baik dan ibu yang baik untuk anakmu bukan terjebak dalam keluarga Julian".
"Dokter andai saja aku lebih bijak hal ini mungkin tidak terjadi"
"Sudahlah jangan dipikirkan, istirahatlah Anna. Sampai jumpa lagi nanti"
.
.
.
Julian bersama Luna menuju bandara untuk pergi berlibur ke Bali. Keduanya tampak bahagia dengan bergandengan tangan.
"Mas aku mencemaskan mu. Kau baik-baik saja kan?''
"Luna tolong jangan membahasnya. Aku ingin melupakan kejadian itu dan nikmati saja liburan kita seminggu ini''
Luna terdiam merasa bersalah.
"Baiklah, ayo kita nikmati liburan kita selama satu minggu ini mas"
...
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA&ANNA
RomancePerasaan itu tidak akan pernah sama selamanya. Kadang-kadang apa yang terjadi sangat sulit dikendalikan dan tidak selalu sesuai rencana.
