24. Yang seharusnya terjadi

529 74 22
                                        

Selamat berbuka dan selamat menunaikan ibadah puasa teman-teman🙏 😇...

Untuk yang Katolik juga selamat menjalankan pantang dan puasa dimasa pertobatan ini🙏😇..

...
Anna menghela nafasnya setelah kakinya benar-benar keluar dari rumah putih yang penuh kenangan itu.

Sambil menatap rumah itu Anna berkata "Kalau masih ada kesempatan, sampai ketemu nanti"

Dengan Arjuna dalam gendongannya, Anna kembali menoleh saat mendengar bunyi palu tukang yang mulai merenovasi rumah itu.

"Kak ini saya antar kemana ya" Sopir taksi yang baru selesai memasukkan tas Anna dalam bagasi bertanya

"Saya kurang tau Pak, tapi kalau bapak tau ada tempat penginapan yang murah boleh kasi tau saya"

"Waduh, Kakak lagi banyak masalah ya. Saya liat-liat kayaknya Kakak bukan dari orang susah kayak saya. Rumah Kakak ini aja mewah, ini komplek orang kaya"

"Bukan rumah saya Pak, kemarin kebetulan numpang"

"Kasian, mana ada adik bayi lagi. Ada sih Kak penginapan yang murah, tapi jauh dari pusat kota"

"Serius Pak? Nggak apa-apa antar saya ke sana ya"

Setelah mengatakan itu, taksi itu melaju dengan pelan seolah-olah membiarkan Anna mengucapkan kata selamat tinggal pada setiap kenangan yang mungkin tidak akan pernah bisa ia ulang. Air mata Anna jatuh lagi dan itu mengenai kening Arjuna yang ada dalam pelukannya.

"Maaf ya, Mama nggak sengaja"

Arjuna yang masih lima bulan itu mengangkat tangannya meraih rambut panjang Anna. Tangan mungil itu menggenggamnya pelan.

Hampir empat puluh lima menit, akhirnya Anna sampai pada bangunan tua yang jauh dari pusat kota itu. Bahkan suasananya seperti didalam pedesaan.

"Kakak liat bangunannya kan? Serius nggak apa-apa kalau disini?" Sopir taksir itu memastikan Anna

"Nggak apa-apa, ini cukup"

Kemudian Anna membayar sopir taksi itu dan masuk membawa kopernya beserta tasnya, agak kerepotan hingga seorang wanita paruh baya menawarkan diri untuk membantunya.

"Terima kasih Bu" Ucap Anna pada wanita paruh baya itu

Anna kemudian menemui pemilik penginapan itu dan menyewa satu kamar, beruntung uangnya masih cukup. Anna menghela nafasnya saat uang yang tersisa dalam tasnya itu hanya mampu membuatnya bertahan bersama Arjuna mungkin tiga hari.

Anna kemudian memasuki kamar yang disewanya itu. Anna menghela nafasnya melihat keadaan kamar itu, pantas saja sangat murah keadaan kamar itu saja sudah lapuk.

"Maaf ya Arjuna, terpaksa kita ditempat ini. Tapi Mama janji, setelah dapat kerja kita akan segera pindah"

Anna tidak berani meletakkan tubuh Arjuna diatas alas tempat tidur itu. Maka dengan kesusahan Anna mengganti semua alas tempat tidur disana dengan Arjuna dalam gendongannya. Beruntung ia membawa semua perlengkapan tidurnya.

Tidak terasa hari sudah gelap, Anna belum mengisi perutnya sejak tadi siang. Sekarang ia mulai merasa perutnya melilit. Anna berjalan meraih tasnya di sudut kamar itu kemudian kembali menghitung uang yang tersisa.

"Kalau aku beli makan sekarang maka tidak akan cukup untuk beli kebutuhan Arjuna besok atau lusa. Ini hanya cukup untuk Arjuna. Kalau uang ini habis aku tidak bisa ke kota menemui Julian"

Merasa putus asa Anna menangis dengan suara pelan takut jika Arjuna terbangun. Tatapannya kosong melihat lampu redup di kamar itu.

"Aku tidak kuat" Ucap Anna pelan sambil membekap mulutnya. Lelah menangis Anna merebahkan tubuhnya di samping Arjuna, tidak lama matanya yang masih berair itu terlelap dalam keadaan lapar.

Setelah beberapa jam berlalu, sinar matahari menyinari Anna dan Arjuna dibalik sela-sela jendela. Anna membuka matanya dan melihat Arjuna yang rupanya sudah terbangun lebih dulu, Anna tersenyum saat Arjuna tersenyum padanya seolah-olah Arjuna memang menunggunya untuk terbangun.

.
.
.

Luna tengah menyantap sarapannya di pinggir pantai. Disebelahnya ada Julian yang bermain bersama Jayandra.

Luna menatap sendu Jayandra, ia mengingat Arjuna. Anak malang itu tidak seharusnya berada dalam situasi sekarang. Apalagi setelah Luna  tau bahwa Julian tidak lagi memasok semua kebutuhan Anna dan Arjuna, itu Julian lakukan demi mengembalikan kepercayaan Luna padanya.

"Mas kamu bahagia kan sekarang" Luna berkata

"Iya, tentu bahagia sama kalian" Julian menatap Luna dan kembali menatap Jayandra

"Syukurlah"

"Kenapa?" Tanya Julian

"Bukan apa-apa, aku sedikit lega. Karena kalau mas Julian tidak bahagia aku juga sulit untuk bahagia"

"Udah jangan dipikirin, aku bahagia sama kalian sekarang" jawab Julian

Mata Julian kemudian fokus menatap gelombang ombak yang berderu deras. Seolah-olah marah padanya, Julian kemudian memejamkan mata dan mengalihkan pandangannya.

"Semuanya sekarang berjalan sedikit berat. Tapi aku yakin kedepannya kita akan baik-baik saja"  Ucap Luna sambil meraih tangan Julian dan menggenggamnya

"Benar, semuanya aku harap baik-baik saja sekarang".

" Kita tidak jadi menginap kan? Jadi jam berapa nanti kita pulang mas?"

"Sebentar lagi, ayo siap-siap. Kau sudah selesai makan kan?"

Luna mengangguk kemudian meraih Jayandra dari pelukan Julian.

"Aku harus mengganti baju didalam" Ucap Julian kemudian pergi meninggalkan Luna dan Jayandra di gazebo pinggir pantai itu

Julian mengganti bajunya dan membuka ponselnya. Julian membuka salah satu pesan dari tukang kepercayaannya.

Julian bisa melihat rumah itu benar-benar sudah kosong, artinya Anna dan Arjuna sudah pergi dari rumah itu. Kemudian Julian melihat foto terakhir, itu adalah foto Anna dan Arjuna yang hendak keluar dari rumah, dengan tas dan koper besar disekelilingnya.

"Maaf"

Hanya itu yang Julian katakan saat menatap foto itu, kemudian segera pergi menuju Luna dan Jayandra.

.
.
.

Sudah seminggu berlalu, dalam keadaan yang serba kekurangan Anna nekat pergi meninggalkan penginapan itu. Dirinya tidak mendapatkan kerja apapun, terlebih lagi itu adalah lokasi yang jauh dari kota, sangat sulit mendapatkan lowongan pekerjaan.

Dengan penampilan yang sedikit berantakan dan rambut panjang yang kusam dan kusut, Anna berhenti di sebuah halte  untuk menunggu taksi ataupun bus yang mengarah ke kota. Ia tidak lagi memiliki ponsel, karena sudah dijualnya untuk kebutuhan hidupnya selama seminggu dan untuk ongkos menuju kota.

Anna mengelus tangan mungil Arjuna, beruntung anaknya itu tidak kekurangan gizi dan selalu sehat.

Anna terus mencium wajah Arjuna berkali-kali dan mengatakan maaf terus menerus.

"Jika nanti kau sudah tumbuh besar, tolong jangan membenci Mama. Kau harus hidup dengan baik dan layak, dan sayangnya itu bukan bersama Mama. Dengar Arjuna, Mama sangat mencintai mu dan menyanyangi mu. Jangan jadi anak yang pemurung dan tumbuhlah jadi anak yang ceria. Kau mengertikan?"

Anna kembali memeluk Arjuna dan mencium wajahnya berkali-kali.

"Demi dirimu akan aku lakukan apapun termasuk jika harus hidup berpisah denganmu. Aku akan sangat merindukan mu nanti"

Anna mendongak saat ada seseorang yang menyentuh bahunya pelan. 

"Kemarin Luna, sekarang?. Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak terjebak oleh Julian Na. Ayo ikut, mau ke kota kan?"

"Kau tidak marah padaku? aku menyakiti sahabat baikmu"

"Jika aku ikut marah saat ini bukankah akan sangat terlihat jahat? "

Anna terdiam, kemudian mengikuti langkah Abram dan masuk ke dalam mobil.

...

LUNA&ANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang