Soobin terbangun dari tidurnya.
"ARGHHH!!!! BANGSAT!!! KENAPA GUA MIMPI TIDUR BARENG DIA?!?!?"-Soobin.
"Anjing anjing anjing"-Soobin.
Tiba-tiba Yeonjun keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Penampilannya sama persis dengan mimpinya Soobin semalam.
"Sial gua liat kek gitu jadi keinget mimpi semalam"-batinSoobin
"Kenapa? Kok teriak?"-Yeonjun.
"Gapapa, cuma mimpi buruk"-Soobin.
"Makanya kalo disuruh mandi tuh nurut!"-Yeonjun.
"Dih siapa lu nyuruh gua nurut sama lu? Cha Joowan lu?"-Soobin berkata sambil membanting pintu kamar mandi.
Yeonjun tersenyum melihat Soobin yang sepertinya kesal padanya.
"Ternyata dia ga nyadar kalau semalam gua tidur di sebelahnya"-Yeonjun.
*******
Soobin masih kesal dengan mimpinya semalam. Sebenarnya bukan mimpi, Yeonjun memang tidur disebelahnya semalam.
"Aku harus duduk di sebelahnya, menyebalkan sekali"-Soobin sambil menaruh pantatnya di atas kursinya.
Selama pelajaran, kepala Yeonjun terus terjatuh jatuh. Ia menahan matanya yang sudah 5 watt. Ia berusaha agar Soobin tidak mengetahui kejadian semalam.
"Ni bocah kenapa si?"-Soobin.
Akhirnya Yeonjun menyerah dengan matanya. Ia akhirnya memilih untuk tidur. Guru yang melihatnya mengabaikannya mengingat ia pemilik sekolah. Daripada harus dipecat, lebih baik biarkan saja Yeonjun tidur.
*********
16.00
Yeonjun terbangun dari tidurnya setelah seharian tidur di kelas.
"Duh leher sakit banget"-Yeonjun berkata pelan.
"Makanya jadi orang jangan pelor"-Soobin sambil menggendong tasnya dan pergi meninggalkan Yeonjun.
Sebelum ia pergi ke asrama, ia melihat dulu ponselnya. Ternyata ayahnya mengirimkan pesan untuk segera bertemu dengannya di depan lobby.
"semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk ini"-Soobin.
Soobin berharap semoga ayahnya memberikan kabar bahwa orang tuanya tidak jadi bercerai, dan ia bisa kembali ke rumah dan tidak tinggal di asrama lagi.
"Appa"-Soobin
"Oh Soobin, appa kesini ga akan lama, karena appa mau cepat-cepat ke bandara"-Appanya Soobin
"Yaudah cepat mau ngomong apa? Aku juga ga punya banyak waktu"-Soobin.
"Appa sama eomma sudah bercerai, dan hak asuh kamu Appa alihkan ke eomma kamu. Tapi tenang, uang akan Appa kasih terus ke kamu. Kamu juga bakal dapet warisan dari Appa"-Appanya Soobin.
"Soobin ga butuh uang ataupun warisan, Soobin cuma mau kalian bersatu lagi"-Soobin
"Jangan terlalu sering nonton drama Soobin, kamu masih punya eomma. Itupun kalau eomma kamu masih mau mengakui kamu"-appanya Soobin.
"Appa jahat! Appa selingkuh dari eomma"-Soobin.
"Eomma kamu juga selingkuh! Jadi jangan salahkan appa! Salahkan eomma mu juga"-Appanya Soobin.
Soobin diam. Dadanya terasa sesak. Ia menahan isak tangisnya itu.
"Appa harus pergi, appa sudah kirimkan uang untuk kebutuhan kamu disini"-Appanya Soobin sambil menaiki mobilnya dan pergi.
Tak lama kemudian telpon Soobin berdering. Dengan tangan yang masih bergetar, Soobin mengangkat telponnya.
"Eomma"-Soobin.
"Soobin, eomma ga mau ambil hak asuh kamu ya! Eomma ga mau suami baru eomma tau kalau kamu anak eomma! Pokoknya eomma ga mau urus kamu! Kamu lari saja ke appamu!!"-Eommanya Soobin.
"Tapi eomma, kalau bukan ke eomma Soobin harus kemana lagi?"-Soobin.
"Kamu tinggal aja sama Appa kamu! Udah ya, eomma sibuk"-Eommanya Soobin sambil mematikan telponnya.
"Eo. . . Eomma"-Soobin.
Yeonjun memperhatikan Soobin dari kejauhan sedari tadi. Ia tidak menyangka kalau ia memiliki masalah keluarga yang cukup kompleks.
"Ternyata Soobin sama parahnya denganku"-Yeonjun.
Soobin berlari dari lobby. Yeonjun mengikuti Soobin dari belakang. Yeonjun sebenarnya tidak peduli dengan pertemuan Soobin dan ayahnya itu dan ia berniat pergi ke asrama untuk melanjutkan tidurnya, namun setelah mendengar percakapannya, Yeonjun memperhatikan Soobin karena khawatir.
Kali ini Yeonjun benar-benar khawatir. Pasalnya Soobin langsung berlari ke rooftop.
"Bin, jangan mati dulu plis"-Yeonjun.
Yeonjun memperhatikan Soobin dari kejauhan. Ia melihat Soobin yang menangis terisak disana.
"AAAARGGHHHH!!!"-Soobin berteriak keras disana.
Yeonjun berlari menghampiri Soobin. Ia benar-benar khawatir kali ini.
"Soobin"-Yeonjun.
"DUNIA GA ADIL BUAT GUA!!!!"-Soobin.
"Soobin"-Yeonjun menepuk pundak Soobin.
"KENAPA GUA GA MATI AJA? GUA UDAH GA PUNYA SIAPA SIAPA!!"-Soobin.
Soobin yang tadinya bersiap untuk melompat ditarik oleh Yeonjun lalu Yeonjun mendekap tubuhnya dengan kuat.
"Jangan bin"-Yeonjun.
"GUA CAPE!!"-Soobin sambil memukul mukul kepalanya.
"Jangan pukul kepala kamu, Pukul aja aku"-Yeonjun.
"Aku cape Yeonjun, setiap hari aku denger mereka bertengkar, sekarang tidak ada yang mau anggap aku sebagai anak mereka, aku salah apa Yeonjun? Aku punya dosa apa?"-Soobin sambil memukul mukul dadanya.
"Jangan dipukul Soobin, itu sakit"-Yeonjun sambil menahan tangan Soobin.
"Aku ga punya siapa siapa disini, jadi lebih baik aku ga ada kan?"-Soobin
"Soobin"-Yeonjun sambil memeluk Soobin.
"Kamu ga boleh ngomong kayak gitu! Kamu jangan berpikir kamu ga punya siapa siapa. Ada aku. Kamu punya aku"-Yeonjun sambil mengelus kepala Soobin.
"Yeonjun, dada aku sakit"-Soobin.
Soobin terlalu lelah untuk menangis. Ia menangis terisak isak sehingga dadanya sakit.
"Kepala aku sakit"-Soobin.
Yeonjun menjauhkan Soobin dari pelukannya dan menatap wajah Soobin. Wajahnya sudah sangat pucat. Bibirnya juga sudah tidak merah lagi.
"Bin, kamu kenapa?"-Yeonjun.
Soobin tiba-tiba pingsan di pelukannya. Ia terlalu lelah menangis. Dia sudah banyak memangis sebelum ke asrama.
"Soobin!"-Yeonjun.
Yeonjun meraba dahi Soobin. Ternyata Soobin demam.
"Pasti kamu stress sampai demam begini bin"-Yeonjun.
Yeonjun menggendong Soobin di punggungnya.
"Sabar ya bin, kita ke asrama sekarang"-Yeonjun.
Yeonjun berlari menuju asrama dengan Soobin di punggungnya. Baru kali ini ia merasa khawatir dengan seseorang. Baru kali ini ia menyentuh seseorang. Apakah sifat dinginnya akan meleleh dengan adanya Soobin?
KAMU SEDANG MEMBACA
DORM
Hayran KurguSoobin tiba-tiba dimasukkan ke dalam asrama karena konflik keluarganya. Soobin sekamar bersama dengan Yeonjun yang terkenal dingin, jutek, dan sombong karena ia tidak mau disentuh ataupun membuka suaranya untuk siapapun kecuali untuk pidato ataupun...
